
"Jadi mbak kenapa bisa kecelakaan?" tanya Tiara membuat Nay langsung diam dan mengingat kembali.
Nay sedang berjalan menyebrang dan saat hampir sampai tapi ada seseorang yang memanggil dan mengatakan minggir namun dia hanya diam membeku seolah-olah tubuhnya kaku semua. Saat Nay menoleh kekiri dia melihat ada mobil melaju kencang, sangat kencang. Namun saat mobil itu hampir menabraknya ada seseorang yang mendorong tubuhnya ke depan alhasil Nay terperanjat dan terjatuh. Suara sebuah tanbrakkan itu sangat nyaring Nay langsung menoleh melihat apa itu. Nay melihat sebuah tubuh manusia yang terpental ke pohon lalu terpental kembali ke sebuah mobil hingga membuat kaca depan mobil itu retak, Darah sudah mengalir ditubuh pria yang menyelemati Nay.
Nay memincingkan matanya saat merasa mengenali pria itu namun karena kepalanya merasa pusing dan pandangannya pun buram Nay langsung tak sadarkan diri tapi Nay melihat siapa penyelemat itu.
"Mbak,"tegur Tiara dan Nay langsung tersadar.
"Gimana kamu ingat?" tanya Radit.
Nay merunduk tak mampu bekata apapun lagi karena pria yang menyelamatkan dirinya adalah Fauzan, Ya. Fauzan langsung menyelamatkan Nay. Nay ingat kembali saat tubuh itu terpental layaknya barang dan juga darah mengalir dikepala Fauzan saat itu, pastinya.
"Nay hanya ingat yang menyelam—"
"Permisi, Maaf menganggu." Sontak semua menoleh menatap siapa yang datang. Disana ada Hermawan yang sedang berdiri diambang pintu wajahnya tampak sedih namun berusaha tegar.
"Om Hermawan?"gumam Tiara.
"Kit—"
"10 menit jika tidak mau pergi." Wendy memotong ucapan Prita dengan cepat.
"Sebelumnya saya hanya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Handoko karena kelakukan putra saya, Fauzan.
Saya tau kelakukaan anak saya sangat fatal namun ada alasan tertentu Fauzan melakukannya. Dan saat ini saya kemari hanya ingin meminta kepada semua anggota keluarga Handoko agar memaafkan Fauzan, Putra saya. Hermawan dengan sedikit terbata karena seperti menahan tangis saat mengatkan itu.
"Bagaimana kita bisa memaafkan jika jelas-jelas kesalahaan Fauzan sangat tidak bisa dimaafkan. Dia telah melecehkan Tiara," cetus Wendy.
"Saya tau," sahut Hermawan.
"Saya juga bisa saja melaporkan dia ke polisi jika Tiara tidak melarangnya," Wendy berkata itu dengan dingin dan ketus.
"Saya mohon tolong maafkan Putra saya karena saya hanya ingin Fauzan pergi dengan tenang," setelah mengatakan itu Hermawan langsung memutar tubuhnya pergi dari ruang inap Nay.
Wendy, Prita, Radit, Nay dan Tiara langsung terdiam mencerna kata-kata Hermawan tadi.
Radit yang cepat tanggapnya langsung berlari keluar dengan tergesa.
Tiara mendorong kursi roda milik Nay menuju Radit yang sedang duduk dikursi besi rumah sakit. Tampak kakak iparnya itu sedang sedih atau berduka.
"Mas," Radit mendongkak menatap istrinya yang sedang duduk dikursi roda.
"Fauzan..." kedua nerta Radit terlihat berkaca-kaca lalu pria itu memeluk tubuh istrinya. "Saya sudah kehilangan orang sudah saya anggap adik saya sendiri. Saat Om Hermawan datang ke ruangan kamu saat itu Fauzan baru saja menghebuskan nafas terahkirnya karena kecelakaan,"
Nay melepaskan pelukkan itu lalu menatap wajah suaminya. "Jangan bercanda, enggak lucu,"
"Saya tidak bercanda," ucap Radit.
Nay terdiam mengingat tadi saat kecelakaan. Tubuh Fauzan begitu keras membentur pohon besar itu dan juga kaca mobil itu sampai retak.
Tiara?
Wanita meremas ujung drees nya ini adalah bukan mimpi namun wanita itu masih membantah ini bahwa ini bukan sunguhan hanya mimpi saja. Suara brangkar didorong keluar mampu membuat tubuh Tiara gemetar.
Diatas brangkar itu seseorang terbaring lemah tak bernyawa dengan kain putih menutupi seluruh tubuhnya. Hermawan juga ada disana membantu mendorong brangkar.
"Kak Fau..." lirih Tiara menahan tangisannya saat Nay membuka kain putih itu wajah pucat pasih Fauzan yang membuat tubuh Tiara sangat gemetar antara tak menyangka dan menahan tangis nya agar tidak pecah.
Tiara mendekat kearah Fauzan membuat Hermawan salah satu suster mundur lalu tanpa ba-bi-bu Tiara langsung memeluk tubuh kaku Fauzan.
"Kak Fau... hiks... Bangun jangan tinggalin Ara hiks ... hiks ... Ara janji bakal maafin hiks ... kak Fau kalau kakak bangun… Kak Fau bangun..." isak Tiara dengan pilu memeluk tubuh kaku dan tak bernyawa. Perempuan memeluk Fauzan dengan erat memendamkan wajah didada bidang pria yang sudah tak bernyawa.
Radit menyembunyikan wajahnya dibahu Nay. Sahabatnya sudah pergi. Perpisah paling menyakiti adalah kematian dan Radit benci itu. Sahabat, Adik, dan Pengayomnya sudah pergi dengan hari ini.
Sekarang tidak akan ada lagi kejailan, kekonyolan, gelak tawa, candaan receh atau pun sikap tegas yang mampu membuat hidup Radit berwarna, sejak kecil hanya Fauzan yang menemaninya hingga saat ini—sampai dia menikah.
"Selamat jalan Fauzan Martadhinata kebaikkan mu akan dikenang," lirih Nay mengusap air matanya lalu mengusap rahang suaminya.
Nay menatap iba kearah Tiara yang menangis pilu memeluk tubuh Fauzan yang sudah kaku dan tak bernyawa.
✨✨✨✨✨
Bersambung....