
Wanita cantik dengan piyama tidur berwarna hitam itu duduk diatas ranjang dengan memeluk lututnya sendiri matanya menatap kosong kearah bingkai foto kecil yang terletak diatas nakas disebelahnya. Foto itu diambil sebulan setelah dirinya dan sang kekasih berpacaran.
Tiara terkekeh kecil saat menginggat itu. Ingatan tentang dimana dia terus merengek meminta dibeli ice cream tapi Fauzan membawa dia ke toko roti hingga ahkirnya Fauzan tetap membawanya ke kedai ice cream dengan syarat yang tak masuk akal.
"Kak, Ara kangen," lirihnya lalu menghapus air matanya dengan kasar. Tiara sudah berjanji agar tidak menangis lagi namun air matanya ini selalu tanpa komando keluar.
Semenjak kepergian Fauzan Tiara lebih sering berdiam diri dikamarnya apalagi sejak tadi siang dirinya hanya diam melewatkan makan malam dan siang bersama.
Suara pintu terbuka membuat Tiara langsung menoleh melihat siapa yang datang namun saat mengetahui itu Bundanya Tiara langsung memalingkan wajahnya lagi segera menghapus jejak air matanya yang masih tersisa.
Prita berjalan membawa kotak besar berwarna navy kearah Tiara entah apa isinya hingga seperti berat sekali.
"Huh, berat banget," keluh Prita membuat Tiara tersenyum tipis.
"Apa ini Bun?"
Prita mengeleng dengan pelan.
"Buka aja,"
Prita mendudukkan bokongnya disebelah putrinya lalu mengusap kepala Tiara dengan pelan.
Tiara membuka kotak itu dengan pelan. Tangan mungil itu menarik sebuah gaun berwarna pink lengkap dengan asisoris lainnya serta ada sebuah tumpukkan undangan dan ada juga kotak kecil berwarna merah berbentuk love.
"Ra..." Prita mengusap lengan atas Tiara dengan lembut.
Tiara mengerjapkan matanya beberapa kali lalu tangannya mengambil salah satu undangan berwarna gold dengan pita silver mengelilingi undangan itu.
Nama Tiara dan Fauzan yang tertera diundangan itu, ini mungkin undangan dirinya dan Fauzan yang sudah terlewat karena kejadian itu dan juga karena.... Fauzan-nya pergi.
"Jangan nangis, kamu sudah berjanji kepada dia tidak akan menangis," Prita mengusap perut Tiara yang sudah membuncit saat Tiara sudah akan menangis.
"Hiks... Hikss.... Bun, Allah enggak sayang Ara ya.. kenapa Allah malah ngambil kak Fau..." isak Tiara membuat Prita tak tega. Ibu 2 anak itu hanya bisa diam sembari mengusap-ngusap kepala putrinya dengan lembut.
"Sayang, Dengerin Bunda ya... Allah itu maha adil dan takdir itu sudah Allah atur jika Fauzan bukan jodoh kamu untuk saat ini mungkin nanti Fauzan lain akan menjadi jodoh kamu. Bersedih boleh tapi jangan berlebihan,"
____***____
Nay menghela nafasnya saat tadi perut nya terasa sakit namun saat Radit mengusap dan memijatnya pelan rasa sakitnya itu seketika hilang.
"Udah enakkan?"
Nay hanya mengangguk pelan lalu membenarkan rebahannya.
"Kata Ayah jangan sampai strees," Radit terus mengusap perut Nay dengan lembut. Pria itu merebahkan dirinya disisi sang istri.
"Mas,"
"Hmmm?"
Nay meletakkan kepalanya didada bidang sang suami. "Sebelum masalah Ranti terpecahkan kamu harus puasa dulu,"
Radit hanya berdehem menyauti ucapan Nay. Mendengat sahutan singkat itu Nay langsung mendongkak menatap wajah suaminya yang ternyata sudah tertidur.
"Ck! Dasar mau diajak ngomong serius malah tidur..." decak Nay lalu mencium kening, hidung, pipi dan bibir sang suami.
"Goos sleep.. semoga masalahnya cepat selesai mas.." bisik Nay lalu menutup matanya untuk tertidur menyusul Radit ke alam mimpi.
B E R S A M B U N G . . . . .