Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Titik terang



"Kegagalan adalah cara Allah untuk mengatakan bersabarlah karena aku memiliki sesuatu yang lebih baik untukmu saat waktunya tiba."


*****


Entah sudah berapa lama kita berpisah.


Tau kah kamu, mau seberapa lama pun kita berpisah rasa cinta ku kepadamu akan tetap utuh.


Aku manusia terlalu naif yang percaya dengan cinta sejati, aku manusia bodoh yang tetap mencintaimu walau kau sudah menorehkan luka dihatiku yang sampai saat ini luka itu masih menganga.


Untukmu bintangku, kita dipertemukan oleh Takdir dan akan disatukan kembali oleh Takdir itu pula. InsyaAllah.


Aku menunggumu disini bersama mereka.


Naysilla Handoko untukmu Raditya Mahendra.


******


Dibawah terangnya rembulan, dibawah hamparan bintang yang germelap. Radit menatap kosong kearah bintang dan rembulan itu, suara sungai terdengar nyaring ditambah suara pohon yang diterpa anginnya malam.


'Kini saya sadar bahwa kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah melepaskan, kamu tau saya ini bodoh sangat bodoh. Saya melepaskan kamu hanya ingin kamu bahagia namun setelah saya melepaskan kamu saya malah terjebak dalam permainan musyrik ini. Jika Allah memberikan kesempatan untuk saya bertemu atau bersama kamu kembali saya akan sangat bahagia walau itu sesaat,'


'saya ingin waktu itu datang walau hanya sekejap, saya takut jika Allah mengambil nyawa saya saat ini juga. Karena pada dasarnya maut tidak ada yang tau,'


Radit menyadarkan kepalanya ketembok, membenturknnya beberapa kali saat pening menyerang kembali kepalanya. Rasanya saat ini kepala Radit akan meledak karena pening dikepalanya yang sangat hebat, ini bukan kali pertama. Rasa pening ini sudah berulang kali terasa.


"Pak Radit terkena kanker darah stadium. 1,"


Radit memejamkan matanya rapat kata-kata dokter 5 tahun yang lalu tergiang diotaknya, saat sebelum Reka menyekapnya digubuk ini.


Jika 5 tahun yang lalu kanker itu masih stadium 1 namun tidak untuk sekarang, kanker itu menaik atau masih stadium 1.


******


Tak akan ada keberhasilan sebelum adanya kesulitan. Tuhan tau batasan kemampuan kamu.


Nay menghela nafasnya dengan pelan. Saat ini dia sedang mengendarai mobil nya menuju rumah, dia baru bisa pulang karena Dira terus menangis memanggil nama Radit terpaksa Nay harus menenangkan terlebih dahulu.


Tangan memijit pangkal hidungnya dengan pelan, hari ini Nay merasa hari yang paling berat.


Tapi walau seperti itu Nay tetap mendapatkan sedikit informasi tentang Radit.


Gubuk tua, tengah hutan tak ada satu pun yang tau itu dimana. Diikat rantai selam lima tahun.


Cittttt...


Bruk...


Nay mencengkram erat kemudi nya, nafas Nay memburu. Nay menabrak seseorang, fokus terlalu tertuju kepada Radit hingga Nay lupa bahwa saat ini ia masih mengendarai mobil.


Dengan cepat Nay langsung membuka selt belt nya lalu keluar dengan cepat pula. Kakinya melangkah dengan pelan.


'Astagfirullah, maafin Nay ya Allah,' gumam Nay menggigit daging bawah bibirnya dengan pelan.


"Dek, kamu enggak papa?" Nay mendekat kearah anak laki-laki Yang sedang merunduk memengangi lutut dan sikutnya yang mungkin terluka akibat benturan tadi dengan mobil Nay.


Nay menyentuh pundak anak laki-laki itu, sepertinya anak laki-laki ini tidak asing bagi Nay.


Anak laki-laki itu mendongkak menatap Nay.


Dua pasang netra berbeda warna itu saling menatap. Nay membulatkan matanya dengan sempurna.