Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
23. Bab 23: Canggung



"Gila OMG aku enggak liat mbak!" Tiara menutup matanya dengan heboh.


"Aku kira cuman nenangin doang," alih-alih heboh seperti Tiara Nay malah menyembunyikan wajah merah padamnya dipundak Radit, suaminya.


Mereka sama-sama melihat dilaptop bagaimana ke uwuan Prita dan Wendy.


Dari awal saat Prita masuk kedalam kamar Wendy, saat itu Wendy sedang meluapkan amarahnya dengan memukuli tembok dan kamar Wendy pun sudah berantakkan.


Mereka kira Prita hanya masuk untuk menenangkan amarah pria paruh baya itu namun mereka kaget saat Prita memeluk dan saat itu juga Wendy langsung terduduk lemas.


Fauzan, Tiara, Nay dan Radit memang tidak mendengar percakapan mantan suami dan istri itu namun saat melihat Wendy menangis sesegukkan dipelukkan Prita mereka yakin ada sebuah penyeselan ditangis pria paruh baya itu.


"Aku yakin kalau Bunda pasti ngeluarin kata-kata bijaknya atau kata-kata puitisnya," celetuk Tiara.


"Iyah, sampe-sampe pak Wendy luluh terus gitu sambil nangis sesegukkan lagi," timpal Fauzan.


Radit hanya menyimak tidak ikut menimpal atau mengomentari video CCTV yang masih diputar dilaptopnya.


"Aku takut kalau mereka rujuk malah nambah adek buat aku, Ra," Nay bergidik ngeri saat dia membayangkan mendapatkan adik baru.


"Mereka belum bercerai," perhatian ketiganya teralih kearah Radit yang masih anteng dan juga saat mengatakan itu Radit masih terlihat tenang.


"Maksudnya?"tanya Fauzan, Tiara, dan Nay serempak.


"Iyah, proses perceraian Ayah sama Bunda waktu itu dibatalkan oleh Ayah sendiri jadi sampai sekarang mereka belum bercerai, kalau enggak percaya tanya langsung aja,"


Suasana mendadak hening namun hanya beberapa saat karena Radit tiba-tiba berdiri disusul oleh Nay. Nay memang belum bisa berjalan dengan benar karena area intimnya masih terasa perih karena ulah Radit tadi.


"Abis belah duren yah?" tanya Fauzan sekenannya membuat Radit lanbsung menoyor laki-laki itu.


"Belah duren itu apa mbak?" tanya Tiara kepada Nay.


"Mana mbak tau tanya aja sama Fauzan," Nay tau istilah belah deren itu apa namun karena tidak mau meracuni otak polos Tiara dia jadi hanya menjawan dengan sewot dan seadanya.


____***____


"Ma-af," lirihnya memeluk dari belakang wanita yang menempati hatinya sampai saat ini.


Wanita itu hanya bergeming ditempat sembari merunduk mengusap lengan yang sudah mulai keriput namun masih tetap kokoh. "Kamu enggak salah Mas.. Disini aku yang salah karena kurang terbuka sama kamu dan aku juga enggak mau kalau penyakit aku ngebebanin kamu," ucapnya pula.


Pria paruh baya itu memutar tubuh mantan ralat istrinya lalu tangannya melingkar dipinggang Istrinya, "Kita sama-sama salah, Mau memulainya dari awal?" tanyanya.


"Tapi Tiara?"


"Aku percaya dan udah tau yang sebenarnya, Ta. Maaf karena keegoisan aku kamu dan Tiara jadi menderita,"


"Syutt... Udah katanya mau memulai dari awal jadi jangan bahas masa lalu,"


____***____


Suasana malam ini sangat hening dan canggung, tidak ada yang mengeluarkan suara hanya ada dentingan sendok ke piring.


Fauzan sudah pulang satu jam yang lalu.


Nay jadi ingat saat putaran video CCTV terahkir itu orangtuanya saling berciuman lama, mereka seperti menikmati dan menyalurkan rasa rindu. Apa itu sebab suasana menjadi canggung?


Nay sangat bosan dengan suasana canggung ini namun ia tahan agar tidak berbicara dan juga sadari tadi Tiara mengode dia agar memulai pembicaraan.


"Bunda,"


"Ayah,"


Tiara dan Nay serempak menghela nafasnya karena kecanggungan ini.


"Gimana?" lagi-lagi Tiara dan Nay serempak mengucapkan itu namum alih-alih menlanjutkan Kakak beradik itu malah diam kembali menambah keheningan yang tercipta.


"Khemmmm... Ayah duluan," Wendy beranjak pergi ke kamarnya disusul oleh Radit.


"Mas?" Nay mengerucutkan bibirnya, apa Radit lupa jika saat ini 'itu nya perih karena ulahnya.


Radit hanya bisa mengulum senyumnya lalu tanpa aba-aba pria itu mengendong Nay ala bridal style. Nay yang mendapatkan itu dengan tiba-tiba refleks mengalungkan tangan dileher Radit.


"Mas malu sama Bunda dan Tiara," lirih Nay mencubit gemas perut Radit.


"Bun, Ra. Saya sama Nay dulu," Setelah mengatakan itu Radit langsung membawa Tiara ke kamarnya.


"Iri aku tuh Bun..." Prita terkekeh lalu mengusap puncuk kepala Tiara.


"Cepet minta dihalalin ke Fauzan," ucap Prita.


"Tadi siang Bunda sama Ayah ngapain aja?" tanya Tiara pula membuat Prita langsung diam.


Apa dia harus jujur?


"Enggak ngapain-ngapain," Tiara hanya membalas dengan anggukkan lalu ber'oh ria.


Tidak mungkin juga Bundanya jujur. pikir Tiara.


✨✨✨✨✨


Bersambung....