Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Don't go




Don't Go



"Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu." (Ibnu Qayyim Al Jauziyyah)


*****


Radit menrentangkan tangannya meminta Reymond mendekat kearah nya. Reymond dengan cepat memeluk tubuh ayahnya ada ketenangan sendiri dalam diri Reymond setelah memeluk tubuh Radit.


"I miss So much, Dad," lirih Reymond memeluk tubuh Radit dengan erat.


"Daddy juga merindukanmu,"


Nay ikut bergabung memeluk tubuh Radit dan Reymond, tanpa sadar air matanya menetes--bukan sedih namun bahagia. Ya, Nay menangis bahagia. Hatinya terasa lega dengan adanya Radit kembali.


Radit memejamkan matanya saat pening kembali menyerang kepalanya, tubuhnya sangat lemas saat ini mungkin darah sudah mengalir dari hidungnya.


Nay yang merasakan sesuatu langsung mendongkak menatap Radit, nafas Radit sangat memburu. Matanya membelak saat melihat darah mengalir dari hidung Radit.


Radit membuka matanya, kedua bola mata itu seolah mengatakan baik - baik saja dan detik kemudian Radit sudah tidak sadarkan diri.


"Mas," Nay menepuk-nepuk pipi tirus Radit dengan pelan, kedua mata Radit sudah terpejam.


Reymond langsung melepaskan pelukannya, sama seperti Nay anak itu panik dan khawatir.


"Mom, Daddy kenapa?" tanya Reymond panik tubuhnya gemetar mungkin hyperarousal nya kambuh.


Nay mengeluarkan ponselnya, menelepon Wendy atau Fauzan. Nay benar-benar panik, rasa khawatir nya membuat air matanya terus mengalir dengan bebas.


"Ayah ...." suara parau Nay membuat Reymond semakin panik, tangan mungilnya mengenggam tangan ayahnya yang terasa dingin.


Nay tambah panik saat ponselnya tidak ada sinyal, dia bingung harus melakukan apa, sedangkan ini adalah hutan yang mungkin akan jarang ada orang yang berada dilingkungan ini.


"Daddy, Wake up," Reymond terus mengenggam tangan Radit dengan erat. Dia tidak mau kehilangan Ayahnya lagi, Reymond tidak mau itu terjadi. Baru saja barusan dia merasakan hangatnya pelukan Ayahnya kenapa sekarang harus seperti Ini.


"Nay, Reymond," suara teriakan itu terdengar jelas ditelinga Nay dan Reymond.


"Rey, kamu diem dimari jaga Daddy, Mommy mau cari pertolongan dulu." ucap Nay berdiri meninggalkan Reymond dan Radit.


"Hiks... Dad, Wake up," isak Reymond memeluk tubuh ayahnya, anak itu dapat merasakan detak jantung Radit yang melemah.


"Dad, Don't Go,"


******


Sudah hampir satu jam dokter memeriksa Radit, sampai saat ini belum ada satupun dokter atau suster yang keluar. Nay yang sadari tadi diam terus menatap kaca besar yang bening sebagai penghalang antara ruang operasi dan luar.


Untung, Wendy dan Fauzan datang tepat waktu jika tidak mungkin saat ini Radit masih berada dihutan. Ya, sebelumnya Rayen yang memberi tahu jika Nay tidak ada, insting Wendy tidak pernah salah, pria paruh baya itu yakin jika Nay sudah pergi ke hutan itu.


Reymond yang sadari tadi diam duduk disebelah Fauzan anak laki-laki itu terus menatap lantai dengan tatapan kosong, tubuhnya gemetar Reymond tampak gelisah.


"Rey," suara Wendy memecahkan keheningan, Reymond tetap tak bergeming.


"Daddy ... " hanya itu yang keluar dari mulut mungil Reymond keringat dingin terus bercucuran.


Wendy segera mengangkat tubuh Reymond kepelukannya, menyalurkan ketenangan untuk Reymond. Hyperarousal Reymond kambuh kembali. Kegelisahan dan ketakutan yang seperti dipendam sendiri oleh anak ini.


Nay langsung mengalihkan pandangannya kearah Reymond dan Wendy begitu pun dengan Fauzan.


"Rey, are you okey?" tanya Fauzan mengusap punggung Reymond.


"Reymond," panggil Nay.


Reymond tetap tak bergeming tatapan nya kosong seolah tak ada hidup lagi.


"keluarga pasien," pintu terbuka lebar membuat semuanya langsung menoleh, Reymond juga langsung melompat menghampiri dokter.


"Dokter, Daddy mana?" tanyanya dengan polos, Nay juga langsung menghampiri Reymond.


"Pasien... "