Don'T Change My Destiny

Don'T Change My Destiny
S2- Kotak hitam



Boleh aku khawatir kepada kamu?


*******


Tiara menarik tangan Nay agar mendekat kearah nya. "Mbak abis nangis ya?" tanya Tiara menatap wajah kakanya dengan lamat.


Nay sedikit risih dengan tatapan Tiara kepadanya, adiknya ini pasti curiga. "Enggak Ra... Mbak cuman kelilipan," imbuh Nay.


"Kelilipan kok matanya sampai sembab terus idungnya juga merah," kekeh Tiara, ia sudah tidak bisa dibohongin lagi sekarang. "Mbak, kalau ada masalah itu cerita ke Aku, kata mbak kita kan saudari jadi harus terbuka" ujar Tiara..


Nay merunduk, tidak mengeluarkan suara apapun. Dia tidak tau harus bercerita dari mana. Nay tidak mau menambah beban pikiran Tiara dan keluarganya jika bercerita.


"Ra, apa salah mbak enggak bisa melupakan mas Radit? Karena mbak terlalu cinta sama dia?" tanya Nay dengan lirih membuat Tiara tak tega melihatnya. Tiara langsung menarik Nay kedalam pelukannya, sesungguhnya dia tau jika Nay bukan wanita yang kuat lagi sekarang apalagi setelah Radit mentalak Nay wanita itu menjadi sangat menyedihkan..


Nay selalu menangis sendiri tanpa sebab Jika ada yang menyinggung prihal rumah tangga atau anak. Nay selalu merasa gagal jika tidak bisa memenuhi permintaan Melody atau Reymond, kedua anak itu selalu meminta agar Daddy nya pulang dan berkumpul bersama mereka. Itu yang membuat Nay merasa gagal menjadi seorang ibu.


Nay bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah namun tetap saja Melody dan Reymond membutuhkan kasih sayang seorang Ayah juga.


"Mbak, percaya sama takdir. Jika kalian berjodoh kalian akan bersama namun jika kalian tidak berjodoh kita harus berikhtiar." ujar Tiara mengusap punggung kakaknya, mencoba menenangkan kakaknya yang sudah menangis sesegukkan.


"Ra, mbak enggak boleh bahagia ya?" tanya Nay diiringi isakkan.


Tiara mengeleng pelan. "Mbak tau, dulu aku enggak pernah membayangkan jika aku bisa bersama kak Fauzan bahkan saat itu kak Fauzan udah bikin aku terpuruk sama apa yang dilakukan mas Radit ke mbak. Cuman bedanya, Kak Fauzan melakukan itu karena dia tidak mau membebani aku dan---"


"Dan mas Radit meninggalkan mbak karena cinta pertamanya." potong Nay dengan ketus. Hatinya perih jika mengingat itu kembali.


"Mbak salah, mas Radit melakukan itu karena dia tidak mau mbak bahaya dan terlibat kedalam masalah keluarganya. Mas Radit juga enggak mau buat mbak susah lagi karena penyakitnya," cerocos Tiara membuat Nay langsung melepaskan pelukan itu menatap Tiara dengan tatapan sulit diartikan.


"Maksud kamu?"


Bodoh!. Maki Tiara kepada dirinya sendiri karena dia keceplosan mengatakan apa yang ia tau dan apa yang sedang Radit alami.


Nay menatap adiknya dengan tajam, Nay yakin jika adiknya ini tau sesuatu namun dipendam sendiri dan menyembunyikan nya dari Nay dan yang lainnya.


Tiara pasti tau sesuatu tapi apa?


Apa yang Tiara sembunyi kan?


Apa itu sesuatu yang besar?


Pertanyaan berkumpul dibenak Nay saat ini namun ia tidak bertanya kembali.


******


Reymond melangkahkan kakinya diarea tepi kolam, kaki mungilnya terus melangkah memutari kolam renang yang sangat luas itu. Pikiran bocah itu hanya tentang; Daddy, Daddy dan Daddy. Walaupun dia tidak pernah melihat wajah Ayahnya namun entah kenapa dia selalu yakin jika Ayahnya ada orang baik.


Reymond sedikit kecewa kepada Ibunya karena telah membentaknya tadi.


"Maaf, tuan muda ini ada kiriman paket dari seseorang," Reymond memberhentikan langkahnya, matanya menatap tajam kearah asisten rumahnya.


Tanpa mengeluarkan suara Reymond menyuruh asisten rumahnya itu menyerahkan kotak paket berwarna hitam itu.


"Rey, sedang apa kamu disana?" tanya Fauzan dari atas kamarnya membuat Reymond mendongkak menatap Pamannya.


Tangan Reymond terangkat menunjukkan kotak hitam itu kepada Fauzan. Fauzan hanya mengangguk, dia sudah mengerti dengan sikap Reymond yang sama persis seperti kakak Ipar plus sahabatnya, Radit.


Reymond membuka kotak itu dengan pelan, melemparkan tutup kotak itu sembarang agar ia lebih mudah. Kedua bola matanya membulat saat tau apa isi kotak itu.


Pluk.


Reymond menjatuhkan kotak itu, tangannya gebetan, matanya menatap kosong sedikit lagi dia menangis. Fauzan yang melihat keanehan itu langsung memicingkan matanya.


"Rey, kamu tidak apa-apa?" tanya Fauzan sedikit berteriak. "Reymond,"


Tak ada jawaban dari keponakannya Fauzan langsung berlari turun menghampiri Reymond.


"Dad--dy," lirih Reymond, tubuhnya gemetar hebat, air matanya terus mengalir.


"Hai, Reymond kamu kenapa?" tanya Fauzan saat sudah ada didekat Reymond. Kedua tangannya menangkupkan wajah Reymond.


"Paman .... Daddy," lirih Reymond, menatap kosong kearah kotak berwarna hitam.


Fauzan langsung mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Reymond.


Sama seperti Reymond, kedua bola mata Fauzan menatap kaget kearah isi kotak hitam itu.


Bruk.


Tubuh mungil Reymond ambruk begitu saja, Fauzan langsung mengambil kotak hitam itu untuk mengamankannya agar tidak ada yang melihat selain dia dan Reymond. Fauzan membawa Reymond kedalam rumah.


Dia khawatir kepada psikis Reymond, Fauzan juga khawatir kepada Nay. Jika Nay melihat isi kotak hitam itu pasti Nay akan langsung panik dan khawatir.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa tinggal kan jejak.