Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- The power of love




The power of love



"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbananl." (Salim A. Fillah)


****


"Pasien mengalami koma, keadaan nya sangat kritis. Dehidrasi, kurang darah dan kanker leukimia membuat pasien koma, saya belum bisa memastikan kapan pasien bangun," ucap dokter.


*****


Suara derap langkah cepat dikoridor rumah sakit membuat pusat perhatian para pasien dan suster. Rayen, berjalan dengan tergesa bersama Melody dan Prita. Setelah mendapat kabar itu mereka langsung pergi kerumah sakit.


Rasanya Rayen ingin menangis kencang saat mendengar kabar Ayahnya yang memburuk, koma satu kata yang membuat trauma tersendiri bagi Rayen. Rayen tidak mau kehilangan laki-laki yang telah merawatnya dari kecil hingga saat ini bahkan saat keadaan genting saja Radit masih memperdulikan keselamatan Rayen timbangan keselamatannya sendiri.


"Gimana keadaan Radit?" tanya Prita kepada suaminya yang tampak diam.


Helaan nafas berat Wendy terdengar. "kritis, Radit masih kritis dokter tidak ada yang tau kapan Radit bangun tapi yang jelas sekarang keadaannya benar-benar tidak memadani untuk sadar kita cuman berserah diri aja sama Allah,"


"Terus Mommy sama Reymond mana?" tanya Rayen.


"Didalam, mereka lagi jaga Daddy kamu," jawab Wendy. Fauzan sudah kembali mengambil pakaian ganti untuk Nay dan Reymond.


Rayen dan Melody segera masuk kedalam ruang inap Radit.


*****


"Mom," panggil Rayen.


"Gavin, are you oke?" tanya Melody mendekat kearah Reymond yang sedang duduk dibibir ranjang rumah sakit Radit.


Melody menatap wajah Radit dengan intens, anak perempuan berwajah bulat itu tidak mengenali siapa yang sedang terbaring dengan banyak alat medis yang tertancap ditubuh.


"Dia siapa?" mungkin Melody tidak mengenali karena anak itu lebih sering melihat Radit yang dulu bukan yang sekarang.


"Daddy," lirih Rayen mendekat kearah Radit. Hatinya terluka melihat Radit seperti ini, bagi Rayen ibu dan Ayah segala-segalanya.


Nay menggigit bibir bawah menahan Tangis nya, Rayen saja bisa menahan diri agar tidak menangis kenapa Nay tidak bisa.


"Jangan salahkan siapa siapa Ray, kali ini mungkin kita lagi diuji sama Allah," ujar Nay mengusap air matanya.


"Rey takut Daddy kenapa-napa," ucap Reymond mengusap pipi tirus Radit yang terhalang alat oksigen.


Sudah pernah dikatakan jika Melody dan Reymond itu berbeda, sangat bertolak belakang jika pemikiran Reymond sangat dewasa tapi jika Melody berbeda jauh dengan Reymond, polos seperti anak seumurannya.


"Kenapa nangis? Terus kenapa Daddy disuntik? Daddy sakit ya Gavin? Kenapa pada diem?" tanyanya dengan polos, sepertinya Melody memang tidak mengerti dengan keadaan.


Nay tersenyum namun air matanya terus mengalir dengan bebas. "Daddy cuman lagi tidur sayang,"


"Mel, bangunin Daddy ya." ucapnya hendak menyentuh Radit namun suara dokter dan suster membuat niatnya terurung.


Dokter menyuruh keempatnya pergi, sebelum pergi Rayen meninggalkan kecurangan singkat dipelipis Radit, Reymond mencium pipi sang ayah sedangkan Melody mengikuti Rayen.


Nay menahan nafasnya sejenak, kepalanya merunduk mendekat kearah daun telinga Radit. Tangan kirinya terus mengusap-gusap rambut Radit yang memanjang sedang tangan kanannya ia tautkan dengan jemari Radit.


"Apa kamu bisa mendengar suara Nay. Mas ... Bangun, kita mulai semuanya dari awal, Nay masih mencintai mas ... Reymond, Melody dan Rayen rindu kamu. Hiks, bangun jangan tidur terus, Nay tau mas capek tapi jangan terlalu lama tidurnya, Nay rindu sama mas ... Nay enggak mau mas kenapa-napa. Bangun lalu kita mulai dari awal lagi," bisik Nay. Air matanya menetes sejak tadi.


"Nay keluar sama anak-anak, mas bangun," lanjutnya..


Nay mengusap air matanya lalu menegakkan tubuhnya menelan salivanya dengan pelan. Ini pertemuan yang paling menyakitkan bagi Nay.


"Engghh,... "suara lenguhan itu memecahkan keheningan ruangan berbau obat.


Dokter yang sedang memeriksa selang infus Radit langsung menoleh begitupun dengan semua orang yang ada disana.


" Dokterrt Silla dan Yang lainnya harap keluar, serahkan pada kami," ucap dokter itu.


"Mom, Daddy bangun," girang Melody.


Rayen menuntun adik-adiknya keluar.


"Dokter Silla," tegur dokter bername-tag Haikal itu karena Nay masih tetap tak bergeming.


Nay hendak melepaskan genggaman tangannya dengan Radit namun bukannya terlepas malah semakin erat. Seolah Radit tidak mau melepaskan genggaman tangan mereka.


"Periksa saja Dok, saya tidak akan mengganggu," ucap Nay.


Dokter Haikal pun hanya mengangguk.