
"Gimana enak?" tanya Nay saat Radit memakan brownis buatan nya.
Radit menganggk. "Enak," pujinya.
"Syukur, tadi Nay kira kue nya enggak enak," Nay menyandarkan kepalanya dibahu Radit.
"Kamu tau, mau enak, asin, manis, asam atau pahit pun masakkan kamu saya akan tetap memakannya karena itu adalah masakkan istri saya yang dibuat dengan penuh cinta," Tangan kiri Radit melingkar dipinggang Nay sedangkan tangan kanannya sibuk menyuapkan salad buah ke mulutnya.
Nay mendongkak menatap suaminya. "Kenapa? Biasanya kan kalau Nay liat di Suara hati istri para suami akan mencela dan marah terus selingkuh kalau masakkan istrinya tidak enak atau tidak selera dengan lidahnya,"
"Rasullulah saja tidak menyela makanan masa saya yang cuman umatnya mencela makanan. Jangan terlalu sering nonton kaya begituan," Nay tertawa renyah saat suaminya melarang dia menonton sinetron itu. Nay tidak pernah menonton sinertron itu namun dia hanya mendengar sekilas dari Bi Sri.
"Tenang Mas Nay enggak pernah nonton begituan," kekehnya.
"Lah terus itu?"
"Bi Sri yang cerita," Radit hanya mengeleng kecil.
"Nay,"
"Hmmm?"
"Prihal Fauzan," Nay menegakkan tubuhnya mendengar nama yang membuat adiknya terpuruk itu. "Jujur saya belum percaya jika Fauzan melakukan atau memiliki rencana picik seperti itu,"
"Nay juga sama masih belum percaya sih tapi mau gimana lagi Tiara itu enggak pernah bohong," ujar Nay.
"Saya tidak menuduh Tiara bohong namun saya sudah menyuruh orang untuk menyelediki dan menguntit Fauzan,"
"Terus gimana?" Nay bertanya dengan semangat.
"Belum tau sayang, Fauzan terlalu tertutup," Radit menghela nafasnya. "Fauzan adalah satu-satunya yang mau berteman dengan saya dari masa SD hingga kuliah. Saat ini saya hanya ingin menyelidiki saja jika benar Fauzan memiliki rencana seperti itu saya tidak akan pernah melepaskannya,"
"Harus berhusnuzon jangan su'uzon karena apa yang kita duga belum tentu dengan apa yang kita liat nanti," ucap Nay lalu mengusap punggung tangan Radit yang sedang ia genggam.
"Ouh iyah mas, Winda itu sepupu jauh Mas?,"
"Bukan sih. Dia itu anak asuhnya Papa,"
"Loh, kenapa bilang sepupu jauh,"
"Saya kurang tau,"
Suasana tiba-tiba hening. Nay dan Radit sama-sama terdiam, Radit masih sibuk dengan makanannya sedangkan Nay sibuk bermain ponsel.
"Mas," Radit menoleh saat mendengar Nay memanggilnya pria itu masih mengunyah makanannya. "Soal repseps itu batalin aja ya,"
"Nay pengen fotoshoot aja biar nanti pajang dikamar kalau pun adain repsepsi enggak bisa karena Bunda, ayah dan Tiara masih di Jerman belum tentu pulangnya kapan,"ujar Nay.
"Hmm, Saya juga sudah memikirkan itu dan juga aniversery nya sudah terlewat tiga minggu yang lalu,"
"Jadi boleh ya fhotoshoot aja," Radit mengangguk Nay langsung tersenyum.
"Ehh, tapi dimana?"
"Apanya?"
"Tempat fhotoshootnya,"
"Disini," Nay menautkan alisnya lalu dia menepuk jidatnya. Dia lupa jika perusahaan suaminya berjalan dibidang Entertainment jadi pasti ada tempat untuk fhotoshoot lagipula jika tidak ada pun bagaimana para model berfoto.
"Nay,"
"Hmmm,"
"Kalau kamu diposisi Tiara dan saya diposisi Fauzan kamu mau ngelakuin hal sama seperti Tiara atau mencari Bukti sendiri?" tanyanya lalu menarik pingging sanh istri agar lebih mendekat.
Nay menyandarkan kepalanya dibahu suaminya yang menurut Nay tempat ternyaman selain bahu sang Ayah. "Kalau Nay mau cari bukti sendiri dan jika itu benar pun Nay akan tetap menerimanya karena mas tau kan cinta itu buta kaya cinta Nay ke Mas buta," Radit tertawa renyah saat mendengar itu lalu tangannya menjawil hidung mancung istrinya.
"Kalau cinta saya buta saya tidak akan memilih wanita cantik ini menjadi makmum saya," Nay terkekeh saat mendengar itu wajahnya pun sudah pasti memerah semerah kepiting rebus.
"Tapi Mas kunci hubungan langgeng itu bukan cuman modal cinta dan setia," ujar Nay.
"Hmmm, iyah kuncinya juga saling percaya dan terbuka. Jadi kalau saya pulang kemaleman atau enggak pulang jangan su'uzon, harus positif thing-ting," kata Radit.
"Kalau Mas bilang lembur ternyata lagian berdua sama sekertaris mas itu Nay harus percaya?"
"Astagfirullah, baru aja saya bilang harus saling percaya dan saya mana mungkin berpaling dari istri saya yang sabar dan cantik ini," Radit mengecup puncuk kepala Nay dengan lembut.
"Iya, Nay percaya,"
Radit mengubah duduknya menjadi rebahan dengan paha Nay menjadi bantalannya.
Nay menyampingkan poni yang mulai menutup pelipisnya rambut suaminya juga sudah mulai panjang hampir menutupi telinga.
'Terima kasih ya Allah engkau telah mengembalikan suami hamba, Ya Allah jika engkau mempercaikan hamba dan suami hamba keturunan hamba ingin secepatnya agar kebahagian terlimpah ditengah keluarga kecil hamba,'
✨✨✨✨✨
Bersambung....