
My husband may not be perfect, but he is perfect for me. A pious wife treats her husband like a king, loves him like a prince, but she keeps reminding him that he’s a slave of Allah. (Suamiku mungkin tidak sempurna, tapi dia sangat sempurna di mataku. Seorang istri yang shalihah akan memperlakukan suaminya layaknya seorang raja, mencintainya seperti seorang pangeran, namun ia juga tidak lupa untuk terus mengingatkan suaminya bahwa dia hanyalah hamba Allah.)
"Radit sudah pulih. Dia sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasa namun Radit akan lupa dengan kita semua termasuk kamu,"
"Tapi bukannya Ayah bilang pengobatan itu sangat lama?"
"Nothing sayang, Radit itu sebelumnya sudah sembuh namun karena sesuatu yang menghambat otaknya membuat dia harus melakukan terapi,"
Aku hanya menghela nafasku dengan gusar. Lelah, kecewa, kesal dan marah dalam satu waktu namun aku tahan.
Aku hanya bisa menumpahkan semuanya kepada Allah mencurahkan semuanya karena merasa tak mampu menangung semuanya.
Aku kira dengan pergi mas Radit ke Jerman untuk berobat akan semuanya berahkir rumah tanggaku akan baik-baik saja semuanya akan normal.
Aku kira saat aku bertemu dengan Bunda dan Tiara kita bahagia dan tidak akan pernah berpisah lagi namun semuanya, ekspetasi ku salah.
Allah belum menakdirkan aku bahagia untuk saat ini. Aku tidak menyalahkan Tuhan, aku tidak menyalahkan Takdir yang membuat aku dan Mas Radit seperti ini, aku tidak menyalahkan Ayah yang telah memisahkan aku dan Bunda serta Tiara,
Tidak pernah sekali pun aku menyalahkan semua keadaan ini namun aku hanya ingin bahagia.
Aku tidak tau Bunda dan Tiara kemana. Pertemuanku, Bunda dan Tiara satu bulan lalu yang begitu singkat namun indah itu tak akan pernah ku lupakan.
_________________
"Pagi Bu bos," sapa Fauzan, sekertaris ku.
Laki-laki berusia 27 tahun itu adalah orang kepercayaan Ayah yang diutus langsung membantuku di perusahaan ini.
Ini hari ke 242 aku menikmati hari sendiriku. Ayah belum juga kembali karena mengurusi perusahaan yang berada di China.
Ayah bilang Mas Radit sekarang memang sudah berada di Indonesia sekarang dia mengurus perusahaannya yang dirintis dari nol tanpa sepengetahuan orang lain.
Jika kalian mengatakan bahwa aku tidak merindukan Mas Radit kalian salah besar. Sejujurnya aku ingin sekali bertemu dengan Mas Radit namun aku ingin Mas Radit lahk yang datang kepadaku bukan aku yang mendatangi Mas Radit.
"Bu Bos ngelamun?" suara usil dari Fauzan membuatku langsung tersadar dari lamunanku.
"Fauzan jangan panggil saya Bu bos atau apalah itu tapi cukup panggil saya Nay atau Silla." Fauzan hanya nyengir kuda namun detik kemudian dia malah terkekeh.
"Iyah deh tapi kaya enggak sopan deh saya manggil bu bos dengan nama," Aku hanya memuntar bola mataku bosan dengan jawaban Fauzan..
"Seterah kamu aja. Saya mau keluar tolong kamu handle urusan saya." Aku beranjak pergi meninggalkan Fauzan tanpa menunggu jawaban dari Fauzan.
Ku dengar dengusan kesal dan gerutuan dari Fauzan namun aku hanya tertawa kecil tanpa memutar arahku melihat laki-laki yang menjadi sekertaris dan sekarang sudah sahabatku itu sedang misuh-misuh.
"Hai,"
Aku memutar arah melihat siapa itu karena dalam lift ini hanya aku saja dengan entah siapa itu.
Manik mataku membulat karena melihat siapa yang sekarang ada dihadapanku.
Tuhan mengapa engkau mempersulit takdirku lagi setelah 242 hari ini aku tenang dan damai. Tuhan tolong hilangkan aku sekarang juga.
✨✨✨✨✨
Bersambung.....
|Ajeng|