
Flashback
"Orang yang terkaya adalah orang yang menerima pembagian (taqdir) dari Allah dengan senang hati."(Ali bin Husein)
Nay menuruni anak tangga dengan perlahan. Wanita yang memakai Piyama panjang berwarna maroon dengan hijab senada itu hendak untuk bergabung makan malam bersama keluarganya.
Langkah Nay terhenti saat kedua netranya bertabrakkan dengan Aditya. Kenapa setiap Nay bertemu Aditya rasanya selalu ingin menangis? Menangis lalu menceritakan keluh kesahnya.
"Nay ayo makan malam bersama," ajak Prita lembut.
Nay mengangguk pelan lalu berjalan menduduki kursi yang biasa ia pakai.
Tepat dihadapannya ada Aditya.
"Mom, are you okey? Mommy nangis lagi?" bisik Melody saat Nay sudah duduk kursinya.
Nay mengusap puncak kepala Melody dengan lembut lalu mengeleng pelan menjawab pertanyaan anak perempuan nya.
"Adit kamu malam ini menginap saja." ucap Wendy yang masih nampak tenang.
"ahk, tidak usah Yah-- emm maksud saya tidak usah pak,"ucap Aditya.
Nay masih tak bergeming seolah tak peduli dengan topik pembicaraan itu. Nay tahan diri kamu jangan menangis terus. Batin Nay terus mengoceh kata itu.
Bohong jika hati Nay tidak bergetar saat melihat wajah Aditya. Bahkan saat ini jantung Nay berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Nay," suara Wendy membuat Nay segera mengerjapkan matanya.
"Iyah? Ayah manggil Nay?" tanya Nay menatap wajah Wendy.
Wendy menghela nafasnya. "Kenapa?"
"Enggak papa, Nay cuman lagi enggak enak badan," ucap Nay.
"Ada masalah?"tanya Wendy, lagi.
"Banyak,"
Nay tidak mengerti dengan dirinya sendiri bahkan Nay bingung kenapa dia bisa seperti ini.
Wendy dan Prita saling melemparkan pandangannya, lalu pandangan Wendy berlatih kepada Aditya seolah mengatakan sesuatu dari tatapan itu.
'Seperti yang kita tahu bahwa sudah lima tahun belakangan ini perusahaan Radit entertainment sudah beralih nama menjadi Reka entertainment. Namun dua hari yang lalu perusahaan itu sudah beralih nama kembali menjadi; Radit entertainment. Dan kita semua juga tahu sudah lima tahun ini bapak Radit Mahendra menghilang namun dua hari lalu setelah pelantikan kembali perusahaan itu kembali. Seorang wartawan melihat bapak Radit Mahendra Disebuah pusat perbelanjaan.'
Nay menatajamkan pendengarnya, suara itu berasal dari ponsel Rayen. Tatapan nya berubah nafasnya menjadi sedikit memburu.
"Bodoh," samar-samar Nay mendengar itu.
Prang....
Nay tak sengaja menjatuhkan sendok yang ia pegang. Dia tidak mengerti lagi dengan semua yang terjadi.
"ada yang bisa jelasin," ucap Nay menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya.
Hening.
Tak ada satupun yang mengeluarkan suaranya, bahkan semuanya tampak tak bergeming. Nay Menatap laki-laki yang ada dihadapannya dengan tajam namun masih ada embun yang mengumpul dikedua bola Nay.
Nay berdiri dari kursinya.
"Ok fine, "
*****
/Flashback/
"Veronika!!"
Tanpa rasa takut Veronika melangkah kearah Nay yang menatap dia dengan tatapan tajam. Nay tidak sendiri ada dua polisi dan juga ada Fauzan disana.
"Kalian telat 5 menit dan kalian tau dia udah MATI!" Kata Veronika menekan kata mati.
"Dasar wanita gila," maki Nay lalu mendorong Veronika hingga terjatuh. Wanita cantik dengan hijab panjang itu berlari kearah Radit.
Nay langsung mencabut selang infus itu dengan kasar. Tangannya yang gemetar itu menekan-nekan dada bidang Radit. Alat pendekteksi jantung itu bergaris lurus membuat Nay panik otaknya blank.
Nay mengeleng dengan pelan dia tidak kenapa pikirannya sangat buruk. Kondisi Radit sangat lemah bahkan Nay tidak dapat merasakan jantung Radit. Nay benci situasi saat ini--dimana dia yang biasanya mengurus orang-orang sakit malah menjadi panik saat ada salah satu anggotanya sakit.
