
Tubuh Tiara semakin menegang saat ada sentuhan lembut dikedua bahunya. Sentuhan itu semakin turun ketanganya lalu mengenggam tangan Tiara.
Apa ini salah satu kejutan dari Ayahnya namun Kejutan macam apa ini?
Kejutan yang mampu membuat jantung Tiara copot karena takut yang menyentuhnya ini adalah lelaki hidung belang yang menyamar menjadi clien Ayahnya.
Bisa saja Tiara menoleh siapa yang menyentuhnya namun sekali lagi tubuh Tiara kaku bahkan bernafasnya rasanya Tiara sulit.
'Ya Allah cobaan apa ini?' Banti Tiara.
Tiara memejamkan matanya lalu tanpa sadar dia mengeratkan genggaman tangan itu..Genggaman yang terasa hangat.
"Aku rindu kamu dan Faura," bisiknya mengusap perut Tiara dengan lembut.
"Ayah...."lirih Tiara semakin takut bahkan kakinya terasa sangat lemas.
Detik selanjutnya wanita cantik itu merasakan tubuhnya melayang namun dia tidak bisa melakukan apapun selain diam mengikuti. Jika dia berontak dia tidak mau mencelakai janinnya.
Mata itu perlahan membuka objek yang pertama ia lihat adalah seorang pria namun tidak bisa terlihat jelas karena tidak ada cahaya satu pun disini.
"Ka_mu siapa?" tanya Tiara namun pria itu malah mencium keningnya dengan lembut, sangat lembut.
Tiba-tiba lampu menyala kembali setelah beberapa menit mati. Jantung Tiara berdetak kencang kembali saat melihat laki-laki yang mengendongnya.
Apa ini mimpi? Jika mimpi Tiara bahkan tidak mau bangun lagi.
Dengan kasar Tiara meneguk ludahnya. Apa dia sudah mati? Ah... tidak-tidak jika sudah mana mungkin Tiara tadi masih bisa menikmati acata pestanya.
"Kak Fau...." lirih Tiara menatap pria yanh ada dihadapanya wajah pria iti tampak pucat namun tidak mengurangi ketampanan.
"Hmm?" sahutnya lalu menurunkan Tiara.
Apa benar yang ada dihadapan Tiara sekarang adalah Fauzan?
Tangan mungil itu mengusap wajah pria yang ada dihadapannya. Ini nyata bukan mimpi atau bayangan.
"Kak Fau... ini beneran kan bukan mimpi?" tanya Tiara masih tak percaya.
"Saya Fauzan Martadhinata meminta izin kepada Bapak Wendy Handoko untuk meminang Andini Tiara Handoko putri bapak."
"Saya izinkan,"
"Kepada Andini Tiara Handoko sudikah kamu menerima pinangan dari saya. Saya bukan pria yang sempurna bahkan saya pernah menyakiti kamu,"
Suasana kian menjadi hening dan haru. Tiara dan Fauzan duduk bersebelahan didepan penghulu dan Wendy.
Tiara menarik nafasnya. "Dengan izin dari Ayah, Bunda dan mbak Nay InsyaAllah Ara menerimanya,"
"Kita lanjut ke ijab qobul," ucap penghulu dan langsung diangguki oleh Wendy dan Fauzan.
"Ananda Fauzan Martadhinata saya kawin kan engkau dengan putri saya yang bernama Andini Tiara Handoko binti Wendy Handoko dengan logam emas seberat 80 gram dan uang sebesar 500 juta serta seperangkat alat sholat dibayar tunai,,,,"
"Saya terima kawin nya Andini Tiara Handoko binti Wendy Handoko dibayar tunai,"
"Alhamdulilah...."
*
Hari ini adalah hari terbahagia untuk Tiara. Buktinya sekarang wanita itu terus tersenyum bahkan sesekali tertawa karena mendengar ucapan Fauzan yang entah apa itu.
Nay yang melihat itu ikut bahagia dengan adanya Fauzan disisi Tiara mungkin Tiara akan kembali seperti dulu namun Nay ingat dengan penyakit Fauzan yang masih ada dikepala pria itu.
"Kamu hutang penjelasan ke saya," bisik Radit tiba-tiba datang lalu memeluk Nay dari belakang.
"Hutang penjelasan apa?"
"Itu Fauzan,"
Nay terkekeh mendengar itu wanita yang kini sedang hamil muda langsung memutar tubuhnya menghadap suaminya.
B E R S A M B U N G . . . . .