
Good morning para pembaca gelap. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
*****
Fauzan memicingkan matanya saat melihat seorang pria berjalan tergesa dengan menuntun seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.
Itu Radit dan juga Rayen. Fauzan tau itu pasti Rayen dan juga Fauzan yakin jika Radit melupakan Nay hanya karena mengurusi Rayen.
"Istri gue mana?" tanya Radit saat sudah berada dihadapan Fauzan.
Bukannya menjawab Fauzan malah menatap Radit dengan tajam.
"Rayen kamu masuk gih, ada aunty Ara didalem,"titah Fauzan dan Rayen lansung mengangguk lalu masuk kedalam ruang inap Nay.
"Dit, gue yakin kalau lo lupain Nay pasti karena Rayen lagi?"
Radit menghela nafasnya belum menjawab pertanyaan Fauzan namun yang pasti dengan diamnya Radit adalah jawaban bagi Fauxan.
"Dit... Menurut gue Nay itu istri yang paling sabar. Dari awal dia ketemu lo dia nerima lo apa adanya tanpa komen tentang keadaan lo. Gue tau kalau Rayen itu berarti bagi lo tapi Dit... Lo juga harus pikirin istri lo juga, sekarang piskisnya lagi terguncang karena janin yang selama ini dia tunggu,"
Seketika tubuh Radit meremang saat mendengar itu. Dia tidak menyangka jika dampaknya akan seperti ini apalagi penyembab Nay keguguran adalah dirinya yang terlalu fokus kepada Rayen dan juga malah menuruti perkataan Monika.
"Gue rasa dalam diri Nay enggak ada yang kurang sedikit pun." ujar Fauzan.
"Gue tau kalau gue salah tapi kenapa harus calon anak gue yang pergi," lirih Radit mendudukkan tubuhnya dikursi besi rumah sakit.
"Rayen ada lo udah gini apalagi dia kembali apa lo akan ceraikan Nay dan kembali kepada jal*ng sialan itu?"
BUGH....
Satu pukulan mendarat dirahang bawah Fauzan oleh Radit.
Fauzan memegangi rahangnya tak membalas pukulan itu hanya membalas lewat tatapan.
"Jangan asal sebut dia dengan omong kosong lo," sentak Radit.
"Gue enggak pernah asal sebut gue nyebut fakta. Dan lo yang terlalu pokus kepada Rayen hingga melupakan istri yang udah nemenin lo dari lo terpuruk hingga saat ini. Kalau lo udah enggak mau sama Nay masih banyak cowok yang mau sama istri lo termasuk Cahya," balas Fauzan lalu meninggalkan Radit sebelum benar-benar pergi pria berwajah pucat itu menabrakan bahu sahabatnya dengan keras hingga membuat Radit terhuyung.
****
Dengan perlahan tangannya meraba kearah perutnya yang tampak ngilu dan perih.
Merasakan hal janggal wanita itu langsung bangun dari tidurnya.
Perutnya mengempes.
Dia, Nay—wanita berjilbab panjang itu langsung mencoba menginggat kembali kenapa perutnya bisa seperti ini. Bongkahan pazzle itu telah tersusun, Nay langsung membekap mulutnya saat menginggat terahkir dia berada diruang operasi dan dokter mengatakan bahwa mereka akan mengangkat janinnya karena benturan itu membuat pendarahan yang cukup banyak.
"Cobaan apa lagi ini?" gumam Nay mencoba menguatkan dirinya namun air matanya terus mengalir.
Suara pintu terbuka membuat Nay langsung menoleh. Radit berjalan kearah Nay dengan wajah yang sulit diartikan bahkan Nay sendiri bingung harus bersikap apalagi kepada suaminya.
Nay kecewa kepada Radit. Nay tidak menyalahkan Radit atas kegugurannya namun Nay hanya bingung mengapa Radit bisa bersikap seperti itu disaat dirinya sedang kesakitan bahkan suaminya malah mementing orang yang belum Nay ketahui siapa.
"Kenapa enggak panggil saya?" pertanyaan itu seperti tidak ada beban. Nay mengalihkan pandangannya untuk saat ini dia hanya ingin diam.
Punggung tangan wanita cantik dengan jilbab panjang itu menghapus air mata yang kian menetes terus.
"Maaf, saya tau kalau penyebab semuanya itu saya. Saya benar-benar tak menyangka jika dampaknya akan seperti itu. Saya terlalu pokus kepada Rayen,"
Nay hanya bergeming saja tak menatap Radit atau mengalihkan pandangannya karena hatinya terlanjur kecewa untuk ini.
"Nay, saya tau kamu kecewa tapi saya mohon jangan seperti ini," tangan Radit terangkat menghapus jejak air mata Nay.
"Mas... Nay enggak marah sama Mas... karena Nay tau jika janin Nay diangkat bukan kesalahan Mas," lirih Nay lalu merunduk. Yang salah itu Rama.
"Tap—"
Nay mencium bibir Radit sekilas membungkam bibir suaminya lalu merebahkan tubuhnya dengan selimut. Menangis dalam diam.
Radit hanya menghela nafasnya karena dia sadar pasti istrinya masih belum memaafkannya. Radit juga tau jika Nay menangis.
Benar kata Fauzan jika Radit terlalu pokus kepada Rayen hingga melupakan Nay—istri yang begitu sabar menghadapinya.
Apa Radit harus memberitahu Nay prihal masalalunya dan prihal Rayen?