
"Ayah sama Bunda mau kemana?" tanya Nay kepada Ayah dan Bundanya yang sudah membawa dua koper besar.
"Mau nginep dirumah opah sama omah," jawah Wendy masih sibuk dengan koper besar itu.
"Lama enggak?"
"Enggak, Satu bulan doang,".
Nay berdecak sebal kepada Ayahnya. "Itu lama Ayah,"
"Sebentar, oh iya, bilang ke Radit nanti gak usah pergi ke Pernikahaannya Rama dan Winda," pria paruh baya itu menarik kopernya keluar rumah meninggalkan Nay yang masih-masih bertanya.
"Apa akan terjadi sesuatu? Dari raut wajah Ayah seperti, iya, tapi sesuatu apa?" tanyanya pada diri sendiri.
"Aku harus cari cara agar Mas Radit enggak datang karena aku enggak mau terjadi sesuatu sama Mas Radit apalagi sesuatu itu yang dapat membahayakan nyawa Mas Radit, tapi apa caranya ya?" Nay mengigit jarinya mencoba berpikir.
"Ah iya, Honeymoon atau Babymoon aja, Aku bisa jadiin alasan itu,"
*****
"Mas Radit?" panggilnya saat memasuki kamarnya mencari suaminya.
Senyum Nay lenyap kembali saat tau suaminya sedang bermain game oneline, lagi. Suaminya itu memang tidak peka namun Nay harus mengusir rasa kesalnya demi melarang Radit agar tidak pergi acara pesta pernikahaan Rama dan Winda.
Dengan pelan Nay melangkah kearah suaminya.
"Mas," panggil Nay dan Radit hanya menyauti dengan deheman.
"Kita Honeymoon sekalian Babymoon yuk," ucap Nay membuat suaminya langsung menyimpan ponselnya.
"Loh? kenapa tiba-tiba? Kan besok kita harus datang ke wedding party-nya Winda dan Rama,"
Nay menghela nafasnya lalu berkata;
"Emang enggak boleh ya, Nay kan pengen habisin waktu berdua sama Mas. Waktu iti kita photoshot enggak jadi terus masa sekarang Nay pengen Babymoon sekalian Honeymoon Mas enggak mau."
Radit yang sudah bingung dengan sikap Nay yang tiba-tiba berubah hanya menganggap itu adalah hormon.
"Iya, Saya mau ke Negara mana dan kapan perginya?" tanya Radit, menarik lembut istrinya agar duduk dipangkuannya.
"Nay pengen ke Mekkah. Honeymoonnya sekalian umrah babymoonnya nanti aja barengan sama Tiara," tutur Nay dengan senyum bahagianya namun terbesit rasa takut jika akan terjadi sesuatu kepada Radit, suaminya.
"Boleh, perginya tapi nanti lusa ya, Saya besok ada mieting penting sama beberapa artis dan juga saya harus mengambil cuti untuk beberapa waktu," balas Radit mengusap puncuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Nay mengangguk dengan pelan lalu menyandarkan kepalanya didada bidang Suaminya. Saat ini, apa mungkin Ayahnya pergi ingin melakukan sesuatu tapi apa?
Apa dengan suaminya datang ke acara itu mereka akan melakukan hal licik atau buruk?
'Semoga enggak terjadi apa-apa,'
*****
Angin sepoy-sepoy menyeruk dimalam ini. Dinginnya angin malam membuat siapa saja akan betah didalam selimut atau didepan hangatnya api unggun namun, Tiara lebih betah diam menatap hamparan bintang dengan ditemani oleh Fauzan wanita cantik itu terus bermanja-manja kepada laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya.
Fauzan menyandarkan kepalanya dibahu Tiara lalu memejamkan matanya karena merasa pening menyerang kembali kepala pria itu.
"Apa kau masih ingat, dikala kita untuk pertama kalinya berjumpa.
Aku terpaksa duduk di sebelahmu, karena aku tak tau harus menempatkan posisi yang tepat, yang aku tahu, hanya itu tempat yang paling tepat.
Kita duduk saling bersisian, tapi tetap ada jarak yg cukup untuk memisahkan kita.
Kita duduk dibawah pohon yang rindang, hembusan angin menari dengan irama yang menyejukkan. Daun kering saling jatuh bertebaran, kemudian berlarian tak tentu arah terbawa oleh kencangnya angin.
Keheningan menyelimuti hati yang dirundung rasa tak menentu, ragu ingin berkata apa. Namun, setelah saling bertanya kabar semua mencair dengan sendirinya.
Kau tersenyum, senyum yang membuatku tertawan.
Mata yang berbinar, seperti cahaya rembulan meluluhkan hati jadi tak karuan.
Kau begitu manis, tutur katamu begitu lembut, kau indah dipandang tak membosankan.
Sayang, pertemuan kita tak lama. Sebab aku harus kembali bekerja. Meski pertemuan itu amatlah singkat. Kebersamaan itu akan menjadi hal terindah dalam hidupku.
Terkenang sepanjang hidup ini. Waktu takkan mampu menghapusnya.
Ketahuilah, catatan terindah dalam hidupku adalah saat aku mengenalmu.
Aku hanya mampu menjadi pengagum rahasia yang bersembunyi dan hanya bisa menyapa lewat doa-doa dan kini aku menjadi suamimu namun aku tidak tau sampai kapan. Aku takut jika Allah memanggilku lebih cepat dari apa yang ku bayangkan,"
Tiara mengalihkan pandangannya saat mendengar itu kata terahkir dari suaminya apalagi yang membuat wanita cantik itu sedih adalah saat merasakan rambut Fauzan sudah mulai rontok karena efek penyakit ini.
"Kak Fau, tau enggak ketika kemarin aku mengira kak Fau meninggal dunia Ara tiba-tiba runtuh. Ara tau bagaimana sakitnya tumor otak, karena dari kecil Ara selalu menemani Bunda mulai dari pengobatan hingga sembuh tapi Ara juga dulu selalu dibayang-bayangkan jika Bunda pergi ninggalin Ara karena Ara dulu mengira jika tidak akan ada yang peduli lagi sama Ara," Tiara menghapus air matanya dab menormal kembali suaranya namun sesegukkam karena menahan tangis ini membuat Tiara sedikit sulit untuk mengatakan sesuatu. "A--ra enggak bisa bayangin kalau hari itu datang, hari dimana Allah mengambil kakak dari Ara dan juga dari dia,"
Tiara menangis sesegukkan saat mengatakan itu apalagi tumor otak yang menyerang kepala Fauzan sudah stadium ahkir pasti akan sulit disembuhkan.
"Ka--li ini Ara hanya meminta kepada Allah agar tidak mengambil kak Fau dari sisi Ara dan dia," lirih Tiara mencium punggung tangan Fauzan dalam hati perempuan itu selalu berdo'a agar Allah tidak mengambil suaminya.
Fauzan hanya bisa tersenyum kecut. "Kita berdo'a sama-sama. Semoga kisah kita bisa seperti kisahnya Radit dan Nay,"
*****