
Gundukkan tanah bertabur bunga dengan nisan bertulisan nama Fauzan Martadhinata itu belum mengering sampai saat ini. Radit mengajak Tiara dan Nay ke makam Fauzan. Tempat peristirahatan terahkir Fauzan. Laki-laki jail dan humor itu sudah pergi membawa banyak kenangan indah dan kebaikkan.
"Saya enggak tau kenapa Allah membawa Fauzan secepat ini padahal dua bulan lagi Fauzan berulang tahun. Sebenarnya dulu Fauzan mengiginkan tanggal kelahirannya untuk mempersuting kamu, Tiara tapi saya memberikan saran agar tanggal 3 Maret agar sama seperti saya dan Ayah dan Fauzan menyetujuinya....
.....Saat saya baru saja sembuh Fauzan yang menjemput saya bersama Ayah dari bandara dan dia bercerita panjang tentang kamu, Ra. Dia bilang jika kamu adalah perempuan pertama yang dia cintai setelah Mama nya. Kamy adalah perempuan yang mampu membuat perhatian Fauzan teralih padahal selama ini Fauzan sangat cuek terhadap perempuan.....
.....Sebelum saya menikah dengan Nay atai lebih tepatnya sebelum saya sakit. Fauzan pernah bilang jika dia tidak akan menikah atau mengenal perempuan karena dia takut membua perempuan itu tersiksa seperti Mama nya apalagi darah om Hermawan mengalih ditubuhnya otomatis segala sikap brengseknya juga pasti akan mengalir....
.....Ra, Saya mohon ikhlaskan Fauzan agar dia tenang. Memang tidak akan mudah tapi saya tidak mau kamu berharap Fauzan kembali dan itu membuat Fauzan tidak tenang," Radit mengusap nisan bertulisan nama Fauzan.
Nay mendengarkan dengan seksama suaminya berujar memberikan adiknya masukkan agar tidak beralut dalam kesedihaan atas kepergian Fauzan.
"Sebenarnya jika Fauzan tidak menyelekan penyakit itu dan jika Bayu tidak menabrak Fauzan pasti saat ini dia masih berjuang karena tidak akan ada berjuangan yang tidak membuahkam hasil," Radit menghela nafasnya lalu menarik tangan Nay yang sedang ia genggam. "Tapi takdir Allah tidak akan bisa ditebak,"
____***____
Setelah dari makam Fauzan. Nay mengajak Tiara ke Taman untuk berjalan-jalan sedangkan Radit sudah balik ke kantor karena ada clien yang datang dari Jerman. Katanya.
"Ra, Jangan kaya gitu dong mukanya, senyum dong..." Tiara hanya tersenyum tipis menuruti ucapan kakaknya.
"Tipis amat," kekeh Nay membuat Tiara lagi-lagi tersenyum tipis.
Nay mendudukkan dirinya disalah satu bangun taman sembari menunggu Tiara dari toilet. Selagi menunggu Tiara Nay memainkan ponselnya.
"Kamu Naysilla kan?" Nay menoleh lalu matanya pokus kembali ke ponselnya tak menghiraukan pertanyaan pria seumuran suaminya itu.
"Wahh... Ternyata sekarang sudah berhijab ya, cantik sih tapi kenapa mau menikah dengan pria gila. Ups! Tapi saya memang mengatakan fakta. Kamu itu cantik, modis, tajir kenapa harus mau sama pria gila itu kenapa enggak sama saya saja. Jika saya jadi kamu saya tidak akan mau menikahi dan saya pasti akan menelentarkan pasangan saya yang gila itu. Saya memang belum tau siapa suami kamu tapi saya yakin jika suami kamu itu jauh dibawah saya."
Nay hanya diam tak menghiraukan ucapan pria aneh itu.
Jika saja dia bukan seorang CEO Handoko group dan seorang istri dari Radit Mahendera pemilik sekaligus CEO Radit Entertainment Nay pasti akan mengamuk sekarang juga mencakar wajah sok pria aneh itu.
Pake ngatain suaminya lagi dan Nay tak terima itu karena jika pria aneh itu menghina suaminya berarti dia juga menghina dirinya.
"Kalau kamu sudah lelah dengan suami kamu datang saja ke Pratama group," pria aneh itu hendak mengusap ubun Nay tapu Nay segera menghindar.
Sepertinya yang gila itu pria aneh tadi bukan suaminya. Belum tau apa jika Ayahnya itu mantan mafia dan Ayahnya itu pasti akan mudah memeritah seseorang menghancurkan siapa saja yang memgusik kehidupan keluarganya.
Pria aneh yang menyebalkan. Gumam Nay.
B e r s a m b u n g . . . .