Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
48. Bab 48: Rayen



Besok harinya.


"Daddy!!" panggil seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun. Bocah laki-laki berlari kearah Ayahnya.


Radit tersenyum lalu mengendong bocah laki-laki itu. "Kamu kemari, kenapa tidak bilang kepada Daddy,"


"Aku ingin memberikan Daddy kejutan," celotehnya.


"Pak Radit maaf, saya datang tidak mengabari bapak. Tadi Den Rayen tidak mau makan dan terus merengek ingin bertemu bapak," sungkan seorang perempuan berusia 22 tahun membungkuk hormat kearah Radit.


"Tidak apa-apa Monika, saya dan Ray sudah lama tidak bertemu," balas Radit lalu memberikan isyarat agar Monika pergi.


Monika adalah gadis cantik diusianya yang baru saja dia rela menjadi pengasuh padahal gadis itu lulusan sarjana namun entah mengapa gadis itu malah menjadi pengasuh.


Setelah Monika pergi Radit langsung fokus kepada Rayen—anak laki-lakinya.


Radit merasakan bahagia kembali dengan hadirnya Rayen. Didalam hidup Radit yang penuh tekanan datang Rayen dan perempuan yang Radit cintai dari dulu hingga sekarang.


Sampai kapanpun cintainya kepada wanita yang sekarang sedang mengandung buah cintanya tidak akan pernah luntur. Ibu kandung Rayen sudah meninggal 10 tahun yang lalu tepat diusia Radit 17 tahun dan diusianya itu lah Radit mengurus Rayen hingga keadaan yang memisahkan Rayen dari Radit. Rayen langsung dikirim ke panti asuhan dan butuh waktu lama Radit mencari Rayen kembali.


"Dad, kapan Ray bertemu dengan Mommy?" tanya Ray membuat Radit terdiam.


"Emmm... Lain kali mungkin." jawab Radit setelah beberapa saat terdiam.


"Kenapa?"


"Bagaimana kalau kita pergi bermain taman ancol," usul Radit mencoba mengaperg membicaraan.


Rayen terdiam lalu mengangguk antusias.


Radit berdiri lalu mengandeng tangan Rayen berjalan keluar sebelum benar-benar pergi Radit memberikan pesan kepada seketarisnya.


*****


"Oh okey, saya akan sampai 20 menit lagi. Kamu urus semuanya saja,"


Radit mematikan telepon dari sekertarisnya lalu berjalan kearah. Dia lupa jika hari ini ada mieting penting dan terpaksa Radit harus meninggalkan Rayen di Taman Ancol bersama Monika dulu untuk beberapa saat.


"Ray, Daddy akan pergi untuk beberapa saat kamu tinggal disini sebentar ya sama Aunty Monika," kata Radit sembari menundukkan tubuhnya mencium puncuk kepala Rayen.


"Okey Dad, Jangan lama-lama ya," Rayen mencium kedua pipi Radit secara bergantian lalu menarik tangan Radit mencium punggung tangan Ayahnya.


"Jangan nakal,"


Setelah mengatakan itu Radit langsung pergi namun sebelum itu Radit mengatakan jika diakan kembali 1 jam lagi dan melarang Monika untuk pergi sebelum Radit datang.


Setelah Radit pergi Monika langsung sibuk dengan ponselnya membiarkan Rayen bermain sendirian.


"Aunty ayo kita kesana," ajak Ray menunjuk kearah sebrang jalan.


"Pergi sendiri aja Aunty lagi balas chat dulu," sahut Monika menyuruh Rayen pergi.


Sebenarnya Rayen adalah anak yang mandiri namun karena Radit terlalu memanjakan Rayen membuat anak laki-laki berusia 10 tahun itu sedikit manja dan bergantung kepada pengasuh. Radit sangat menyayangi Rayen, banyak sekali tantangannya dan rintangannya mulai dari kondisi Radit yang drop, keluarga dari Ibu kandung Rayen yang meminta Radit menyerahkan Rayen kepada keluarga itu dan terahkir adalah Radit yang masih memikirkan bagaimana agar Nay menerima Rayen.


Dengan langkah gembira Rayen berjalan menuju arah stand ice cream menyebrangi jalan tanpa melihat kanan dan kiri.


TINNN.....TINNN....