
"Pagi Ara yang cantik nya ngalahin Selena gomez," Tiara memutae bola matanya dengan malas. Fauzan kekasihnya selalu lebay jika sedang berduaan.
"Kak Fau mau ngapain? Kan aku sip malem," Fauzan menepuk jidatnya lalu detik kemudian pria itu langsung cekikikan.
"Aku mau lamar dan nikahin kamu minggu depan," Tiara menbulatkan netranya mendengar ucapan Fauzan membuat jantungnya berdetak tak karuan.
Minggu depan adalah aniverseri pernikahaan orangtua nya dan minggu depan juga adalah aniverseri pernikahaan kakaknya yang ke 2 tahun.
"Enggak serius kan?" tanya Tiara dan Fauzan langsung menoyornya.
"Salah dong nanya nya harusnya gini 'enggak bohong kan?' Bukan 'Enggak serius kan?'"
"Khehehe.... Tapi itu serius kan enggak boong? Soalnya mbak Nay mau bikin repsepsi sekalian rayain ulang tahun pernikahaannya," Fauzan mengeleng pertanda ucapannya enggak bohong.
"Tapi kan kita belum persiapan kak, lagian aku kan pernah bilang kalau aku pengen S2 dulu ke Jerman aku pengen jadi Dokter,"
"Tenang Ara aku udah siapin semuanya dan prihal itu aku udah omongin itu sama Bunda dan Radit,"
"Tap—"
"Udah ya.. aku tinggal dapetin restu kakak sama Ayah kamu,"
Tiara terdiam. Apa Ayah? Memangnya Ayahnya akan peduli dengan dirinya? tapi...Yasudahlah semoga saja ada keajaiban tuhan agar Ayahnya menerima Tiara.
"Iyah aku serahin aja semuanya sama kak Fau,"
____***____
"Mereka sudah bebas," ucapan Wendy membuat Radit langsung terdiam. Radit tau apa yang dimaksud oleh Wendy begitupun dengan Nay.
"Mereka dan keluarga Mahendera lainnya menuju kemari," Radit menghela nafasnya gusar. Dia tidak takut jika mereka mengincar dirinya namun Radit takut jika mereka malah mengincar Nay dan keluarganya.
"Biarkan saja kita lihat apa yang mereka ingin kan," kata Radit.
Nay menyenderkan kepalanya dibahu Radit lalu menautkan tangannya dengan Radit. Dia takut mereka berniat jahat kepada Suaminya dan keluarganya.
"Mbak ada tamu tuh," suara Tiara mampu membuat jantung Nay berdetak lebih cepat ketakutan akan kejadian saat mereka menyakiti Radit dengan hal mistis.
"Suruh masuk aja Ra," ucap Prita lalu menaruh beberapa cemilan ringan dan minuman.
"Jangan terlalu capek," ucap Wendy dan hanya dibakas anggukkan kecil oleh Prita. Nay dan Radit langsung saling pandang.
Bibir Nay sudah gatal untuk menanyakan hubungan Ayah dan Bundanya namun saat ini belum waktunya.
Nay mengeratkan tautan tangannya kepada Radit saat ketiga wajah yang membuat suaminya menderita kini ada dihadapannya.
Dan ada dua pasangan paruh baya yang berjalan mendahulu ketiga penjahat itu.
"Mas..." lirih Nay saat Radit berdiri begitupun dengan kedua orangtua nya untuk menyambut kedatang keluarga itu.
"Percaya sama Mas dan Ayah ya. Enggak akan terjadi apa-apa,"bisik Radit lalu mengecup sekilas bibir ranum istrinya.
"Selamat siang Tuan Handoko," sapa seorang paruh baya dan sudah dipastikan itu adalah Ayah Radit.
"Selamat siang Tuan Mahendera, silahkan duduk," balas Wendy.
"Maaf kedatangan kami menganggu weekend anda namun saya dan keluarga ingin meminta anda mendatang tangani surat ini," dia menyondorkan sebuah map.
Nay meremas tangan Radit saat tatapan Cahya—kakak Radit tertuju kepada mereka, tatapan yang sulit diartikan dan sulit terbaca.
Namun yang membuat Nay melongo adalah Rama, Cahya, dan Dini serempak tiba-tiba bersujud dibawah kaki Radit dan Nay.
✨✨✨✨✨
Bersambung....