Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- like father like son



Like father like son.


"Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian (taqdir) dari Allah dengan senang hati."(Ali bin Husein)


*****


" Gimana keadaan mas Radit?" tanya Tiara kepada suaminya yang baru saja selesai menganti pakaian.


Fauzan mencium bibir ranum istrinya sekilas. "Koma, keadaan nya sangat kritis. Enggak ada dokter yang tau kapan dia bangun," ujar Fauzan.


"Hanya do'a dan Allah aja yang bisa," ucap Tiara.


Fauzan mengangguk, tangannya mengusap perut buncit Tiara. Beberapa minggu lagi Fauzan akan mendapatkan anggota baru didalam keluarga kecilnya. Faira Martadhinata, itulah Nama yang Fauzan siapkan untuk calon buah hati nya nanti.


"Kita hanya bisa serahin ini semua sama Allah,"


*****


"ini kejutan, saya tidak menyangka jika pasien akan bangun saat ini, padahal tadi keadaan pasien sangat kritis." ujar Dokter Haikal.


Nay tersenyum membalas ucapan dokter Haikal, kedua bola mata Nay beralih kearah Radit yang masih menutup mata, namun walau kedua bola mata itu tertutup tetap saja ada kemajuan tidak seperti sebelumnya.


"Eungghh... " lengah Radit mulai membuat matanya dengan perlahan, jemarinya bergerak sangat pelan.


Nay langsung mendekat kearah Radit, air matanya luruh beriringan dengan bibirnya yang mengucapkan syukur terus.


" Mas ..."suara lembut Nay terdengar ditelinga Radit yang masih mengedarkan pandangannya, tangan Nay terangkat mengusap pipi tirus Radit.


"Na..y.. " suara parau milik Radit membuat Nay tersenyum, laki-laki yang sadari dulu memiliki sikap dingin nan tegas kini hanya terbaring lah diatas ranjang rumah sakit.


"Mas, ada sakit? Atau mas mau minum?biar Nay yang ambilin." kata Nay.


Radit mengeleng pelan lalu melepaskan alat oksigen nya. "Saya tidak apa-apa," lirih Radit.


Dokter dan suster yang lainnya langsung pergi membiarkan Radit dan Nay untuk berbicara, lagi pula kondisi Radit sudah mulai membaik.


"Mas, Nay takut," ucap Nay mengenggam tangan Radit dengan erat. Air matanya terus menetes, Radit tersenyum lalu ibu jarinya mengusap air mata Nay..


"Saya baik - baik saja, jangan menangis," ucap Radit lemah.


"Maafin Nay ya, Mas. Kalau aja Nay enggak egois pasti kejadiannya enggak akan begini." ujar Nay.


"harusnya saya yang minta maaf karena karena selalu membuat kamu tersiksa," Radit mengeratkan tautan jarinya dengan Nay.


Radit melepaskan tangannya dari genggam tangan Nay, telapak tangan Radit berpindah kepipi Nay mengusap air mata yang terus mengalir itu.


"Jangan pernah mengatakan itu, saya yang seharusnya mengatakan hal itu. Kamu adalah istri terbaik bagi saya, saya yang buruk karena selalu melibatkan kamu kedalam masalah yang sedang saya alami," ujar Radit, ibu jarinya mengusap rahang atas Nay dengan lembut.


"Mas ... Tau enggak saat mas mengatakan talak saat itu Nay benar-benar ngerasa bahwa Nay udah gagal jadi istri. Allah benci sama perceraian tapi Nay merasakan itu," ucap Nay.


Senyum Radit meredup bibirnya, hatinya terasa tertusuk balati saat Nay mengatakan itu. Tenggorokannya terasa tercekat, dia memang laki-laki bodoh karena menelentarkan Nay.


"Dan kamu tau saat saya tau bahwa kamu mengandung dan melahirkan tanpa saya disisi kamu m, disitu saya merasa laki-laki bodoh, sangat bodoh,"


Kata Radit menahan nafas nya sejenak.


******


Setelah ruang inap Radit dipindahkan keuangan VIP sesuatu kemauan Nay, kini yang menunggu Radit hanya Nay dan Reymond.


Rayen dan Melody sudah dibawa kembali kerumah bersama Prita begitupun dengan Wendy.


Nay melipat mukenanya lalu menyimpan mukena miliknya itu disofa. Kedua bola matanya menatap Radit dan Reymond yang sedang mengobrol, baru kali ini Nay dapat melihat wajah ceria Reymond. Radit yang duduk sembari bersandar, walau kondisi Radit belum pulih benar namun lelaki itu tetap mendengar celotehan Reymond yang tiba-tiba cerewet seperti ini. Radit hanya sesekali menyauti ucapan Reymond.


"Rey, udah dulu ceritanya nanti dilanjutin, Daddy nya mau makan dulu terus minum obat," kata Nay mengusap puncak kepala Reymond.


"Iyah," jawab Reymond singkat lalu turun dari ranjang Radit dengan susah namun Nay tidak mau membantu karena jika dibantu pun masih Reymond akan mengatakan;


'Aku bisa sendiri, aku bukan anak manja,'


Pada dasarnya Reymond memiliki sikap keras kepala entah dari mana sikap itu.


"Mom, aku mau mandi," ucap Reymond lalu mengambil tas miliknya melangkah kearah kamar mandi yang ada di ruang ini.


"Cuek kaya Daddy nya," ucap Nay lalu mendekat kearah Radit duduk dibibir ranjangnya.


"heum, tapi saya enggak seperti itu jika bersama kamu,"


Nay mengidikkan bahunya. "Reymond emang kaya gitu saat ditau kalau Daddy nya itu bukan pesiar kapal,"


"Salah sendiri ngerangkai cerita bohong,"


"ide nya Fauzan,"


"Bukan Fauzan namanya kalau dia enggak jago ngerangkai cerita bohong," ujar Radit.