
"Sekarang kalian tidur, jangan berantem terus,"
Aku dan Tiara hanya terkekeh. Kami bertiga sedang berbaring diatas ranjang dengan lengan Bunda menjadi bantalannya.
Sejenak aku melupakan Ayah dan Mas Radit karena kebersamaanku bersama Tiara dan Bunda.
"Bun, Aku belum nama Bunda loh," ucapku..
"Nama Bunda itu Prita,"
"Sekarang aku mau nanya alasan Bunda ninggalin aku dan Ayah," Bunda Langsung terdiam dan suaar Tiara pun sudah tidak terdengar mungkin anak itu sudah tidur.
"Kamu tau kanker otak itu ganas?" Aku mengangguk. Aku tau selain kanker darah kanker otak lah yang lebih ganas.
"Dulu saat Bunda dinyatakan positif hamil Tiara Bunda juga divonis kanker otak stadium lanjut. Bunda meninggalkan Ayah karena saat itu keuangan Ayah dan Bunda sedang buruk. Bunda tidak ingin menyusahkan Ayah hingga Bunda memilih untuk meninggalkan kalian Maman berat tapi Bunda harus melakukannya Bunda tidak mau membuat hidup bunda bergantung terus kepada keluarga Ayahmu," Bunda mengecup ubun kepalaku dengan lembut.
"Tapi kenapa Bunda enggak bawa Nay pas pergii?" Aku mendongkakkan kepalaku menatap wajah teduh Bunda.
"Bunda tidak ingin kamu hidup susah,"
"Tapi Bunda buat hidup Tiara susah," Aku memendamkan wajahku didekapan Bunda. Rasa Rindu ku belum tersalur semuanya kepada Bunda.
"Udah jangan dibahas lagi, sekarang kamu tidur ya," Aku hanya mengangguk lalu mulai menutup mataku.
_________________
"Pokoknya seminggu lagi kalian harus angkat kaki dari sini,"
"Tolong beri saya waktu,"
"Saya sudah memberikan waktu namun kalian malah ngelunjak,"
"Saya mohon untuk hari ini saja,"
"Okey setelah itu kalian harus angkat kaki,"
Sayup-sayup aku mendengar percakapan itu walau tidak terlalu jelas namun aku mendengar bahwa itu suara Bunda dan Tiara serta satu orang lagi entah itu laki-laki atau perempuan.
Tring....
Suara notif ponselku membuat aku langsung mengambilnya seolah lupa dengan percakapan tadi.
My Father: Nay, Kamu pulang sekarang! Ada clien dari Amerika ingin bertemu dengan mu.
"Ish, Ayah padahal aku masih ingin bersama dengan Bunda dan Tiara." desis ku.
"Kenapa sayang?" suara Bunda membuatku langsung menoleh.
"Enggak pa-pa Bun... Cuman kesel aja sama Ayah," adu ku kepada Bunda. Air muka Bunda langsung berubah masam namun detik kemudian berubah lagi.
"Ya sudah sana urus dulu kan kapan-kapan kita bisa bertemu lagi kalau Allah menakdirkan kita," aku mematung mendengar kata itu namun aku segera mengontrol diri karena aku mengira hanya candaan.
"Ya udah Bun, Nay pamit," aku meraih tas ku lalu mencium tangan Bunda.
"Waalaikumsalam,"
____________________
Aku keluar dari ruang meeting. Sudah empat jam aku mendengarkan materi-materi meeting dari clien. Sejujurnya aku tidak paham namun Aku hanya mengiyakan terus apapun yang diucap kan oleh Clien itu.
Aku tidak langsung pulang namun aku langsung pergi ke rumah sakit karena hari ini ada jadwal aku tidak bisa digantikan padahal aku sangat lelah hari ini.
Sesampainya dirumah sakit aku langsung disuguhkan dengan beberapa pasien yang mengantri untuk melakukan kemoterapi atau
hanya sekedar memeriksa.
"Suster Tiara Handoko mengundurkan diri?"
Aku memelankan langkahku saat mendengar beberapa rekan susterku menyebut nama Tiara, adikku.
"Iyah, katanya dia mau pindah ke kota yang terpencil tapi aku juga tidak tau itu dimana,"
"Yahhh.. Sayang, padahal kinerja suster Tiara sangat bagus,"
Tubuh ku mendadak kaku saat mendengarkan itu padahal baru saja aku dan Tiara serta Bunda baru saja bertemu.
Tringg...
Aku segera membuka ponselku saat mendengar suara dering ponselku.
0836382xxxx: Tiada hari yang lebih indah selain kebersamaan kita kemarin yang penuh canda dan tawa namun nyatanya Tuhan tidak menakdirkan kita tidak bersama. Ayah atau Tuhan melarang kita untul bahagia dan bersatu. Maaf Mbak ini mendadak namun ini adalah keputusan Bunda.
0836382xxxx: Kami hanya diberi dua pilihan. Pertama jauhi mbak dan pergi sejauh mungkin atau kita benar-benar tidak akan pernah melihat mbak lagi.
Aku menjatuhkan bobot tubuhku dikursi tunggu. Aku tidak menyangka pertemuan itu begitu singkat namun indah. Aku tau ini semua adalah ulah Ayah karena siapa lagi yang tidak menyukai aku bertemu dengan Bunda.
"Ayah kenapa jahat banget sih..."
Tringg...
Notif selanjutnya yang ku kira dari Tiara namun aku salah itu bukan dari adikku itu dari Ayah.
My Father: Jangan pernah membenci Ayah. Ayah melakukan ini karena Ayah tidak ingin kehilangan kamu.
Me: Ayah memang tidak kehilanganku namun aku yang kehilangan adik dan Bunda ku.
My Father: Maksud mu apa?
Aku langsung mematikan ponselku lalu menyimpannya disaku Jas dokterku.
✨✨✨✨✨
Note: “Tidak ada yang ingin bersikap egois didunia ini hanya saja orang itu tidak ingin orang yang disayangi nya terluka atau kehilangan orang itu,”
Tinggalkan jejak okey.