
"Hiks... hiks... bunda Ara udah kotor,"
Wendy menghentikan langkahnya saat mendengar itu. Suara itu dari arah kamar Tiara, putrinya.
"Hiks... hiks..."
Dengan perlahan Wendy membuka kamar itu. Disana Tiara sedang menangis sesegukkan pakaian perempuan itu tak karuan.
Pria paruh baya itu melangkah mendekati Tiara.
"Kenapa?" itu lahk kata yang meluncur dibibir pria itu bahkan dirinya sendiri mengerutu karena lidahnya terlalu kelu untuk ini.
Tiara langsung menghapus air matanya lalu mendongkak melihat siapa yang bertanya.
Ayah?
"Kamu kenapa?" tanya Wendy lagi namun Tiara hanya mengeleng. Apa jika perempuan ini jujur Ayahnya akan peduli?
Pria paruh baya itu langsung menarik Tiara kepelukkannya dan saat itu pula tangis putri keduanya itu pecah.
"Bilang sama Ayah siapa yang bikin kamu nangis?" bukannya menjawab Tiara malah terus menangis dipelukan Ayahnya.
Tiara selalu mendambakan pelukkan seorang Ayah namun mengapa harus dikondisi seperti saat dirinya terpuruk baru Ayahnya peduli.
"Jawab Tiara atau Ayah sendiri yang akan nyari tau dan habisin dia detik itu juga?" Wendy benar-benar khawatir karena Tiara terpuruk seperti ini. Rasanya dia bena-benar enggak becus menjadi seorang Ayahnya, dia telah menelantarkan Tiara dan sekarang putrinya terpuruk seperti ini apa dia harus diam?
Wendy melepaskan pelukan itu lalu menangkupkan wajah Tiara, ibu jarinya menghapus jejak air mata itu.
"Cerita ata—"
"Okey,"
Flashback.
"Ahhh...." desah Fauzan saat mencapai puncak birahinya. Tanpa melepaskan pangutan intimnya dia langsung berbaring disisi Tiara.
"Uhh.. Jangan bergerak atau aku akan menerkam mu kembali,"
Tiara menatap pria yang ada dihadapannya kini dengan tatapan benci dan tak percaya. Semua kebaikkan dan sikap manis itu hanya untuk harta bukan untuk cinta.
Tiara salah karena telah mencintai Fauzan.
"Seminggu lagi aku akan menikah dengan mu setelah aku mendapatkan semua harta keluarga mu aku akan menceraikan mu," setelah mengatakan itu mata Fauzan langsung tertutup mungkin tertidur.
Tiara masih bergeming ditempat menatap wajah Fauzan, wajah yang membuatnya selalu istimewa, wajah yang membuatnya mengenal apa itu cinta. Sampai sekaranh perempuan itu masih tak menyangka jika tujuan Fauzan mendekatinya adalah untuk harta.
Dengan perlahan Tiara melepaskan pelukan itu lalu melepaskan pangutan ****** dan ***** milik Fauzan. Walau area intimnya masih terasa perih dan sakit tapi Tiara harus pergi dari sini.
Perempuan itu meraih celana panjangnya lalu hoodie milik Fauzan karena pakaian nya dia tidak tau kemana.
Flashback.
Wendy mengepalkan tanganya saat setelah mendengar itu. Putrinya terpuruk karena diperkosa oleh anak dari Hermawan.
Sejak awal Wendy sudah tidak setuju dengan Fauzan saat Prita mengatakan bahwa pria itu adalah kekasih putrinya.
"Bedebah! Ayah pasti kan besok dia akan mendapatkan ganjarannya," umpat Wendy mengusap punggung putrinya lalu mengangkat tubuh Tiara yang begitu lemas dan sudah dipastikan **** ***** Tiara terluka karena itu.
"Jangan, biarkan aja Yah... Tiara cuman mau tidak melihat wajahnya lagi Yah" Wendy hanya mengangguk lalu mengusap puncuk kepala Tiara lalu merebahkan dirinya disisi Tiara.
"Ayah temenin kamu sampai tidur," Tiara hanya mengangguk lalu memeluk tubuh Ayahnya memendamkan wajahnya didada bidang sang Ayah begitupun dengan Wendy mendekap tubuh Putrinya.
Sejujurnya dia tidak menyangka jika Fauzan bisa melukukan itu padahal sejak awal Wendy sudah percaya pria itu mengurus perusahaannya tapi jika begini dia tidak akan percaya atau membiarkan Fauzan memegang perusahaannya dan akan menjauhkan pria itu dari putrinya.
"Ayah akan lakukan apapun demi kebahagian putri-putri ayah, maaf dulu karena telah menelantarkan kamu, Ayah menyesal," Wendy mencium puncuk kepala Tiara beberapa kali sebelum dia tertidur.
✨✨✨✨✨
Bersambung....