Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
10. Bab 10:Hanya Ingin Membuat Bahagia?



"Hai,"


Aku memutar arah melihat siapa itu karena dalam lift ini hanya aku saja dengan entah siapa itu.


Manik mataku membulat karena melihat siapa yang sekarang ada dihadapanku.


Tuhan mengapa engkau mempersulit takdirku lagi setelah 242 hari ini aku tenang dan damai. Tuhan tolong hilangkan aku sekarang juga.


Dengan langkah cepat aku langsung pergi menghindari laki-laki itu. Aku memang sudah tidak mencintainya namun aku tidak mau berbicara kepadanya karena apa? Karena perusahaan Ayah memiliki pegawai yang biang gosip.


"Silla tunggu Mas," Aku tetap berjalan meninggalkannya tak menghiraukan penggilan dia yang berusaha mengejarku.


"Jangan pernah menghindar lagi," dia berhasil mencekal tanganku dan aku berusaha berontak.


"Mas lepasin sakit," ringisku berusaha melepaskan cekalan itu.


"Aku tidak akan melepaskan mu lagi," aku menginjak kakinya dengan keras dan benar saja dia melepaskan cekalan itu.


Aku segera berlari menghindari dia.


"Seorang Bayu Pradana tidak akan melepaskan mu Naysilla Handoko," teriaknya namun aku tak mengidahkannya.


Orang sinting itu adalah mas Bayu, Mantanku.


"Astagfirullah, cobaan hamba terlalu berat," aku mengusap dadaku mencoba menenangkan diriku yang sedang berada di fase, marah.


Aku tidaj pernah menyangka jika hari ini adalah hari kesialan karena bertemu dengan Mas Bayu. Bukannya masih mencintai nya namun aku kayanya gedek banget sama dia. Apalagi saat beberapa bulan lalu aku melihat Mas Bayu sedang bercumbu mesra ditaman. Bukannya cemburu hanya saja jijik. Taman itu tempat umum dan mereka dengan seenak jidat.


Brukkk...


Aku terjungkal kedepan saat merasakan dorong besar dari belakang.


Aku memejamkan mataku menahan diriku agar tidak marah-marah. Sepertinya benar hari ini adalah heri kesialanku rasanya jika itu memang benar aku ingin loncat saja dari atas tower.


"Maaf, Maaf. Bu Bos, kami enggak lihat,"


Fauzan?


Jadi yang menabrakku itu mau Fauzan sekertarisku. Apa dia mau balas dendam prihal tadi aku menyuruh dia menghandle pekerjaan?


"Fauzan tau enggak sih hari ini saya sudah bertemu orang sinting dan sekarang kamu menabrak saya dengan seenak kamu! Kalau kamu punya dendam sama saya ngomong..." aku sangat marah-marah namun aku sadar ini masih di lobby kantor kaya benar aku harus loncat dari atas tower atau loncat dari atas bukit cinta yang sangat tinggi itu.


"Yah maaf bu.. Orang bukan saya juga yang nabrak," Fauzan mengaruk tengkuk lehernya wajah laki-laki itu nampak usil atau wajah tanpa dosa.


"Sudah lahk saya lagi capek. Hari ini kamu saya bebaskan tapi tidak tau dengan hari besok," Aku memutar arahku lalu berjalan dengan lebih santai aku takut jika ada orang yang menabrakku lagi.


Ehh, tadi aku tak sempat siapa yang bersama Fauzan mungkin clien tapi aku tak peduli dengan itu yang jelas ku butuhkan saat ini adalah ketenangan dan kenyamanan.


_____________________


Dengan langkah gontai aku masuk kedalam rumah. Jika kalian mengira aku masih tinggal rumah ayah kalian salah aku sudah tidak tinggal disana. Aku lebih memilih tinggal di apartemen.


"Siang mbak Silla,"sapa bu Ros tentanggaku. Beliau adalah seorang janda anak satu dan anak nya berusia 17 tahun.


"Siang bu..." balasku lalu masuk kedalam apartemenku.


"Nay ahkirnya kamu pulang," Aku mendongkakkan kepalaku melihat siapa itu.


"Ayah ngapain?" sejujurnya aku masih marah kepada Ayah karena membuat Tiara dan Bunda pergi. Ayah tidak tau perjuangan Bunda selama ini.


"Ayah sudah akan stay di indonesia," ucap Ayah lalu menarik kedalam pelukkannya.


"Ayah tau kamu masih marah Nay tapi Ayah melakukan ini tidak ingin kehilangan kamu, Ayah juga hanya ingin kamu bahagis terus,"


Apa katanya bahagia?


Hanya ingin membuat bahagia?


Ini yang disebut bahagia?


Apa ayah tidak mengerti bahwa aku juga butuh sosok seorang Bunda?


"Ayah memang membuat aku bahagia dengan materi tapi ayah tidak membuat Nay bahagia dalam kehadiran Bunda," aku melepaskan pelukkan Ayah lalu melangkah ke dalam kamar.


✨✨✨✨✨


Bersambung....