Nay menahan nafasnya sejenak. Tangannya terus mencoba membuat jantung dan aliran darah Radit kembali. Dengan sekuat tenaganya dia harus bisa mengembalikan detak Jantung Radit.
"Nay, denyut nadi Radit enggak ada," ucap Fauzan saat setelah memegang urat nadi Radit.
"Jangan bohong," lirih Nay menekan-nekan dada Radit.
Bruk...
"Nay," panggil Fauzan saat tubuh ambruk.
Fauzan segera mengangkat tubuh Nay hendak membawa Nay keruang lain namun suara alat pendekteksi jantung membuat langkah terhenti.
"DOKTER!! DOKTER!!"teriak Fauzan.
Fauzan melangkah keluar membawa Nay keluar membiarkan dokter masuk memeriksa Radit.
*****
"Fauzan, gimana Radit?" tanya Wendy Yang baru saja datang bersama Prita.
"Tadi jantung dan denyut nadi Radit sempat berhenti tapi keajaiban datang jantung Radit kembali berdetak," ucap Fauzan.
"Sekarang Veronika kemana?Nay? " tanya Wendy.
"Veronika berhasil kabur sekarang polisi sedang mencarinya sedangkan Nay dia ruang sebelah tadi dia sempat pingsan lalu bangun saat bangun dia menangis sembari meraung tapi sekarang dokter udah kasih dia obat penenang." ujar Fauzan.
Suara pintu terbuka membuat ketiganya menoleh, seorang dokter seumuran Wendy keluar dengan senyuman bahagia mengembang.
"Ini sebuah keajaiban, serum itu mampu melumpahkan saraf manusia dalam beberapa detik namun pasien dapat melawan serum itu. Kita juga harus bersyukur karena efek serum itu membuat kanker yang tumbuh ditubuh pasien perlahan menghilang seiring dengan daya tubuh pasien yang membaik." jelas Dokter.
"Apa kami boleh melihat nya? "tanya Fauzan.
"Silahkan," ucap dokter.
****
"Hah? Kamu serius? Gimana kalau Nay curiga? Dan Ayah juga enggak mau Hyperarousal Reymond kambuh," Bantah Wendy.
"Tapi Yah, ini juga untuk keselamatan Nay dan anak-anak. Kalau kita membiarkan Reka dan Veronika terus berkeliaran," ujar Radit.
Semuanya nampak terdiam. Benar kata Radit jika mereka semua membiarkan kedua iblis itu berkeliaran, nyawa orang-orang yang dekat dengan Radit pasti akan terancam.
Tapi apa harus dengan cara itu;
Radit harus pura-pura meninggal dan mengubah identitas dengan yang baru?
"Dan ada seseorang lagi selain Reka dan Veronika," ucap Radit membuat Fauzan dan Wendy langsung menatapnya.
"maksudnya Farel?" tanya Fauzan.
Radit mengangguk serius.
"Sial, udah gue duga Dit, dia itu terobsesi sama Nay," umpat Fauzan.
"Jadi, Radit mohon ya Yah, lakuin rencana Radit, untuk anak-anak kasih tau aja asal jangan Nay tau," ucap Radit.
"bener kata Radit Yah, semuanya bakal berhasil, ini demi keselamatan semuanya." ucap Fauzan.
Wendy terdiam. Menimang namun jika tidak melakukan rencana ini pasti Nay dan yang lainnya akan selalu dintai oleh Farel, Reka ataupun Veronika yang pasti nanti akan kembali membalaskan semuanya..
"Okey ayah setuju, "
****
Sejak hari itu Radit, Fauzan dan Wendy melakukan rencana yang mereka telah susun. Walau Radit mengerjakan nya hanya diatas brangkar karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Mereka melakukan rencana yang pertama yaitu, meneror Veronika tentang kematian Radit dan Veronika bunuh diri akibat depresi bukan kesalahan Fauzan Radit maupun Wendy.
Kedua mereka menjembak Reka hingga Reka berhasil dipolisikan bersama anak-anak buahnya. Serta satu lagi dukun yang membantu Reka dan Veronika pun ikut tertangkap.
Dan yang ketiga Radit, Fauzan dan Wendy melakukan rencananya menjembak Farel. Disini Farel juga bersalah. Akibat pengaruh alkohol Farel mengatakan apa yang selama ini terjadi. Fauzan merekam semua ucapan Farel hingga membuat polisi langsung mengintrogasi Farel.
/Flashback/