Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
18. Bab 18: Mulai berubah



"Om Hermawan?" Tiara langsung memeluk tubuh laki-laki yang ada dihadapannya. Pria seumuran Ibunya sudah ia anggap keluarga. Tiara mencurahkan semuanya. Perempuan itu hampir, hampir saja kehilangan Bundanya.


"Kamu kenapa Ra..." Hermawan mengusap penggung Tiara yang bergetar karena menangis.


"Sel kanker itu hampir tumbuh lagi. Ara enggak mau kehilangan Bunda, Om... Ara enggak punya siapa-siapa lagi selain Bunda," Tiara terus menangis dan saat mengatakan itu pun dengan terbata.


Hati Nay mencelos saat mendengar itu. Jadi selama ini Tiara belum menganggapnya keluarga yang jelas-jelas dia adalah kakak kandungnya?


"Papa nya Fauzan?" Nay mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menoleh kearah suaminya, Radit.


"Enggak tau," hampir saja Nay menangis karena ucapan Tiara barusan namun Nay sadar jika Tiara sedang berada di fase emosional.


Hermawan mengecup ubun-ubun Tiara dengan lembut memberikan ketenangan untuk gadis yang sudah ia anggap putrinya dan anak dari sahabatnya. "Percaya sama Allah Bunda akan baik-baik aja,"


"Maaf menganggu, pasien mencari dokter Nay dan Tiara," suara suster membuat Tiara langsung melepaskan pelukan itu lalu masuk kedalam disusul oleh Nay.


"Om, apa kabar?" Radit mencium punggung tangan Ayah dari sahabatnya itu.


"Baik, kamu sendiri?" Hermawan menatap Radit lalu beralih ke arah Wendy.


"Alhamdulilah baik," Hermawan mengangguk kecil lalu masuk kedalam ruangan Prita.


Wendy yang sadari diam hanya bisa mengepalkan tangannya. Melihat kedekatan Tiara dan Hermawan dan kini pria paruh baya itu masuk kedalam tanpa permisi. Marah? Cemburu? Tentu namun Wendy tidak ada hak untuk kata itu.


Prita hanya mantannya saja.


_______________


"Itu yang namanya Hermawan?"


"Iyah mbak,"


"Akrab banget sama Bunda,"


"Iyah mereka sahabat,"


"Langgeng banget sahabatnya,"


"Hmmm. Om Hermawan itu berjasa banget buat Tiara, dia yang udah biayain sekolah Tiara dari Tk sampai S1,"


"Punya anak?"


"Punya, satu cewek umur 17 tahun,"


Tiara menautkan alisnya bingung dengan pertanyaan Nay. Jujur dia tidak tau jika Hermawan adalah Papa dari kekasihnya.


"Mbak kata siapa?" Tiara menatap Nay dengan bingung.


"Mas Radit. Dia kan sama Fauzan sahabat udah lama,"


"Tapi Fauzan bilang Papa nya itu ada Thailand,"


"Mbak juga enggak tau,"


Wendy yang berada dibelakang kedua kakak beradik itu hanya mengepalkan tangannya saat Tiara mengatakan Hermawan adalah orang paling berjasa dalam hidupnya. Bahkan saat ini dia hanya bisa memandang Tiara tanpa menyentuh. Dia tau dia pengecut karena tidak berani meminta maaf kepada Tiara karena keegoisannya.


"Yah?" Wendy mengalihkan pandangannya ke Nay. Putri sulungnya itu menatap dia dengan lamat.


"Ayah, okey?" tanya Nay dan hanya dibalas anggukan kecil.


"Serius? Wajah Ayah pucet banget,"Nay mengusap wajah Ayahnya.


"Ayah gak pa-pa,"imbuh Wendy sedikit berbohong. Kepalanya terasa pening dan juga tubuhnya terasa lemas dan sepertinya darah tinggi dia kumat lagi.


"Ayah pulang aja ya? Biar Nay telepon Fauzan," Wendy hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya. Nay menjauh dari sana untuk menelpon Fauzan.


Tiara?


Gadis hanya diam melihat ke akraban kakaknya dan sang Ayah. Jujur dia juga ingin namun dia masih teringat perkataan Ayahnya waktu itu.


'Saya tidak percaya jika dia anak saya. Kita berpisah 21 tahun yang lalu dan sekarang umur nya saja sudah menginjak 22 tahun. Jadi tidak mungkin dia anak saya,.'


"Jangan sedih,"Tiara mendongkak menatap siapa yang ada dihadapannya dan siapa yang mengusapnya ubunnya begitu lembut yang mampu membuat tubuhnya seperti tersengat listrik.


Demi apa, Wendy mengusap ubunnya dan berkata singkat. Walau singkat namun berarti bagi Tiara.


Nay yang sedang membantu Wendy hanya tersenyum dia tau jika adiknya pasti shock dengan prilaku Ayahnya yang sangat mendadak.


Sedikit berubah atau mungkin benar-benar berubah serta menyadari jika Tiara juga anak Wendy dan pasti tadi Wendy sangat khawatir saat prita dibawa keruang ICU, Nay tau dan Nay bisa merasakan itu.


Kekhawatiran Ayahnya sangat ia rasakan dan kesedihan Ayahnya sangat Nay sadari sejak tadi. Mungkin darah tinggi Ayahnya kumat gara-gara memikirkan Bundanya.


✨✨✨✨✨


Bersambung.....