
Rayen menatap Reymond, jika seperti ini Rayen dapat melihat Radit dalam diri Reymond. Ini adalah sikap Radit jika kepada orang lain, namun berbeda lagi jika Radit bersama orang yang benar-benar dicintainya pasti Radit akan bersikap manis dan humor.
"Kamu tau, kamu mirip banget Daddy," ujar Rayen membuat Reymond yang sedang meminum susu langsung menoleh menatap Rayen.
Nay dan Melody ikut menoleh menunggu apa yang akan diucapkan oleh Reymond.
"Aku tidak bertanya," cetus Reymond. Nay dan Melody langsung saling pandang.
Reymond tetaplah Reymond, sikap dan sifat nya tidak akan berubah sama sekali.
"Ya sudah, padahal aku ingin menceritakan sesuatu tentang Daddy," ucap Rayen memanas-manasi.
"Kamu kenal sama Daddy nya Mel?" tanya Melody turun dari pangkuan Nay lalu mendekat kearah Rayen mendudukkan tubuhnya disisi Rayen menggeser dengan paksa tubuh Reymond.
Rayen melirik Nay sebentar, ternyata Melody belum mengetahui siapa Rayen sebenarnya. Gadis berusia 4 tahun nampak seperti bersemangat saat Rayen menyebutkan kata; Daddy.
"Mel, bukan Kamu tapi abang," ujar Nay.
"Emang dia siapa?" tanya Melody menunjuk Rayen.
"Bang Ray ini abang nya Mel sama Rey," ucap Nay.
Reymond menatap tanpa bergedip kearah Rayen, sesungguhnya Reymond kepo dengan apa yang akan diucapkan Rayen prihal Daddy nya. Gengsi nya terlalu tinggi.
"Ayo cerita kan Daddy nya Mel," Melody mengoyangkan tangan Rayen.
"Jadi--"
"Maaf mengganggu, nyonya saya menemukan cincin didalam saku celana den Rayen," ucap bi Sri, pembantu rumah.
Ah, Rayen ingat. Cincin itu yang diberikan oleh Radit kepadanya, hampir saja Rayen lupa dengan tujuannya kabur dari gubuk tua itu adalah meminta bantuan. Dengan cepat Rayen berjalan mengambil cincin itu ditangan Bi Sri.
"Ray, itu cincin apa?" tanya Nay mendekat kearah Rayen.
Rayen tak bergeming. Apa iya Rayen harus meminta tolong kepada Mommy nya--Tapi kan?
Ah, sudahlah. Kali ini Rayen akan melanggar larangan Radit tentang-- jangan menceritakan apapun kepada siapapun tentang yang terjadi selama ini-- namun Rayen juga ingin Daddy nya bebas dari kedua iblis itu.
'Maaf, Dad. Ray hanya ingin Daddy bebas dari dua iblis itu,' ucap Rayen dalam hati.
"Ray," tegur Nay mengusap pundak Rayen.
"Mau bicara apa?" tanya Nay.
"Soal Daddy," lirih Rayen hampir tidak terdengar.
Nay terkesiap mendengar itu, matanya mengerjap beberapa kali. Mungkin ini titik terangnya. Pikir Nay.
Tidak ingin Reymond maupun Melody mendengar pembicaraan nya dengan Rayen. Nay langsung menarik tangan Rayen keluar--keruang tengah.
Tak butuh waktu lama Nay dan Rayen sudah berada diruang tengah. Wendy, Prita, Fauzan Tiara, Rama dan Winda menatap Nay yang nampak mengebu.
"Ada apa ini Nay?" tanya Prita.
"Bun... " bibir Nay nampak bergetar menahan tangisnya.
Rayen merunduk, dia tidak berani menatap wajah sedih ibunya. Benar kata Radit jika Rayen menceritakan semuanya bukan hanya Nay yang akan terlibat namun semuanya. Apalagi Nay pasti akan sedih.
Rayen menahan nafas nya sebentar. "Mom, ini,"
Rayen menyondorkan cincin itu kepada Nay.
Nay menatap nanar cincin itu, cincin bertulisan namanya.
Radit masih menyimpan cincin ini padahal yang milik Nay sudah hilang entah kemana.
"Daddy menyuruhku menjual cincin itu untuk Ray, makan saat menuju rumah Om Pian," ujar Rayen.
Semuanya terkesiap saat mendengar itu.
Fauzan berjalan kearah Rayen memengangi pundak Rayen. "Ray, kamu tau Daddy dimana? Ayo sekarang katakan Daddy dimana?" desak Fauzan.
Rayen merunduk takut.
Apa harus dia menceritakan semuanya?
Tapi bagaimana jika kedua iblis itu malah membuat Daddy nya semakin kesakitan?
Bahkan polisi saja tidak ada yang berhasil menangkap Veronika maupun Reka, kedua iblis itu terlalu pintar mengelak.