
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS Al Insyirah 5)
******
Bleshh.....
Pisau tajam itu menancap sempurna dilengan atas Radit, Reka melempar pisau tajam itu tepat sasarannya.
Kedua bola mata pria paruh baya itu memancar kemarahan yang teramat, dia kehilangan uang 1 miliar. Gara-gara Radit dia kehilangan uang sebanyak itu, Rayen pergi entah kemana padahal kontrak perjanjian dia dan club gay sudah ditandatangani tapi Radit malah membuat semuanya kacau.
"Dasar tidak berguna!!!" teriaknya dengan frustrasi. Selain dia menancap kan pisau dilengan Radit, pria paruh baya itu juga menghajar habis-habisan anak buahnya
"Kenapa kalian lengah, hah?! Kenapa kalian bisa membuat bocah ingusan itu pergi, hah?!" teriak Reka menendang perut anak buahnya.
Radit menatap nanar kepada Papa-nya. Sejak dulu Reka tidak pernah berubah, hanya mementingkan ambisi saja tanpa mementingkan diri sendiri dan keluarganya.
Ambisi Reka terlalu besar hingga Reka lupa akan rasanya kehangatan keluarga, Reka terlalu ingin berkuasa hingga dia tidak menyadari bahwa banyak yang tersakiti oleh sikap Reka yang seperti ini.
Rasa ngilu oleh tancapan pisau tajam itu membuat meringis pelan, dengan perlahan dia mengambil pisau itu menyimpannya dengan rapih.
Luka dilengan pasti cukup besar karena darah tak henti-hentinya mengalir.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Radit, dingin. Dia tidak pernah memanggil Reka dengan Embel-embel Papa atau apalah yang jelas rasanya Radit tidak sudi jika harus memanggil Reka seperti itu.
"Kau masih bertanya apa yang ku inginkan, hah?!" Reka berjalan kearah Radit. Tidak ada pancaran rasa bersalah dimata Reka atas kelakuannya kepada Radit sejak dulu. "Aku ingin kau menyerah semuanya, aku kau mati dan aku tidak ingin kau hidup bahagia,"
"Jika kau menginginkan itu kenapa kau tidak melakukan sekarang juga," Radit sudah lelah dengan semua ini. Biarlah jika dia mati sekarang juga asal Rayen selamat dari Reka dan Veronika. "bukannya kau sudah mendapatkan apa yang kau mau kenapa kau tidak langsung membunuhku saja,"
Rasanya Radit ingin menghajar Reka saat ini juga. Kalau saja tangan dan kakinya tidak dirantai pasti Radit saat ini sudah meluapkan semuanya kepada Reka atau Veronika.
*****
Nay menatap rumah sakit jiwa yang pernah ia kunjungi 7 tahun lalu saat dia masih mengurus Radit yang sedang drop drop nya.
RUMAH SAKIT JIWA CINTA KASIH.
Plang besar itu menyambut Nay, banyak orang-orang yang berkeliaran dirumah sakit ini namun tidak ada satupun yang berani keluar atau kabur.
Ada Ibu ibu yang mengedong boneka, ada yang teriak-teriak tak jelas, ada yang bergelantungan dipohon dan masih banyak lagi.
Nay tidak yakin jika Dira--mertuanya ada disini. Seiujurnya Nay kesini hanya ingin menemui Dira menanyakan keberadaan Radit dan Rayen karena menurut Rama hanya Dira yang tau dimana Radit.
Menemui Dira adalah tujuannya selain itu juga ada tujuan lain yang Nay inginkan, Nay akan membantu Dira sampai sembuh karena bagaimanapun Dira adalah ibu Radit wanita yang telah melahirkan suaminya ralat mantan suaminya itu.
"Mbak, saya ingin menjenguk ibu Dira Fadila," ucap Nay saat dia sudah berada pusat informasi.
Dirumah sakit ini sangat dijaga ketat untuk Orang yang hendak menjenguk, banyak prosedur yang harus dilakukan.
"mbak siapanya Ibu Dira Fadila?" tanya wanita seumuran Nay menggunakan baju putih-putih seperti suster atau penjaga.
"Saya keluarga jauhnya mbak," jawab Nay.
"oh, ibu Dira Fadila ada kamar mawar nomer 201 lantai 2," ucap suster perempuan itu lalu menyondorkan sebuah kertas untuk Nay tanya tangani.
******