Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
30. Bab 30: Langsung Pecat



Nay melirik ponselnya kembali siapa tau Radit namun bukan. Perempuan itu sudah beberapa kali menelpon Radit dan juga mengirim pesan singkat namun tak ada sahutan.


Sudah hampir dua jam Nay menunggu disini, repsionis itu pun sudah Nay tanyakan lagi namun jawaban nya tetap sama bahkan beberapa karyawan lain mengunjingnya gara-gara si repsionis itu dan juga karena Nay mengatakan bahwa dirinya istri Radit.


"Mana mungkin kalau itu istri atau kekasihnya Pak Radit penampilannya seperti itu," bisik seorang karyawan yang duduk dibelakang Nay.


"Iyah, mana mungkin selera pak Radit turun. Kalau gitu mending pak Radit sama Ranti aja dari pada sama wanita itu," balas teman si karyawan itu.


Nay masih berada difase sabar untuk itu walau dalam hatinya gendek banget karena ucapan-ucapan itu.


"Ck! cuman pembantu sok banget," decak seseorang yang lewat dihadapan Nay. "Morotin tuh kayanya," ucapnya lagi.


Rasanya Nay ingin menangis saat ini batas kesabaranya sudah habis namun lagi-lagi perempuan itu hanya diam menutup wajah dengan kedua telapak tanganya menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia tidak menyalahkan penampilan barunya malahan sekarang hatinya merasa lega karena talah menjalankan perintah Allah dan Suaminya.


"Yang sabar yah Uhkty mereka hanya iri kepada Uhkty," Nay menoleh kearah sumber suara. Seorang wanita bercadar mengusap punggungnya.


"Hmmm.... Mungkin," gumam Nay.


"Saya Winda," wanita bercadar itu mengulurkan tanganya.


Nay membalasnya dengan senyuman terukir diwajahnya. "Saya Naysilla,"


"Mbak Naysilla istrinya Bang Radit ya?" Nay menautkan alisnya.


Bang Radit?


Apa wanita ini kenal dengan suaminya?


"Ahh.. saya sepupu jauhnya,"


"Aku baru tau," gumam Nay.


"Sepertinya saya harus pulang karena sudah terlalu lama lagi pula si repsionis itu enggak ngebolehin saya masuk," Wanita itu mulai berdiri membenarkan.


"Enggak mau nemenin aku dulu," wanita itu hanya tersenyum.


"Maaf ya mbak," sungkannya membuat Nay langsung terkekeh.


"Bercanda Mbak..." kekeh Nay lalu wanita itu pamit setelahnya berjalan keluar.


Nay melirik jam tanganya. Ini sudah menunjuk kan pukul setengah dua siang tapi Nay masih duduk disini, apa dia harus ke ruangam Radit tanpa persetujuan repsionis?


Tapi jika 'iyah pasti mereka akan terus mengunjingnya lagi.


"Pulang aja lahk, Winda aja tadi pulang karena enggak boleh masuk masa aku tetep disini nunggu sampe sore gitu?" guman Nay.


Perempuan itu mulai berdiri membenarkan pakaian yang mulai kusut karena terlalu lama duduk, Pantatnya pun terasa panas.


Nay meraih Tas selempangnya lalu meraih tas tupperware itu. Berjalan keluar namun langkahnya terhenti kala lift terbuka menampakkan suaminya dengan satu wanita dan satu pria seumurannya.


Tapi penampilan barunya itu yang membuat Radit menarik sudut bibirnya lalu berjalan cepat kearah Nay yang sedang mematung.


"Cantik,"ucap Radit lalu mencium kening Nay sedangkan Nay langsung mencium punggung tangan Radit.


"Kepan kesini?" Nay melirik repsionis itu wajahnya sudah pucat dan beberapa karyawan lainya pun sama namun Nay tidak peduli.


"Dua jam yang lalu dan hampir tiga jam Nay tunggu disana bareng Winda juga," adunya.


"Winda? terus sekarang kemana Windanya?"


"Udah pulang karena terlalu lama nunggu," Radit menangkupkan wajah Nay lalu ibu jarinya mengusap pipi Nay.


"Kenapa enggak langsung ke atas, hm?" tanya Radit masih belum beranjak dari sana.


"Enggak boleh sama repsionisnya terus karyawan yang lainnya masa jelek-jelekin Nay, ngomong itu lah ini lah," adu Nay lagi membuat air muka Suaminya langsung berubah.


"Firman, liat CCTV siapa saja yang membuat Istri dan sepupu saya menunggu lama dan langsung pecat mereka," Suara Radit berubah menjadi dingin tak seperti biasanya.


"Baik, Pak," Firman mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang.


"Ini apa?" tanya Radit menarik tas tupperware


itu dari tangan Nay.


"Brownis sama salad sayur dan buah,"


"Beli dimana?"


Nay menatap Radit dengan kesal. "Bikin sendiri lahk masa beli,"


Radit terkekeh lalu mengusap puncuk kepala Nay. "Iyah percaya sayang,"


"Ranti, Firman saya tidak jadi makan diluar."


"Tapi pak ki—"


"Tidak ada bantahan," cetus Radit memotong ucapan Ranti.


"Pak 56 karyawan," ucap Firman.


"Langsung pecat," tegas Radit.


Nay hanya mengeleng kecil namun dia juga sedikit puas karena karyawan yang membuat dia hampir menangis telah dipecat.


✨✨✨✨✨


Bersambung......