
Wendy menatap kedua cucu perempuannya yang sedang asyik bermain. Hari ini memang sekolah Faura--anak Fauzan dan Tiara-- mengadakan kemah disalah satu hutan didaerah Bandung.
Faura dan Melody seperti sangat bebas saat berada dihutan yang asri ini, Wendy memang jarang memberikan izin cucu-cucunya bermain alam bebas bahkan cucu-cucunya juga jarang bermain ditempat kotor. Semuanya harus steril.
"Mas," Prita menepuk pundak suaminya dengan pelan, menyadarkan suaminya itu dari lamunan prihal cucu-cucunya.
Wendy menarik pinggang Prita agar lebih mendekat kearah nya. "Saya bahagia melihat mereka bahagia, tapi saya juga sedih karena Reymond masih belum mau berinteraksi dengan luar bahkan untuk berbicara saja Reymond jarang," ujar Wendy.
Prita menyadarkan kepalanya dibahu Wendy, dia juga sedih karena sikap Reymond yang selalu menanyakan perihal; kemana ayahnya dan kenapa tidak pernah pulang.
Jika ditanya mengapa sikap Reymond seperti itu, pasti anak itu akan menjawab; Aku ingin bertemu Daddy. Tidak akan jauh dari kata itu atau juga Reymond bisa mengatakan Aku rindu kepada Daddy.
"Apa kita harus memberi tau Radit jika dia dan Nay mempunyai anak kembar?"tanya Prita, dia menautkan tangannya dengan Wendy.
"Saya inginnya seperti itu namun kamu taukan kita semua tidak ada yang tau dimana Radit bahkan perusahaannya sudah bukan milik Radit," Jawab Wendy dengan nada beratnya, Radit sudah Wendy dan Prita anggap seperti putra mereka bukan menantu saja sama juga dengan Fauzan mereka menyayangi kedua laki-laki itu.
"Apa kita harus beri tahu Nay prihal Radit?"
Wendy mengeleng pelan. "Saya rasa Nay sudah tidak peduli lagi kepada Radit apalagi setelah apa yang dilakukan Radit; lebih memilih Veronika," ujar Wendy.
"Tapi kan kenyataannya tidak seperti itu, Mas.... " Bantah Prita, dia menatap wajah suaminya yang terlihat sendu dan meredup sejak mereka membicarakan Radit.
" Kita hanya mengikuti apa yang gariskan oleh Allah saja, skenario nya masih panjang untuk ini, mungkin ini tantangan cinta untuk Nay dan Radit." tutur Wendy, kedua kornea berwarna coklat terang itu terus mengawasi Faura dan Melody yang sedang bermain, berlari dan tertawa.
"Tapi Mas, Melody dan Reymond masih harus merasakan kasih sayang dari ayahnya,"
"Kita usaha saja untuk mencari Radit dan memberi tahu semuanya" ujar Wendy.
Prita menangkupkan wajah suaminya kedua bola matanya menatap dan meneliksik wajah suaminya yang sudah hampir menua.
"Jujur aku enggak nyangka jika Nay dan Radit akan merasakan apa yang kita rasakan dulu," wajah sendu Prita membuat Wendy sedikit tak nyaman. Dia yakin jika istrinya ini mengingat kembali prihal masalalu mereka.
"Saya malahan tidak menyangka dengan takdir tuhan yang sangat kejam kepada Nay dan Radit, baru saja saya melihat mereka bahagia setelah sebelumnya Nay harus berjuang menemani Radit yang gila lalu Nay yang harus menunggu Radit berobat setelah itu Nay yang harus kuat saat beragam cara orang luar menghancurkan rumah tangga nya," papar Wendy mengingat kembali perjuangan anak sulungnya demi rumah tangga yang pada akhirnya harus berpisah juga karena takdir.
******
"Mom, kenapa tidak ada foto Daddy," Reymond hanya tau jika ibu dan ayahnya masih bersatu--ayahnya sedang bekerja diluar pulau. Dia hanya tau jika ayahnya adalah seorang pesiar kapal. Reymond tidak tau jika ayah dan ibunya sudah bercerai, dan ayahnya bukan pesiar kapal seperti apa yang diceritakan oleh Ibunya dan Pamannya--Fauzan.
Reymond mendudukkan tubuhnya mungilnya diatas ranjang milik ibunya matanya menerawang setiap inci kamar Nay.
"Apa kamu ingin memakan sesuatu biar Mommy yang memasak?" Nay mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia sungguh malas jika harus membahas Radit atau masalalu nya.
Apalagi ini Reymond, pasti akan panjang. Reymond akan bertanya-tanya hingga anak itu merasa cukup dengan jawaban dari semua pertanyaannya.
"Mom, jangan mengalihkan pembicaraan,"ketus Reymond, pikiran anak berusia 4 tahun itu cukup dewasa untuk mengerti dengan semua ini.
"Mommy tidak mengalihkan pembicaraan, Mommy hanya tidak ingin kamu sakit kembali karena terlalu lelah apalagi kamu mempunyai riwayat maag, usia kamu masih kecil jika memiliki maag itu berubah menjadi akut," ujar Nay dengan lembut. Kaki Nay melangkah mendekati putranya.
"Aku ingin bertemu Daddy," renggek Reymond, dia menarik-narik ujung hijab Nay persis seperti Melody tadi. "kenapa aku tidak bisa bertemu Daddy, aku ingin bertemu Daddy,"
Reymond sudah terlihat akan menangis saat mengatakan itu terlihat jelas wajahnya yang memerah. " aku ingin bertemu Daddy," renggek Reymond.
Nay mengepalkan tangannya mencoba tidak marah didepan Reymond, dia tidak mau membahas Radit jika pada endingnya dia yang menangis sendiri tanpa sebab jika mengingat kembali pria itu.
Nay tidak mau terus-menerus terpuruk hanya karena pria bernama Radit.
"Aku ingin bertemu Daddy," renggek Reymond sudah menangis. Air mata anak itu entah kapan turunnya.
"Mom, aku ingin bertemu dengan Daddy. Kenapa Daddy tidak pernah pulang, mengapa aku tidak pernah melihat Daddy," Reymond terisak kecil, tangan mungilnya mengucek mata yang terus berair karena air matanya.
Nay mengepalkan tangannya dengan kuat. "Rey, kamu jangan seperti ini,"
"Tapi aku ingin bertemu Daddy."
"Rey cukup! Daddy mu sudah mati!!"
Gimana part ini, maaf feelnya enggak masuk.
Jangan lupa tinggalkan jejak, komen, like, dan follow yuk akun ******* nya Ajeng. @ajeng01_
Krisannya mohon. Takut-takut ada typo