Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
32. Bab 32: Tiara Pov



Tiara Pov.


Hamparan bunga mawar hitam didepanku sangat mendominasikan suasana hatiku, saat ini. Rasa sedih dan kecewa masih menyelimuti diriku, Pernyataan malam itu yang membuatku terpuruk dan jatuh apalagi sekarang dalam rahimku tumbuh janin yang tidak bersalah.


Aku tidak membenci Ayah dari janin ku namun aku benci dengan sikapnya yang dengan teganya mempunyai hal licik seperti itu. Dan juga aku benci kepada diriku kenapa waktu malam itu aku hanya diam tidak berontak aku malah diam seperti menikmatinya, bodoh bukan aku?


Dan ini lah Jerman negara baru yang ku tempati saat ini untuk melupakan kejadian itu sejenak, Sudah sebulan lebih aku berada disini sejujurnya aku tidak mau tapi Ayah belum mengizinkan aku pulang ke Indonesia.


Iming-iming menikah, sikap romantis serta manis, atitude yang baik kepada siapapun, sikap jail dan humor yanh membuatkan langsung percaya kepada pria itu saat dua bulan pertemuan kami.


Jika dulu aku menganggap Ayah adalah pria paling jahat namun kini yang ku anggap pria paling jahat adalah Ayah dari janinku saat ini.


Rasa sesak kembali menyerang ulu hatiku saat kembali mengingat kata dan sikap kasarnya saat malam itu dia meniduriku.


Aku tau saat malam itu aku juga salah karena tidak melawan malah aku hanya diam bergeming ditempat, tubuh ku kaku saat itu namun kini aku benar-benar menyesal karena malam itu.


"Putri Ayah kok melamun," ucap Ayah yang tiba-tiba datang langsung mengusap rambutku. "Jangan banyak ngelamun nanti kesambet,"


Sikap dingin Ayah sudah berubah kepadaku.


Ya, setelah kejadian itu sikap Ayah sangat berubah kepadaku. Bunda bilang Ayah sudah sejak lama ingin merubah sikapnya kepadaku namun pria paruh baya ini bingung harus dari mana, katanya.


"Memangnya di Jerman ada hantu,"


"Ck! Bukan hantu sayang tapi setan," aku terkekeh mendengar Ayah mendecak sebal.


Umur boleh tua namun Ayah masih terlihat gagah dan berotot. Pantas saja Bunda tergila-gila kepada Ayah sampai saat ini.


"Anak buah Ayah masih mencari dia dan keluarganya jika dia tidak mau bertanggung jawab atas janin ini Ayah bisa mencari kan kamu laki-laki yang lebih dari dia," Ayah mengusap perutku yang sedikit membuncit.


"Ayah prihal jodoh hanya Allah yang tau,"


"Iyah,"


Tapi jika jodoh aku bisa apa?


Menolaknya pun pasti akan bersatu.


"Hermawan pun tiba-tiba hilang, perusahaannya sudah bangkrut sebelum kejadian itu."ucap Ayah mampu membuatku langsung menoleh menatap wajah tegasnya.


"Ayah yang membuat perusahaan om Hermawan bangkrut?" panikku karena bagaimana pun om Hermawan pernah membantu ku dan Bunda.


"Bukan sayang. Perusahaannya terlili banyak hutang, rumah, mobil dan mungkin semua asetnya disita," bantah Ayah.


"Ah iyah, Ayah lupa tadi Nay menelepon katanya dia sudah mantap berhijab dan juga dia menanyakan kesehatanmu terus,"


Aku tidak menyangka jika mbak Nay mengambil keputusan untuk mantap berhijab. Padahal memakai baju tebal saja dia selalu mengeluh dan berkeringat lalu sekarang dia berhijab memakai pakaian tertutup?


"Ayah mengatakan kamu dan janinmu baik-baik saja." imbuh Ayah lagi.


"Ara jadi kangen mbak Nay,"


"Nanti ya jika daya immun kamu sudah pulih lagi kita terbang ke Indonesia," Aku hanya mengangguk.


Saat ini aku hanya yang aku butuh kan adalah dukungan dari keluargaku. Ayah, Bunda, dan mbak Nay yang ku butuhkan, keberadaan mereka yang membuatku bangkit dari keterpurukkan ini.


Biarlah dia menjadi masalalu yang harus dikenang bukan masa depan yang harus diharapkan oleh ku.


Jika jodoh Allah akan mempersatukan atau membuat kami bertamu.


Kini ku serahkan semuanya kepafa sanh pencipta karena tempat curhat ku saat ini adalah Allah.


✨✨✨✨✨


Bersambung...