Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
17. Bab 17: Om Hermawan?



(Author Pov)


____________________


Pagi-pagi sekali Prita sudah sibuk karena mengurus Tiara yang hendak pergi bekerja. Mengurus mulai dari Sarapan, seragam serta bekal. Sebenarnya Tiara bisa sendiri dan Tiara juga bukan anak yang manja namun Prita hanya ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada Tiara. Setidaknya jika Tiara tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, Prita bisa menjadi seorang Bunda dan Ayah dalam satu waktu untuk putrinya. Dan jika Nay tinggal bersamanya pun dia akan melakukan hal yang sama kepada Putri sulungnya itu.


"Bun, Ara berangkat dulu ya. Bunda hati-hati dirumah," Tiara mencium punggung tangan Prita.


"Iyah, Fauzan saya titip Tiara ya,"


"Siap Bun.." Fauzan melakukan hal yang sama dengan Tiara.


Fauzan setiap hari menjemput Tiara walau arah kantor dan tempat kerja kekasihnya berlawan dan juga rumah Tiara sangat jauh dari kota Fauzan tetap menyempatkan untuk datang menjemput.


Setelah mobil Fauzan sudah hilang dari pandangannya Prita langsung masuk kedalam mengunci pintu lalu memastikan semuanya sudah terkunci. Prita memang sudah terbiasa menutup diri dari luar mungkin semenjak kanker itu menyerang kepalanya.


Tok...tok..tok...


"Ya sebentar..." Prita menyimpan sapu ketempatnya. "Tiara, pasti ada yang ketinggalan." gumamnya.


"Tiara Bun—"


Prita menghentikan ucapannya saat melihat siapa yang datang. Mantan suaminya ada dihadapan Prita dan itu hal yang langka tapi bukannya menyambut dengan baik Prita malah langsung menutup pintu menguncinya dengan rapat.


"Prita tunggu dengarkan saya dulu,"


Sudah cukup Prita menderita karena keegoisan mantan suaminya dan sudah cukup Prita tidak hidup tenang hanya karena bayanh-bayang mantan suaminya itu.


"Prita saya tidak bermaksud apa-apa," Wendy mencoba mendobrak pintu. Hatinya mengatakan jika didalam Prita sedang tidak baik- baik saja.


"Prita!" Prita hanya diam menutup telinganya.


Dokter pernah mengatakan jangan sampai membuat kepalanya sakit jika iyah sel kanker itu akan muncul lagi. Namun kepalanya malah pening dan darah sudah mengalir dari hidungnya.


Brakkkk....


Wendy berhasil mendobrak pintu itu dan secara bersamaan Prita sudah abruk dengan darah terus menetes dari hidung wanita itu.


______________


Nay berjalan dengan tergesa dilorong rumah sakit. Perempuan itu sampai lupa jika suaminya berada didalam ruangannya.


Nay dapat kabar dari ayahnya jika sang Bunda masuk rumah sakit dan rumah sakitnya adalah tempat ia bekerja.


Tanpa menyapa Ayahnya Nay langsung masuk kedalam ikut memeriksa sang Bunda.


Sedang diluar ruangan Tiara baru saja sampai dengan masih memakai pakaian perawat rumah kanker Tiara bertanya kepada resepsionis dimana ruangan sang Bunda.


Tiara hanya diam saat melihat Ayah ralat ayah Nay karena dia sudah mendengar sendiri jika Wendy tidak mau menganggap dia anaknya.


Tak lama dari Radit datang dan langsung menenangkan Ayah mertuanya karena dia tau jika ayah mertuanya masih mencintai mantan istrinya.


"Mbak giman keadaan Bunda?"


"Bunda kamu enggak papa kan?"


"Gimana?


Nay kaget saat mendengar pertanyaan serempak dari Ayah, Adik dan suaminya. Wanita itu lalu mengeleng pelan bahunya merosot kebawah pertanda—


"Nay..."


Nay menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Bunda cuman kelelahan dan darah itu efek dari obat-obatan yang selama ini dikonsumsi oleh Bunda dan juga jangan sampai buat Bunda banyak pikiran,"


Tiara merosot kebawah namun sebelum dia benar-benar duduk dilantai seseorang menompang tubuhnya.


"Om Hermawan?"


✨✨✨✨✨


Bersambung....