
Ikhlas kan Radit.
"Veronika!!"
Tanpa rasa takut Veronika melangkah kearah Nay yang menatap dia dengan tatapan tajam. Nay tidak sendiri ada dua polisi dan juga ada Fauzan disana.
"Kalian telat 5 menit dan kalian tau dia udah MATI!" Kata Veronika menekan kata mati.
"Dasar wanita gila," maki Nay lalu mendorong Veronika hingga terjatuh. Wanita cantik dengan hijab panjang itu berlari kearah Radit.
Nay langsung mencabut selang infus itu dengan kasar. Tangannya yang gemetar itu menekan-nekan dada bidang Radit. Alat pendekteksi jantung itu bergaris lurus membuat Nay panik otaknya blank.
"Gimana Nay?" tanya Fauzan mendekat kearah Nay.
Nay mengeleng dengan pelan dia tidak kenapa pikirannya sangat buruk. Kondisi Radit sangat lemah bahkan Nay tidak dapat merasakan jantung Radit. Nay benci situasi saat ini--dimana dia yang biasanya mengurus orang-orang sakit malah menjadi panik saat ada salah satu anggotanya sakit.
Nay menahan nafasnya sejenak. Tangannya terus mencoba membuat jantung dan aliran darah Radit kembali. Dengan sekuat tenaganya dia harus bisa mengembalikan detak Jantung Radit.
"Nay, denyut nadi Radit enggak ada," ucap Fauzan saat setelah memegang urat nadi Radit.
"Jangan bohong," lirih Nay menekan-nekan dada Radit.
Bruk...
"Nay,"
******
Entah sudah berapa lama kedua bola mata itu tertutup, namun saat ini bulu mata lantak itu membuka dengan perlahan.
Kedua bola mata itu mengedarkan pandangan yang nampak sedikit buram.
"Bunda?" gumam Nay saat melihat Prita berdiri disisi nya.
"Nay. Bagaimana keadaan kamu,"
Prita menghela nafasnya sejenak lalu tersenyum. "Nay mimpi apa?" tanya Prita mengusap punggung tangan Nay.
Ibu dari tiga orang anak itu menatap Prita. "Masa tadi Nay mimpi kalau mas Radit itu meninggal karena Veronika kasih serum penghenti saraf tubuh, konyol banget mimpinya bikin Nay takut." ucap Nay seolah dirinya sedang mengadu.
Suara parau itu membuat Prita langsung menahan tangisnya. Tawa sumbang milik Nay membuat siapapun yng mendengar nya ikut sedih.
"Nay ...." lirih Prita merengkuh tubuh Nay. Tangannya mengusap punggung Nay dengan lembut.
"Ikhlaskan Radit," ucap Prita.
Nay segera melepaskan rengkuhan Bunda nya. Dia menatap Prita dengan tajam. "Bunda, bohong. Tadi sebelum Nay ti-- enggak enggak mungkin mas Radit meninggal, Bunda Bohong kan?bunda bercanda kan? Bercanda nya enggak lucu bun, tadi aja kan mas Radit Nay tinggal sebentar," oceh Nay diiringi tawa sumbang dan isakkan kecil namun tertahan sesuatu.
Air mata ibu dari tiga orang anak itu terus mengalir.Nay terisak kecil karena ini. Di benci pikiran negatifnya.
Apa benar Radit meninggalkan Nay, lagi?
Tidak-tidak, Radit masih ada, Radit tidak pergi kemana-mana.
"Nay," suara bariton itu membuat Nay mendongkak, disana Wendy berdiri dengan pakaian serba putih melekat ditubuh pria paruh baya itu.
"Ayah, tadi bunda bohongin Nay. Masa Bunda bilang, kalau Nay harus Ikhlaskan mas Radit. Padahalkan mas Radit enggak apa-apa." Nay menangis mengadu kepada Wendy yang sudah ada didekatnya.
"Yang dikatakan bunda mu benar sayang," ujar Wendy lembut namun penuh dengan keseriusan.
"Ayah sama bunda Bohong kan? Ini prank kan? Mas Radit masih ada, mas Radit enggak kemana-mana. Mas Radit udah janji sama Nay dia enggak akan pergi lagi," isak Nay.
Wendy dan Prita saling berpandangan. Bagaimana lagi mereka harus menjelaskan kepada Nay? Psikis Nay masih terganggu.
Nay mungkin masih belum menerima semuanya.
"Ikhlaskan Radit. Jika kamu ingin Radit bahagia," ucap Wendy.
***Note: ini cuman cerita fiktif. Enggak ada unsur untuk menyinggung mana pun. Enggak ada unsur untuk memberikan contoh yang tidak patut ditiru. Maafkan jika semakin lama semakin tidak jelas dan muter-muter, tapi walau begitu jangan lupa tinggalkan jejak (Vote, comen dan follow juga akun author)
See you***.