
Keluarga kecil yang bahagia
"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, atau mempersilakan. Yang pertama adalah keberanian, yang kedua adalah pengorbanan." (Salim A. Fillah)
*****
"Ikut aku,".
"Aws, sakit Rey,"
Seolah tuli Reymond tidak mengubris ringisan dari Nada, entah kenapa sampai sekarang Reymond membenci Nada. Setiap melihat wajah Nada dia selalu teringat kepada wanita iblis yang telah menghancurkan rumah tangga dan kebahagiaan Mommy dan Daddy nya.
"Kenapa?" tanya Reymond saat keduanya sudah berada ditaman belakang.
"Apanya?"
"Kenapa kamu tidak angkat kaki kamu dari rumah ini? Kamu bukan siapa-siapa disini! Apa kamu tidak punya malu? Apa kamu tau Ibu kamu yang udah hancurin semuanya?!" walau usia Reymond masih balita tapi pikirannya sudah mengerti dengan Setiap kejadian ini. Saat Reymond tau bahwa Nada akan tinggal dirumah megah milik Opah nya dia merasa kesal. Ingin rasanya dia menolak dan mengusir Nada namun Nay selalu menyuruh Reymond selalu bersikap baik Kepada Nada.
"Maaf," Nada merunduk takut. Entah lah dia takut kepada Reymond padahal usianya dan Reymond lebih tua dia.
"Ck, aku enggak butuh maaf kamu, aku mau kamu pergi dari kehidupan Mommy dan kita semua," seru Reymond.
Anak itu menatap wajah pucat Nada, ada rasa aneh dalam diri Reymond ketika dia selalu melihat wajah pucat Nada.
"Maaf Nada enggak bisa, Nada enggak punya siapa-siapa lagi," ucap Nada.
Reymond menatap Nada dengan tajam menurutnya Nada sampai kapanpun akan menuruni sikap Ibunya. Seperti iblis.
"Kamu kan masih punya nenek dan ayah kamu,"cetus Reymond.
"Aku enggak tau siapa Ayah aku," ucap nada.
Reymond menghentakan kakinya merasa kesal kepada nada.
"Gavin, kak Nad kalian ngapain disini? Kalian lagi. Main ya kok engga ngajakin Mel sih," suara cempereng Melody membuat nada dan Reymond kontan menoleh menatap anak perempuan itu.
"Gavin kamu jahatin kak Nad lagi ya?" tanya Melody memincingkan matanya menatap kesal kepada kakak kembarnya itu. Kenapa Reymond sangat tidak suka kepada Nada?
Melody dapat melihat raut sedih diwajah pucat kakak perempuannya. Tidak akan jauh pasti ini ulah Reymond.
"Mel, bilangin Mommy loh, Gavin jahatin kak Nad lagi," ucap Melody menarik tangan Nada hendak pergi namun Rayen menghentikan langkah gadis cantik itu.
"loh, adeknya abang mau kemana?" tanya Rayen langsung mengangkat Melody kedalam gendongannya.
"Abang, Gavin jahatin kak Nad lagi," ucap Melody mengadu kepada kakak laki-laki nya.
Rayen tersenyum manis membuat dimple nya terlihat. "Mungkin Rey lagi marahan sama Nada," ucap Rayen menghunjami ciuman gemas kepada Melody.
Nada langsung melangkah mundur. Rasanya ia tidak pantas jika harus bergabung dengan Rayen, Melody maupun Reymond.
Melody melingkarkan tangannya memeluk leher Rayen dengan erat lalu menyandarkan kepalanya dibahu Rayen.
"Rey, ayo masuk." ajak Rayen membuat Reymond langsung mengangguk mengikuti kakak laki-laki nya.
Rayen mengusap bahu Melody. Adik-adiknya memiliki sifat dan watak yang berbeda-beda, bahkan Rayen harus ekstra sabar jika sedang bermain ditambah Faura yang selalu mengikutinya.
*****
"Kenapa mudah banget? Kenapa enggak dari dulu aja? Kan kalau dari dulu kita enggak akan kaya gini," ucap Nay diiringi isakkan kecilnya.
Radit tersenyum mengusap puncak kepala Nay yang terhalang hijabnya. "Mungkin ini udah rencana Allah, jika dari dulu semuanya sudah terungkap dengan mudah mungkin dari dulu kita udah bersatu enggak akan ada perpisahan dan enggak akan tangisan." ujar Radit.
Nay mengeleng pelan lalu memendamkan wajahnya didada bidang Radit, mempererat pelukan itu. Sejak tadi dia sudah mendengar kan cerita Radit. Air matanya sudah menetes sejak tadi, entah lah kenapa Nay bisa secengeng ini jika bersama Radit.
"ya, tapi kan kalau semudah itu bisa terungkap dan mereka akan ditangkap sejak dulu Mas juga enggak akan kesiksa kaya gitu,"ucap Nay.
