
Tiara menutup mulutnya saat mendengar suara yang pernah ia dengar di film dewasa. Suara erangan dan suara decitan ranjang yang perempuan itu dengar saat ini.
'Mbak!!! Ara enggak mau punya adik lagi,' batin Tiara lalu berlari kearah kamar Nay dan Radit
____***____
"Terima kasih," Radit mencium kening Nay lalu merebahkan dirinya disisi istrinya menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
"Udah tugasnya Nay melayani Mas," Nay mengusap rahang Radit lalu tanganya turun mengusap leher suaminya itu.
Perempuan itu tersenyum geli saat melihat bercak kemerahan di leher suaminya, Itu pasti ulahnya dan juga dibahu Radit ada bekas cakaran sudah bisa dipastikan itu ulahnya juga.
Ya, tadi saat Nay baru saja bangun dan Radit—suaminya langsung meminta hak nya Nay tidak bisa menolak karena itu tugasnya untuk melayani suaminya walau tubuhnya masih lemas.
"Mas,"
"Hmmm,"
"Tadi gimana?" Radit membuka matanya.
"Soal keluarga itu?" Nay mengangguk lalu mendekatkan dirinya kepada Radit, "Prihal itu, Saya tidak tau karena kan Saya menemani kamu menangis," Ujarnya.
"Keputusan Nay udah bulat enggak mau mendatangani surat itu karena jika mereka bebas nanti pasti akan melakukan kejahatan lainnya," Radit mengikat rambut Nay dengan asal agar rambut itu tidak menghalangi dia menatap wajah cantik istrinya.
"Saya tidak akan membatah keputusan kamu,"
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Ishh... Kenapa Mas enggak bantah, mereka kan keluarga Mas juga,"
Radit menghela nafasnya, "Mungkin jika dulu sebelum mereka membuang saya kepada Ayah 'iya mereka keluarga saya namun untuk saat ini mungkin selamanya Saya akan menganggap mereka orang-orang jahat," tangan Radit sudah menjalar meraba tubuh polos istrinya.
"Eughhh... Mas," lenguh Nay saat tangan kekar suaminya ******* dua gundukkan miliknya dengan sedikit kasar.
"Boleh ya?"
"Kan tadi udah."
"Nolak dosa loh," Nay hanya memutar bola matanya saat mendengar itu.
"MASSSSS!!!!" teriak Nay karena tanpa aba-aba Radit langsung menyatukan mereka. Kali ini dia hanya bisa pasrah apa lagi kini tangan Radit terus ******* dan ******* dua gundukkan miliknya sedikit kasar.
Hentakkan itu yang membuat tubuhnya mengeliat tak karuan karena ******** tertahan.
_____***_____
"Hadeh! Gini amat nasib yang belum halal," Tiara melirik jam didinding. Jam menunjukkan pukul 8 malam dan pantas saja kedua orangtua nya dan kakaknya melakukan 'itu.
Tringgg...
+62836262xxxx: Fauzan berada diclub dimabuk kamu bisa kesini?"
Tiara langsung menyambar tas dan jaketnya lalu berlari keluar menyetop taxi.
____***____
"Uhh... berat banget sih," Tiara menidurkan Fauzan diranjang kost'an nya.
Pesan singkat itu tidak bohong karena memang benar Fauzan mabuk berat diclub. Tiara sempat kesal karena beberapa perempuan pengoda mengerbuni Fauzan.
Perempuan itu mulai melepaskan sepatu, kaos kaki, dasi dan jas milik kekasihnya, membuka beberapa kancing kemeja kekasihnya lalu melongarkan ikat pinggang itu.
"Ck! kenapa harus mabuk-mabukkan sih,"decak Tiara lalu mulai membereskan baju-baju kotor milik kekasihnya.
Baru saja beberapa langkah tangan perempuan itu sudah ditarik hingga terjatuh diatas tubuh Fauzan.
"Kak Fau lepasin, Ara mau beres in—"
Kedua mata Tiara melotot saat Fauzan tiba-tiba saja ******* bibirnya dengan kasar.
Perempuan itu berontak namun kekuatannya tidak sepadan dengan Fauzan.
"Kak lepasin," Tiara mencoba mendorong tubuh Fauzan yang kini sudah menindihi tubuhnya.
"Kamu milikku malam ini," bisik Fauzan dengan suara berat lalu melepaskan pakaiannya dan pakaian Tiara dengan kasar tanpa melepaskan pangutan itu.
Tiara hanya bisa diam sembari menangis karena berontak pun sudah tidak akan bisa tenaganya sudah lelah saat membopong Fauzan ke kamar kost'an ini.
Perempuan itu lagi-lagi hanya diam kedua tangannya dicekal. Fauzan mulai mencoba menerbos dinding keperawanan kekasihnya dan saat darah itu mengalir di ****** Tiara yang menandakan perempua itu sudah tidak suci lagi. Tiara hanya menangis tanpa suara. Baru saja tadi dia mendengar langsung adegan *** itu dirumahnya namun kini dia yang mengalaminya langsung. Ini bukan keinginannya, tubuhnya pun tak merespon apapun saat ini dia hanya menangis. Dia diperkosa dan lucunya diperkosa oleh kekasihnya.
Ya walau sebentar lagi mereka akan menikah tapi Tiara tetap tidak mau melakukan itu. Dia takut jika hal ini mengecewakan Bunda dan kakaknya.
"Ahh..." desah Fauzan dan Tiara lagi-lagi hanya diam karena tubuhnya pun tak merespon apapun tanaganya sudah habis tak bisa berontak.
'Kamu jahat,'
✨✨✨✨✨
Bersambung....