
Semua urusan dirumah kanker sudah selesai dan kini aku dan Tiara sedang pergi menuju rumah Bunda. Aku tidak jadi untuk bertemu atau sekedar melihat Mas Radit karena aku takut jika itu malah membuatku rapuh atau malah menangis saat itu juga.
Rumah kanker?
Mungkin besok, minggu depan atau kapan saja aku bisa berkunjung lagi. Kapan pun yang aku mau asal jangan sekarang, saat Mas Radit ada disana.
Bukan menghindar atau apa namun kembali lagi kekata awal aku takut terpuruk saat melihat Mas Radit melupakan aku padahal semalam aku memimpikan dia dengan bwgitu nyata namun aku salah mimpi hanya lahk kembang tidur.
Untuk urusan orang sinting ralat mas Bayu aku sudah benar-benar tidak peduli dengan orang itu.
"Mbak ayo," suara Tiara mampu membuatku tersadar dalam lamunannku.
"Eh ayo," Aku mengikuti Tiara masuk ke dalam rumah panggung dan sederhana jauh dari perkotaan ini. Sekitar tiga jam perlu sampai sini.
"Assalamualaikum Bun," salam Tiara melepaskan sepatunya begitupun aku mengikuti semua yang dilakukan Tiara.
"Waalaikumsalam, syukur kamu dah pulang sayang," suara Bunda dari belakang rumah membuatku tanpa sadar malah gugup padahal sebelumnya aku sudah bertemu dengan Bunda.
"Bun, ada Mbak Nay nih..." aku dan Tiara duduk di tikar tipis yang ada.
Bunda berjalan dengan tergesa menuju aku dan Tiara daster panjang motif bunga-bunga dengan rambut dicepol asal itu tidak membuat kadar kecantikan Bunda menurun.
"Ya Allah Nay, Bunda kira kita enggak akan ketemu lagi sama kamu," Bunda langsung memelukku dengan erat begitupun dengan aku.
"Nay rindu sama Bunda," Bunda melepaskan pelukkanku lalu menangkupkan wajahku.
"Bunda juga sayang," Bunda mencium keningku memberikan aku sensasi nyaman dan damai.
Dengan hadirnya Bunda dan Tiara aku dapat melupakan prihal rumah tangga, mas Radit, ayah dan pekerjaanku.
_______________
Setelah dari rumah Bunda aku langsung pulang bukan ke apartemen namun aku pulanh kerumah Ayah. Entah lahk aku rindu rumah ini sudah hampir satu tahun aku tidak berkunjung.
Saat didepan halaman aku melihat mobil asing yang terparkir. Mobil berwarna hitam banyak orang-orang berbadan besar mengelilingi rumah ayah.
"Anda mencari siapa?" tanya salah satu orang berbadan besar itu menghalangi jalanku.
"Assalamualaikum Ayah..."
Rasa marahku kepada Ayah sudah hilang karena sudah bertemu dengan Bunda dan Tiara tadi. Aku ingin meminta maaf karena ahkir-ahkir ini sering diemin ayah dan ketika Ayah mengajak aku berbicara aku selalu menghindar.
"Waalaikumsalam," itu bukan suara Ayah tapi itu suara asing dan yang duduk disofa pun bukan Ayah.
Aku tak bisa melihatnya karena dia membelangkangi ku dari postur tubuhnya terasa familiar suaranya pun sama tapi aku tak peduli aku berjalan melewatinya hendak mencari ayah namun suara dia memberhentikan langkahku.
"Naysilla Handoko dokter muda berusia 25 tahun dan juga seorang CEO di Handoko group. Putri pertama dari bapak Wendy Handoko dan ibu Prita Monika Putri yang sudah bercerai 21 tahun lalu, memiliki satu saudara perempuan yang berfropesi sebagai suster atau perawat dirumah kanker. Mantan dari putra tunggal keluarga Laksmana yaitu Bayu Laksmana. Istri dari Raditya Mahendera.".
✨✨✨✨✨✨
Bersambung....
✨✨✨✨✨
Ada yang DM ke akun Intagram ku.
"Kak, nama aslinya siapa sih?"
"Kak, nama kakak itu Ayu apa Ajeng?"
"Aku panggilnya Ayu atau Ajeng?"
"Nama asli kakak siapa? Ajeng atau Ayu?"
Okey sekarang aku Jawab yah.
Nama aku itu Ajeng Ayu Pratiwi.
Sehari-hari dipanggil Ajeng.
Dan prihal nama Ayu itu sebutan sepesial dari seseorang, okey?
Jadi kalian bebas panggil apa aja. Asalkan jangan panggil Pra.