"Nay, saya tau. Saya sudah berpikir sejak awal. Kenapa semudah ini? Kenapa dengan bantuan Fauzan dan ayah bisa secepat ini menyelesaikan semuanya? Saya pernah menyalahkan diri saya sendiri karena saya tidak mengatakan semuanya kepada Fauzan atau kepada siapa itu sejak dulu," ujar Radit mengusap kepala Nay.
Nay mendongkak menatap wajah Radit.
Radit membalas tatapan Nay, ada Luka disepasang mata mereka. Tatapan sayu Nay bertemu dengan tatapan menyesal milik Radit.
Andai saja Radit tidak melepaskan Nay saat itu pasti hingga saat ini tidak akan ada drama dulu.
Tangan kekar Radit mengusap pipi Nay dengan lembut. Wajahny mendekat kepada Nay hingga hidung mereka bersatu, satu senti lagi bibir mereka akan tertaut. Tatapan Radit melemah saat itu juga.
"Maaf karena saya kamu menjadi menderita, saya tau saya salah. Saya bodoh karena berani melepaskan kamu padahal saya tau saya tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Radit, ibu jarinya mengusap dengan lembut pipi Nay.
Nay memejamkan matanya sebentar lalu membukanya dengan perlahan. Air matanya kembali turun.
Radit yang melihat itu tersenyum lalu tanpa ragu dia menempelkan bibirnya dengan bibir Nay. Memberikan kecupan hangat dengan singkat.
" Hey, since when did my strong wife like you cry easily, hmm?" tanya Radit mengusap air mata Nay yang terus mengalir.
"Nay bahagia, mas karena udah bisa sama mas lagi, Nay harap semoga enggak ada lagi perpisahan atau air mata Lagi setelah ini,"ucap Nay.
"Amin,"
*****
"Dad, where is Mommy?"
"Mommy is all right, Dad?"
"Is Mommy crying again?"
"Daddy, Mommy sedang menangis, ya?"
Radit menatap kepada keempat anaknya. Baru saja Radit membuka pintu kamar Nay dia sudah disuguhkan oleh keempat anaknya yang berdiri dan kompak bertanya.
"Kalian sehat?" tanya Radit.
"Sehat," Mereka kompak kembali menjawab pertanyaan Radit.
"Yaudah kalian masuk aja, Daddy pusing harus pertanyaan siapa yang Daddy jawab," Radit memberikan jalan untuk keempat anaknya masuk kedalam kamar Nay.
"Baru aja empat udah pusing apalagi kalau nambah dua lagi sesuai rencana saya," gumam Radit memijit pangkal hidungnya dengan pelan. Lalu menutup pintu.
*****
Nay langsung membuka matanya ketika merasakan sebuah pelukan ditubuh nya. Dia melihat Rayen, Reymond dan Melody memeluk Nay dengan erat.
Senyuman bahagia mengembang dibibir Nay saat ini dia merasa bahagia karena adanya keempat anaknya.
"Mommy, are you okey?" tanya Melody mendongkak menatap wajah ibunya.
"Hmm. Mommy okey, kalian udah makan?" tanya Nay mengusap satu persatu puncak kepala ketiga anaknya.
"Udah, Mommy udah makan? Ehh, Mommy kan dari kemaren belum makan," ucap Rayen mengubah posisinya menjadi duduk disisi Melody.
"Udah kok sayang, tenang aja Mommy udah makan," ucap Nay menenangkan Rayen.
"Mom, Rey seneng karena bisa kumpul sama Mommy, bang Ray terus sama Daddy,"bisik Reymond tepat ditelinga Nay. Tangan mungilnya tetap melingkar memeluk Nay.
"Mommy, juga seneng karena bisa liat senyumnya Rey," goda Nay mengusap puncak kepala Reymond.
"Daddy nya enggak dipeluk juga," suara Radit membuat semuanya langsung menoleh.
Radit datang dengan nada yang ada digendongan nya. Dia segera bergabung bersama yang lain.
"Nada, sini sayang," Nay menrentangkan tangannya mengangkat tubuh Nada agar duduk sisinya.
"Daddy sama Mommy tadi kok lama banget," celetuk Melody.
"Lama? Enggak deh tadi cuman 60 menit doang," ucap Radit bergabung bersama anak-anak dan istrinya.
Melody mengerucut kan bibirnya dengan kesal. Kenapa semua laki-laki menyebalkan, tidak kedua kakak tidak Daddy semuanya sama-sama menyebalkan.
Nay tersenyum bahagia saat melihat semua keempat anaknya bisa tertawa lepas dengan kehadiran Radit. Apalagi Reymond yang sadari dulu sudah sangat pendiam sekarang bisa tertawa lepas.
'Tuhan itu adil, dia tidak pernah membuat hamba nya kecewa dengan janji yang pernah terucap, mungkin dulu Aku kurang bersyukur dengan kebahagiaan hingga Tuhan mengambilnya untuk beberapa saat cobaan datang silih berganti,'