Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
52. Bab 52: Siapa Monika?



N A Y P O V


*****


Aku seperti hujan yang terus mengalir deras membawa kebahagian dan dia seperti payung yang membuat kamu tidak terkena kebahagianku. Terkadang apa yang kita anggap benar belum tentu benar.


Suara gemuruh petir saling bersautan dan juga suara derasnya hujan sangat terdengar. Malam ini hujan membasahi kota Jakarta.


Aku hanya bisa menatap hujan dari atas sini—didalam kamar ku. Ya, setelah aku dibolehkan pulang aku menjadi sedikit trauma kepada jalan raya yang begitu banyak mobil yang berlalu lalang.


Aku hanya bisa diam dirumah apalagi setelah kehilangan janin dalam perutku selalu menganggap itu mimpi buruk.


Prihal masalalu mas Radit dan siapa Rayen sebenarnya aku sudah tau. Mas Radit memiliki perempuan yang masih ia tunggu hingga saat ini, perempuan itu bernama Veronika. Bukan Ibu kandung Rayen tapi cinta pertama Mas Radit.


Fauzan sudah memberitahu semua tentang Veronika siapa. Seorang perempuan cantik yang menemani Mas Radit dari nol hingga bisa memiliki perusahaan besar itu sedangkan aku hanya menemani mas Radit ketika sedang sakit saja mungkin perjuanganku tidak ada apa-apanya ketimbang perjuangan Veronika.


"Mommy,"suara itu yang selalu membuatku tersenyum. Perlahan aku bisa menerima Rayen masuk kedalam keluarga kecilku apalagi anak ini tidak memiliki salah apa-apa.


"Jangan lari,"


"Mommy aku sudah besar," rengeknya saat sikap posseive ku muncul lagi. Entahlah rasanya aku sangat menyayangi Rayen.


Rayen anak yang baik dan penurut namun sedikit manja. Aku mengerti mengapa Mas Radit sampai terlalu pokus kepada Rayen karena Fauzan bilang mas Radit sangat menyayangi Rayen melebihi apapun bahkan saat masalah Ranti waktu itu mas Radit hanya menomor dua kannya karena waktu itu mas Radit sedang proses mencari Rayen.


Anak laki-laki berusia 10 tahun itu memelukku dari belakang mencium pipiku dengan lembut. "Mom, Daddy bilang Mommy dan Ray akan berkunjung kerumah teman Daddy,"


"Emmm.... Sepertinya Mommy enggak akan ikut. Kamu dan Daddy saja ya yang pergi," Aku mengusap lengan Rayen yang melingkar dileherku.


"Tidak, kita akan pergi sama-sama," bantahnya lalu menarik tanganku kearah balkon.


"Mom, coba ulurkan tangan Mommy kearah air hujan," ucapnya mengulurkan tangannya kearah derasnya air hujan.


Rayen membiarkan telapak tangannya basah, aku hanya mengikuti anak laki-laki itu.


"Mom, aku ingin seperti air hujan aku tidak mau seperti langit,"


"Kenapa emangnya?"


"Karena aku ingin memiliki rasa sabar seperti air hujan. Walau air hujan itu selalu dibuang dengan seenaknya oleh langit dan ditarik kembali keatas tanpa protes,"


Aku tersenyum mendengar itu lalu tangan satunya ku pakai menarik Rayen agar lebih dekat denganku. "Pintar banget sih kamu,"


"Enggak pinter Mom... Kau copas dari goggle," kekehnya membuatku tanpa sadar ikut terkekeh kecil.


Aku kembali mengurus anak kecil jika dulu aku mengurus mas Radit yang mempunyai sikap kenakkan tapi sekarang aku mengurus dan mengasuh Rayen—anak dari wanita yang entah siapa karena Fauzan sendiri tidak mengenalinya.


Yang jelas Fauzan hanya mengatakan bahwa Ibu kandung Rayen adalah seorang model, korban dari pelecehan sexsual saat sedang sendiri dirumahnya.


"Ray, apa kamu mengenal Aunty Veronika?" tanyaku dengan Ragu.


"Aunty Vero Ray tidak mengenalinya tapi jika Aunty Monika Ray mengenalnya,"


Ya Allah siapa lagi itu Monika?


****