
Saya merindukan senyum, tingkah mu dan semua segala tentang kamu. Namun saya sadar, kita tidak akan pernah bisa bersama lagi, saya takut Tuhan mengambil nyawa saya sekarang juga. --- Raditya Mahendra.
******
Prok..... Prok.... Prok...
Veronika bertepuk tangan sembari mengelilingi tubuh laki-laki yang terikat rantai besi. Tangan dan kaki laki-laki itu diikat rantai besi yang sudah berkarat.
Tak sedikit pun rasa iba ada dihati Veronika kepada laki-laki yang pernah ia cintai, dulu. Ambisinya terlalu besar untuk menjadi kaya, ambisi prihal uang, uang dan uang menjadi Veronika buta akan segalanya.
"Bangun!" titah Veronika menendang kasar kaki yang terikat rantai dengan sepatu high hiels nya.
"Ka--mu mau apa lagi?" suara lirih itu membuat Veronika bahagia. Sudah lima tahun Veronika menyiksa laki-laki itu namun sampai sekarang entah kenapa laki-laki itu belum mati juga. Pikirnya.
Veronika mengeluarkan benda menyerupai pocong dan sebuah jarum besar nan tajam.
"Siap-siap untuk kesakitan," seru Veronika diiringi tawa kejamnya.
Veronika berjalan mengelilingi tubuh yang sudah tampak lemah. Tangannya mulai menusukkan jarum kearah perut pocong itu.
"Arghhhh..... " teriak laki-laki itu saat merasakan sakit yang luar biasa diarea perutnya.
" Raditya Mahendra, andai saja dulu kamu tidak menolakku, andai saja dulu kamu mau bertanggung jawab atas kehamilan ku. Gara-gara kamu tidak mau bertanggung jawab aku harus menikah dengan laki-laki tua bangka yang sudah hampir mati" Veronika tertawa keras dengan terus menusukkan jarum itu kebeberapa bagian tubuh benda menyerupai pocong itu. Tawanya semakin keras saat darah keluar dari mulut laki-laki itu.
Laki-laki itu adalah Radit. Kalian semua tidak tau bagaimana menderita nya Radit selama lima tahun belakangan ini, dia dikurung Disebuah gubuk ditengah-tengah hutan jauh dari perkotaan.
Radit diikat oleh rantai besi yang sudah berkarat selama 5 tahun ini. Selalu disiksa jika Radit tidak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh Veronika dan Reka. Bukan disiksa oleh tangan mereka secara langsung namun siksa oleh benda musyrik yang kini sedang dipegang Veronika.
"Saya tidak mau bertanggung jawab karena dia bukan anak saya--- arghhh," teriakan itu tidak membuat Veronika iba atau kasihan. Veronika terus menusukkan jarum itu kebeberapa bagian tubuh benda menyerupai pocong. Yang jelas, semakin Radit kesakitan semakin besar kekuatan dia si makhluk hitam yang sangat haus darah itu.
Hanya Reka dan Veronika saja yang dapat melihat makhluk itu.
"Iya, dia bukan anak kamu tapi dia anak kakak kamu, Rama. Tapi laki-laki itu malah tidak mau bertanggung jawab, setelah saya kembali dia malah menikah dengan perempuan sok suci itu," suara Veronika dibuat-buat sedih dan itu membuat Radit semakin muak. "Jika saya tidak bisa mendapatkan Rama atau kamu, maka kedua perempuan sok suci itu juga tidak akan bisa mendapatkan kalian berdua. Terutama istri kamu yang sok kuat itu dia tidak akan pernah bisa melihat kamu lagi. Saya tidak akan membiarkan kalian bersatu,"
Radit berusaha tidak mengeluarkan suaranya, jika seperti ini Veronika tidak akan pernah berhenti, Veronika akan tetap menyiksa Radit sampai dirasa puas atau sampai Radit tidak berdaya, lagi.
"Setelah saya menyingkirkan si tua bangka itu saya akan menyingkirkan Rayen, saya akan membuang anak itu ke club gay, saya akan menyingkirkan Rama dan perempuan sok suci itu, lalu kita akan hidup bahagia," ucap Veronika diiringi tawa jahat miliknya. Tanpa berucap lagi Veronika pergi meninggalkan Radit yang sudah hampir tidak berdaya.
Radit mengontrol nafasnya yang masih terengah, matanya terpejam sebentar. Tangan Radit merongoh selembar foto, itu foto Nay dan kedua anaknya yang sedang tersenyum manis.
Foto itu Radit dapatkan 3 tahun lalu, saat dia tak sengaja bertemu dengan Fauzan dan Tiara disebuah apotek.
*Flashback on.
Saat itu Radit dibebaskan oleh Reka untuk membeli obat Rayen karena anak laki-lakinya itu sedang demam tinggi. Namun walau Radit dibebaskan dia tetap diawasi oleh anak buah Reka dan Veronika.
