
Radit mengepalkan tangannya merasa tidak dianggap sama sekali oleh Nay, niatnya baik. Dia hanya ingin meminta maaf kepada istrinya namun melihat respon seperti itu membuat dirinya merasa direndahkan .
Dengan sekali hentakkan Radit menarik tangan Nay agar duduk kembali.
"Kamu kenapa sih?! Saya sudah sabar sejak semalam saat kita pulang dari party , kamu maunya apa?" bentak Radit.
Nay memejamkan matanya sebentar, Ayahnya tidak pernah membentak Nay tapi kali ini Radit membentaknya tanpa sebab.
"Naysilla jawab!!!" Radit mencengkram bahu Nay dengan kuat.
"saya sudah meminta maaf, apa itu kurang buat kamu? Hah ?" bentak Radit kembali karena tidak juga mendapatkan respon dari istrinya.
"Nay enggak butuh kata maaf," lirih Nay disertai isakkan yang sadari tadi ia tahan.
"terus kamu maunya apa? Hah?!"
"Aku enggak butuh kata maaf kalau kamu masih nyakitin aku kaya gini," balas Nay.
Radit mengeratkan cengkramannya pada bahu Nay. "Saya menyakiti kamu seperti apa? Saya merasa tidak pernah menyakiti kamu,"
"Aku udah nyoba sabar tapi saat aku lakuin itu kamu tetap kaya gini, aku berusaha berjuang sampai detik ini, aku berusaha pertahanin semuanya saat aku tau jika Ranti hamil anak kamu mas, aku tetep percaya dan nyari semua buktinya sendiri. Istri mana yang yang enggak terluka saat tau jika suaminya masih mencintai mantannya,--cinta pertama yang jelas jelas wanita itu sendiri siap menjadi madu aku. Aku capek mas, kalau kamu ingin tau psikis aku terguncang karena calon anakku meninggal,"
Sudah habis kesabaran Nay. Berdosakah dia melawan suaminya? Nay hanya ingin mengutarakan apa yang sedang kini ia rasakan.
Cintanya, pengorbanannya, rasa sayangnya kini terasa hambar. Nay memejamkan sebentar mengusap air mata yang terus mengalir tanpa komando. Dulu Nay bisa hidup dengan Radit walaupun hatinya masih mencintai Bayu, Nay tidak membedakan semuanya sikap dan perilakunya tetap sama, tapi Radit? Dengan mudahnya mengatakan bahwa semua yang Nay lakukan tidak ada apa-apanya.
"Kita nikah udah mau 4 tahun tapi sampai sekarang mas tetap enggak bisa bikin Nay bahagia, mas belum juga bisa ngertiin Nay. Sekarang Nay tanya mau mas apa? Nay enggak butuh kata maaf kalau mas tetep nyakitin Nay dengan masih mencintai Veronika, ini hati mas bukan batu. Nay bisa mundur kapan aja saat Nay benar-benar capek ngadepin kamu, mas." isak Nay melepaskan cengkram tangan Radit yang ada dibahunya.
Radit langsung menarik Nay kedalam pelukannya, hanya kata maaf yang bisa Radit ucapkan ia kehabisan kata-kata jika Nay sudah menangis sesegukkan seperti ini. Dia merasa gagal menjadi suami yang baik.
Nay berusaha berontak melepaskan pelukan Radit yang semakin lama semakin mengerat . Nay terus memukuli dada bidang suaminya meminta untuk dilepaskan.
"Naysilla jangan seperti anak kecil!"tegas Radit.
Anak kecil? Sebenarnya siapa yang seperti anak kecil.
Nay menatap kedua manik mata milik suaminya. Satu tamparan mendarat dipipi Radit, entah sadar atau tidak Nay menampar pipi kanan suaminya.
Salahkah Nay mengatakan apa yang sedang Nay rasakan saat ini?
Nay mengatakan prihal Veronika malah disebut egois, Nay mengutarakan apa yang sedang Nay rasakan malah disebut seperti anak kecil.
Sebenarnya siapa yang seperti anak kecil, Nay atau Radit?
Sebenarnya siapa yang egois? Nay apa Radit atau malah keadaan ya sedang egois.
Nay sungguh lelah menghadapi semuanya, apa Nay harus menyerah saja?