Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
19. Bab 19: Belum Halal



Didalam ruangan VIP yang kini sedang ditempat oleh Prita hanya ada Tiara dan Nay saja yang menjaga didalam sedangkan diluar ada Fauzan dan Radit karena Hermawan sudah pulang sebelum Fauzan datang.


"Bun?" Prita tersentak kaget saat Nay memanggilnya.


Wanita paruh baya itu tersenyum simpul lalu menepuk sisi ranjang yang kosong menyuruh Nay duduk didekatnya karena Tiara sudah memejamkan matanya.


Nay duduk didekat Prita lalu menyandarkan kepalanya dibahu yang ibu, "Bunda jangan banyak pikiran ya.... Nay enggak mau kalau sel kanker itu tumbuh lagi,"


Prita mengusap puncuk kepala Nay dengan lembut. "Iya Dokter..."


"Bunda mah... Aku Serius," Pruta terkekeh saat Nay merengek.


Nay mengubah posisi kepalanya menjadi menatap Prita—sang bunda. "Bun, Tau enggak pas Ayah ngasih Nay kabar kalau Bunda masih rumah sakit Ayah kaya panik banget dari nada bicaranya dia kaya frustasi. Memangnya Ayah sama Bunda tadi abis ngapain sampai Bunda masuk rumah sakit, Ayah nyakitin Bunda ya? atau Ayah bentak-bentak Bunda lagi?" Bukannya Nay menuduh atau berburuk sangkat kepada Ayahnya namun dia tau jika Ayah benci kepada Bundanya.


Prita terdiam mencoba mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Sebelum dia pingsan dia juga sempat melihat wajah cemas mantan suaminya itu dan juga Prita sempat mendengar nada bicara suaminya yang seperti sangat cemas dan khawatir.


"Enggak kok Sayang, justru Bunda berterima kasih kepada Ayahmu. Kalah tidak Ayahmu mungkin Bunda enggak akan selamat," Prita mengusap pipi Nay dengan lembut memberikan keyakinan kepada putri sulungnya.


"Bunda yakin? Soalnya ayah kaya bener-bener merasa bersalah gitu dan juga kayanya darah tinggi Ayah kumat lagi," Nay mengingat saat dia membopong tubuh ayahnya yang tampak lemas.


"Darah tinggi Ayahmu kumat lagi? Ya Allah Nay kamu tau kan kalau darah tinggi Ayahmu kumat gimana? Harus ada seseorang disisinya dia pasti akan membutuh sesuatu dengan bantuan orang lain karena tubuhnya pasti akan sangat lemas," Nay mengerjapkan matanya saat mendengar Bundanya sedang marah atau menasehatinya.


Prita menautkan alisnya bingung karena Nay tiba-tiba cekikikan tak jelas.


"Perasaan kemarin deh... ada yang bilang udah move on tapi kok sekarang kaya masih ada rasa atau semacam masih care." Nay terkekeh saat melihat rona malu diwajah sang Bunda.


"Nay, Bunda itu lagi serius," Prita mencubit pipi Nay dengan gemas. Nay selalu bisa menjebaknya dengan kata-kata hanya untuk jujur.


"Ciee... Bunda ciee..." ledek Nay saat cubitan dipipinya terlepas. Prita yang sudah kepalang malu langsung menutupi dirinya dengan selimut hingga keplanya.


"Ya sudah besok Nay lanjutin ledek bundanya. Sekarang Nay mau manas-manasin yang belum halal dulu," Nay keluar dari kamar inap Prita mencari suaminya, Radit.


Beberapa menit setelah Nay pergi Tiara bangun karena merasa haus. "Mbak Nay kemana ya??" gumamnya lalu berjalan kelua mencari Nay.


Saat didepan pintu dia kaget karena melihat Fauzan ada disini. Kapan kekasihnya datang dan kenapa dia tidak tau?


Mata Tiara beralih ke Nay dan Radit yang sedang mesra-mesraan.


"Loh, Ra kenapa bangun? mbak berisik ya?" Nay yang sedang tertawa bersama Radit langsung menatap Tiara.


"Bukan mbak...," Tiara mengelengkan kepalanya membantah ucapan Nay.


"Ra, sini," Fauzan menepuk tempat kosong disisinya dan Tiara hendak melangkah namun karena suara Nay gadis itu langsung berhenti.


"Selangkah lagi kamu maju mbak bener-bener enggak akan restuin kalian," ancam Nay membuat Radit langsung terkekeh. Sifat over protektif Nay kepada Tiara membuktinya jika istrinya benar-benar Sayang kepada Tiara.


"Kenapa,?" tanya Fauzan dan Tiara serempak.


"Belum halal," Balas Nay dan Radit dengan serempak juga membuat Fauzan langsung memutar bola matanya dengan jengah.


"Iyain aja biar fast," sahut Fauzan dengan malas.


✨✨✨✨✨


Bersambung......