
"KELUAR KAMU!!!"
Nay, Fauzan, Tiara dan Prita terkesiap mendengar teriak itu begitupun dengan para ART mereka langsung berjalan melihat kearah tangga.
Wendy berjalan menarik Sisil—sekertarisnya itu dengan kasar lalu saat sudah sampai anak tangga terahkir pria paruh baya itu mendorong sisil hingga terjatuh. Tidak ada yang mendekati Wendy dan Sisil karena mereka tau jika Wendy sedang benar-benar marah.
"Jangan pernah menginjakkan kaki kamu di sini lagi dan besok kamu tidak usah datang ke perusahaan saya!" setelah mengatakan itu Wendy berjalan kembali kearah kamarnya sekilas pria itu menatap Prita seperti mengisyaratkam sesuatu namun wajahnya tidak ada perubahaan, marah.
Sisil berdiri membenarkan penampilannya lalu berjalan keluar tanpa berpamitan.
"Dasar jelangkung datang tak diundang pergi pun tanpa pamit,"gumam Fauzan.
"Kayanya ada sesuatu. Ayah jarang marah kaya gitu tap— ehh bunda mau kemana?" Nay hendak mengejar Prita yang sudah menaiki anak tangga meninggalkan kursi rodanya.
"Jangan di kejar Bu.."cegah Fauzan dan diangguki setuju oleh Tiara.
"Ya sudah," Nay berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan Radit.
___***___
Nay tersenyum saat melihat Radit, Suaminya sedang bermain game online. Dia menjadi ingat kembali saat Radit masih emm... gila, Suaminya itu sangat senang jika diiming-iming game online dan sekarang saat suaminya sudah normal malah asyik sekali bermain game mungkin kehadirannya saat ini Radit belum sadar.
Dengan perlahan Nay melangkah mendekat kearah Radit lalu mendudukkan dirinya dipaha Radit.
"Mas?" Radit malah semakin fokus ke game oneline nya tak mengidahkan Nay yang sudah duduk dipangkuannya.
Wajah sumringah Nay langsung meredup menjadi muram namun Nay tidak menyerah perempuan menganggu suaminya, menganggu fokus suaminya.
Cup.... cup... cup...
Nay mencium pipi kiri dan kanan Radit dan terahkir ciuman itu mendarat dibibir suaminya namun fokusnya tidak teralih tetap fokus ke ponselnya itu.
"Mas... Ihk," Nay mengelayut manja namun tidak direapon sama sekali oleh Radit. Suaminya itu tetap memainkan game onelinenya.
Perempuan berdress navy itu mulai turun dari pangkuan suaminya karena mulai jengah dicuekin terus oleh Radit, suaminya.
Nay berjalan kearah Balkon dengan melipat tangannya didepan dada, mulutnya tidak berhenti mendumel karena kesal.
Radit tersenyum karena melihat Nay yang kesal karena ulahnya. Sebenarnya sadari tadi saat Nay duduk dipangkuannya fokusnya sudah teralih namun karena hanya ingin melihat wajah kesal istrinya.
"I'm sorry," Radit memendamkan wajahnya diceruk leher Nay yang terhalang oleh helaian rambut.
Nay masih bergeming ditempat tak merespon Radit namun dia juga membiarkan Radit melakukan apapun.
"Saya janji deh enggak cuekin kamu lagi," Radit mengeratkan pelukkannya, tangan kirinya mengibaskan rambut Nay kedepan.
"Mas..."Nay membalikkan tubuhnya menatap Radit dengan kesal. Dia kesal karena tadi suaminya ingin membuka seleting dressnya bukan membujuk Nay agar tidak marah lagi.
Radit menarik tengkuk Nay lalu menyambar bibir ranum milik istrinya itu. Nay yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya bisa diam namun lambat laun mulai merespon.
"Nay?" Nay mengangguk nafasnya dan Radit saling bersahutan karena pangutan tadi.
"Itu hak mas,"
Menerima persetujuan dari istrinya Radit langsung mengendong Nay ala bridal style lalu menidurkannya dengan perlahan di atas ranjang lalu menyambar kembali bibir ranum Nay.
____***____
"Ahh..." desah keduanya saat baru saja mencapai puncaknya.
Saking tak sadar atau keenakkan punggung Radit terkena banyak cakaran Nay kukunya menancap halus dipunggung kokoh namun Radit tak mempermasalahkannya atau merasa kesakitan karena Nay kesakitan pun karena ulahnya.
Ya walau awalnya Nay sempat menangis dan Radit harus menenangkan dulu tapi mereka tetap melakukannya. Radit ambruk disisi istrinya, nafas keduanya masih tersengal karena pengulatan tadi yang hanya terjadi dua ronde saja.
Setelah nafasnya kembali normal Radit mengubah posisinya menjadi duduk begitupun dengan Nay hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Terima kasih," Radit mencium puncuk kepala Nay dengan lembut.
"Itu udah tugas Nay sebagai istri Mas.." Nay mengeser duduknya agar lebih dekat lagi dengan Radit lalu menyenderkan kepalanya dibahu sang suami. Nay sudah merasakan menjadi istri yang sesungguhnya kali ini. Mungkin ini buah dari kesabarannya dan keihklasannya, mungkin.
"Nay," Radit menautkan jemarinya dengan jari-jari tangan Nay. "Kenapa dulu mau sama saya? Dulu kan keadaan saya sedang gila?" tanyanya.
✨✨✨✨✨
Bersambung.....