
Sama-sama tersiksa
Tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Tetap berusaha agar tidak sia-sia.
*****
"Rabbi najjini wa ahli mimma ya malun(a),"
Nay menyelesaikan bait-bait do'a-do'a nya, perempuan yang kini masih memakai mukenanya itu menatap bingkai foto yang baru saja dia simpan lagi setelah beberapa tahun kebelakang ia sembunyikan menutup luka ia pernah tertoreh. Senyum kecut tercetak diwajah cantiknya, foto itu saat dia dan suami ralat mantan Suaminya melakukan fhotoshot. Kebahagiaan mengalir saat itu terlihat dari wajahnya yang sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu lenyap hanya dalam petikkan jari saja.
"Mom, mereka jahat. Mereka sering nyiksa Daddy dan akan berhenti jika Daddy udah pingsan atau kesakitan. Mom, Daddy kasih cincin buat aku pergi dari gubuk tua itu, hanya itu yang Daddy punya. Daddy enggak mau cerita ke Om Fauzan waktu itu karena Daddy enggak mau Om Fauzan juga terlibat sama mereka, Daddy pernah mencoba kabur tapi baru saja Daddy tak jauh dari gubuk tua itu Daddy sudah kesakitan. Mom, Ray takut jika Daddy Kenapa napa, Ray takut mereka melampiaskan semuanya kepada Daddy lagi, Ray sayang sama Daddy, Ray enggak mau kehilangan Daddy,"
Nay menghapus air matanya, mengingat tadi saat Ray menangis diperukannya sembari menangis sesegukkan, anak laki-lakinya itu sama seperti Reymond memiliki sebuah tekanan batin yang membuat Rayen agak sedikit miliki ketraumaannya.
"Nay rindu mas, Nay rindu tapi Nay enggak tau harus melakukan apa? Sekarang Nay harus apa mas, Nay bingung, maafin Nay ya mas," ujar Nay dengan lirih matanya masih tertuju kepada bingkai fotonya.
"Saya merindukan kamu Nay,"
Nay tersentak saat telinganya samar-samar mendengar itu, perempuan cantik itu berlari kearah balkon mencari asal suara itu. Tubuhnya luruh begitu saja kala tak menemukan siapapun.
Sedangkan disisi lain ditempat yang berbeda dengan waktu yang bersamaan, Radit--laki-laki itu sedang meratapi nasibnya yang tak ada ujungnya.
"Saya merindukan kamu Nay," lirih Radit dengan pilu tanpa sadar air matanya menyeruk dari kedua bola matanya.
Radit memejamkan matanya rapat-rapat tak lupa dia menghebuskan nafasnya dengan pelan karena dadanya terasa sesak sejak tadi.
Kapan ini semua berakhir? Kapan Radit akan bebas? Apa Radit tidak akan keluar dari gubuk tua ini?
******
"Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas, dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit."
"Gavin nakal!" teriak Melody dengan keras dari arah kamarnya.
Reymond tersenyum singkat lalu berjalan menuju kamar Rayen. Walau Reymond pendiam namun anak laki-laki itu memiliki tingkat kejailan yang tinggi, kata Melody.
Tangan mungilnya membuka knop pintu dengan pelan, saat pintu itu terbuka kedua mata Reymond melihat kakaknya itu sedang duduk melamun menatap kearah luar.
Nay yang baru saja datang membawa sarapan untuk anak-anaknya langsung tersenyum bahagia, Reymond lambat laun berubah.
"Rey--" suara Nay seolah tercekat saat melihat Rayen yang menangis sembari menunduk sesekali menatap kembali kearah luar.
"Mom," lirih Reymond menatap wajah ibunya.
Reymond mengangguk.
"Kasih ini ke abang, paksa dia buat makan," ucap Nay menyondorkan sarapan pagi untuk Rayen.
Reymond mengambilnya tanpa suara, dia mengangguk lalu berjalan meninggalkan Nay.
"I-ni dari Mommy," ucap Reymond kaku, anak Laki-laki berusia 4 tahun itu menyondorkan mapan berisi sarapan kepada Rayen.
"Rayen mengusap air matanya dengan kasar, kepalanya menoleh melihat Nay yang masih berdiri diambang pintu. Nay mengangguk pelan seolah mengerti dari tatapan Rayen.
"Makasih," ucap Rayen menerima mapan dari tangan Reymond.
"Bang Rayen kenapa?" tanya Reymond, anak itu mendudukkan tubuhnya disisi Rayen.
Nay melangkah mundur meninggalkan kamar anak pertamanya dan membiarkan Reymond mengobrol dengan Rayen mungkin kedua anaknya itu butuh waktu untuk berinteraksi.
"Aku rindu Daddy, aku takut Daddy kenapa-napa," lirih Rayen menyuapkan roti kemulutnya dengan pelan.
"Kata Mommy jangan berpikiran negatif jika sesuatu itu belum kita pastikan,"
******
"nyonya,"
Nay memutar tubuhnya saat merasa dipanggil, bi Sri menyondorkan sebuah kemeja berwarna putih yang sudah menguning.
"ini apa bi?" tanya Nay membolak - balikkan kemeja itu.
"Tidak tau, saya menemukan itu digudang sepertinya itu milik tuan Radit soalnya ada inisial 'R' di cap kemeja itu," ucap bi sri.
Benar juga ini milik Radit tapi mengapa ada digudang ?
Nay memincingkan matanya, dilengan jas ini ada bercak darah yang sudah mengering.
"Iya, bi ini punya mas Radit,"
"Kalau gitu saya permisi," pamit bi Sri meninggalkan Nay yang masih tercenung.
Ah iya, Nay ingat ini adalah kemeja yang Radit pakai sebelum mereka berdebat. Tapi mengapa bisa ada digudang?