Saat Radit sedang membayar dikasir, suara tangisan bayi membuat dia kontan menoleh. Betapa terkejut itu adalah Tiara dan Fauzan, Radit langsung panik saat itu dia hendak kabur namun sang kasir apotek menghalangi Radit.
Keributan itu membuat Fauzan dan Tiara datang menghampiri Radit dan kasir perempuan yang sedang berdebat.
"Ada apa ini?" tanya Fauzan laki-laki itu tak kalah kaget saat tau siapa pria berhoodie hitam itu.
"Awsss... "ringis Radit pasalnya Fauzan mencekal diarea pergelangan tangan yang ada luka miliknya akibat rantai besi berkarat.
" Kita perlu ngomong, mas Radit harus jelasin semuanya, ada dua orang yang membutuhkan mas Radit," ucap Tiara penuh dengan ketegasan.
Mau tak mau Radit harus mengangguk, walau dalam hatinya terbesit rasa takut yang teramat.
"Cari tempat tapi jangan yang terbuka,"
******
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi sama lo selama ini? Lo kemana aja, kenapa enggak ada kabar sama sekali." tanya Fauzan.
Radit menghela nafasnya saat dia bingung harus menjelaskan dari mana terlebih lagi dia takut anak buah Veronika dan Reka curiga karena dia terlalu lama didalam apotek. Iya, memang saat ini Fauzan, Tiara dan Radit berada disalah satu ruangan didalam apotek. Fauzan meminjamnya dengan alasan ingin mengganti popok anaknya.
"Saya bingung harus menjelaskan dari mana namun yang jelas saya pergi bukan karena memilih Veronika. Awalnya saya memilih mentalak Nay karena ....." Radit mengantung ucapannya membuat Fauzan dan Tiara kesal. Mereka benar-benar ingin tau alasan Radit yang sebenarnya.
"Karena saya tidak mau membuat Nay repot mengurus saya, lagi." ucap Radit.
"Repot maksudnya?" tanya Tiara membuka suaranya. "Mbak Nay, enggak pernah ngerasa repot atau terbebani dengan mas Radit, dia masih mas Radit sampai saat ini. Apa mas Radit tau setelah mas Radit mengirimkan surat cerai mbak Nay positif hamil?" tanya Tiara.
Radit terdiam, bulan- bukan karena heran Nay hamil namun, dia heran prihal surat cerai itu. Dia tidak pernah mengirim atau menggugat Nay untuk bercerai, Malahan Radit juga menerima sebuah surat cerai yang katanya dikirim oleh Nay. Lalu siapa dalang dibalik semua ini?
"Ha--mil?" tanya Radit memastikan sekali lagi bahwa dia tidak salah dengar. Lupakan dulu surat cerai.
"Iyah, mbak Nay hamil. Beberapa hari setelah mas Radit mengirimkan surat cerai kerumah, mbak Nay mual- mual. Bunda langsung panggil dokter dan ternyata mbak Nay lagi hamil, usia kandungannya 3 minggu. " ujar Tiara. Dia memberikan anaknya kepada Fauzan, Tiara mengambil selembar foto kepada Radit.
Radit menerimanya dengan senang hati. Kedua mata Radit berembun, dia menatap sendu kearah dua anak kembar dan Nay. Ya, itu foto Nay dan seorang anak kembar.
"Saya merindukanmu," ibu jari Radit mengusap foto itu tepat diwajah Nay.
Radit merasakan sakit diarea perutnya, lagi. Pasti Reka mengetahui dia sedang bersama Fauzan dan Tiara.
"Alasan saya meninggalkan Nay karena waktu itu saya divonis mengidap penyakit kanker darah hidup saya hanya beberapa tahun lagi. Saya tidak mau membebani Nay, dan saya tidak mau hidup Nay berbahaya hanya karena saya." ujar Radit dengan pilu.
"Tapi Nay enggak pernah merasa hidupnya terbebani sama lo Dit... " ucap Fauzan.
" Maaf saya tidak lama-lama, saya titip Nay dan.... "
" Reymond dan Melody,"
Radit mengangguk lalu meninggalkan Fauzan dan Tiara.
"Jika tuhan mengizinkan. Saya akan kembali untuk kalian,"
Flashback of*
"Mungkin ini resiko saya karena telah melepaskan begitu saja. Maafkan saya, karena telah bodoh membuat kamu terluka. Kamu wanita paling kuat yang pernah saya temui, Nay, saya takut jika tuhan mengambil saya sekarang juga. Jujur saya sudah lelah dengan semua ini tapi saya mencoba bertahan, saya ingin berkumpul dengan kamu, Rayen, Reymond dan Melody, tapi saya sadar kita tidak akan bersama lagi, saya yakin kamu membenci saya,"
"Saya merindukanmu," lirih Radit sebelum kesadarannya hilang. Matanya tertutup, nafasnya begitu terengah.