
Rasa rindu (bertemu Radit)
"Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan." (Buya Hamka)
*****
'Uhuk... Uhuk....'
Seketika Nay dan Reymond langsung mengalihkan pandangannya. Lalu mereka bertatapan beberapa detik.
"Rey kamu mendengarnya?" tanya Nay memastikan.
Apa itu Radit? Apa Radit keluar dari kobaran api itu? Apa ada orang lain selain mereka berdua?
"Yah.. Aku mendengar tapi Mom aku takut," ucap Reymond meminta mengenggam tangan ibunya dengan erat.
Nay menuntun Reymond mencari asal suara itu. Hatinya--entah kenapa malah ada rasa gelisah dan terselip rasa senang namun Nay tidak tahu itu kenapa.
*****
Radit menahan nafasnya sejenak saat api itu mulai mengelilingi gubuk tua. Ini adalah firasatnya, yang sudah ia duga beberapa hari lalu kala mendengar pembicaraan penjaga itu dengan Reka. Walau tubuhnya sangat lemas namun Radit harus keluar menyelamatkan diri. Tangan dan kakinya sudah tidak ikat dengan rantai besi lagi. Dengan sangat pelan Radit berjalan kearah pintu yang bebas dari api, mungkin belum atau memang akan terbakar sebentar lagi.
'Uhuk.....' batuknya , lagi-lagi mengeluarkan darah segar.
Bruk.
Sebuah kayu jatuh tepat dihadapannya membuat Radit langsung mundur. Kaki telanjang yang mengeluarkan darah diarea pergelangan kakinya.
'Bimillah, semoga bisa,' gumam Radit.
Dengan terpincang dan pelan Radit melanjutkan jalannya. Dia harus bebas bagaimanapun ceritanya mungkin diluar sana ada yang menunggu Radit entah siapa itu.
Senyum tipis tercetak dibibirnya saat Radit bisa menghirup udara luar lagi, ya sebentar lagi Radit akan keluar.
Langkahnya yang terpincang membuat pria yang usianya sudah menginjak 33 tahun itu sedikit kesulitan.
"Arghhh... " ringis Radit saat gubuk tua itu runtuh akibat kobaran api yang membakar.
Untung Radit sudah berhasil keluar dari gubuk tua itu. Tubuhnya ambruk karena semakin lama kakinya semakin lemas dan hampir seperti tidak ada rasa lagi.
'Terimakasih, karena engkau telah memberikan aku kesempatan untuk selamat,'
Radit menyadarkan tubuhnya dipohon besar tak jauh dari gubuk tua itu. Hatinya lega. Radit benar-benar merindukan udara segar seperti ini.
Nafasnya terdengar, beruntung Radit kemarin mencuri kunci rantai itu dulu jadi sekarang Radit bisa selamat jika tadi pasti kali ini Radit sudah terbakar bersama gubuk tua itu.
'Uhuk... Uhuk... '
Matanya terpejam sebentar.
Srek... Srek...
Suara daun kering terpijak membuat Radit langsung panik, apa itu Veronika? Atau Reka? Atau anak buah kedua orang itu? Tidak-tidak mereka semua tidak akan akan kembali. Radit yakin tapi siapa yang sekarang sedang berjalan kearah sini.
"Mom, Rey takut,"
Sayup - Sayup Radit mendengar itu, suara anak kecil.
"Daddy,"
Seakan tersengat listrik tubuh Radit kaku saat melihat siapa yang ada dihadapannya, wanita cantik yang selalu menjadi ratu dihatinya.
Kedua netra mereka bertemu, apa ini takdir?
Mata Radit beralih kearah anak kecil yang sedang menatapnya.
"Nay..." lirih Radit suaranya tertahan bersama detak Jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.
Rindu.
Satu kata yang sedang Radit dan Nay rasakan saat ini.
Dengan cepat Nay langsung menghampiri Radit yang sedang duduk bersandar dipohon besar, perempuan cantik itu memeluk tubuh laki-laki yang membuat hatinya tersiksa, laki-laki yang membuat Nay bodoh karena cinta.
"Mas... " memejamkan matanya saat air matanya terus mengalir seiring dengan sesak didadanya.
Radit membalas pelukan Nay tak kalah erat dengan Nay. Rasa rindu, mereka mencurahkan rasa itu kali ini. Nay menangis sesegukkan, dia tidak tau kenapa rasanya menjadi seperti ini, kenapa Nay bisa seterpuruk ini saat bertemu dengan Radit.
"Maaf," bisik Radit tanpa sadar air matanya menetes sejak tadi.
Nay melepaskan pelukannya menatap wajah Radit. "Nay udah maafin, mas." ucap Nay ibu jarinya mengusap air mata Radit.
"Forgive me for my mistakes first, I am stupid for wasting you first, Nay ... You are a great woman, I love you. I love you So much Naysilla Handoko." bisik Radit.
"Mom," suara Reymond membuat Nay dan Radit menoleh.
Nay menghapus air matanya lalu tersenyum kearah Reymond,tangan Nay terulur mengajak Reymond agar mendekat kearah nya.
Reymond mendekat kearah ibu dan Ayahnya, tangan mungilnya mengenggam erat tangan Nay.
"Daddy," lirih Reymond.
Radit menatap Nay, Nay yang seolah mengerti dari tatapan Radit langsung mengangguk..
Radit menrentangkan tangannya meminta Reymond mendekat kearah nya. Reymond dengan cepat memeluk tubuh ayahnya ada ketenangan sendiri dalam diri Reymond setelah memeluk tubuh Radit.
"I miss So much, Dad," lirih Reymond memeluk tubuh Radit dengan erat.