
N A Y P O V
_____***_____
"Arghhhhkk..." teriakku memukuli stir. Aku mengendarai mobilku tanpa arah.
Niat hati ingin memberikan kejutan malah aku yang diberikan kejutan oleh Mas Radit. Jujur aku masih tak menyangka namun foto itu menunjukkan bahwa itu suamiku, Mas Radit.
"Aku benci kamu mas... Aku kecewa," teriakku masih membawa mobil tanpa arah dan dengan kecepatan tinggi.
Sungguh, kali ini aku merasa benar-benar dikhianati bahkan baru kali ini aku merasa snagat sedih hanya karena satu pria. Saat dulu bersama Bayu aku tidak pernah sesedih ini bahkan dua kali aku diduakan oleh pria itu.
Citttttttt........
Aku menginjak rem secara mendadak saat seorang pria ada berada tepat didepan mobilku. Pria itu meruduk tapi postur tubuhnya aku rasa kenal. Dengan cepat aku langsung keluar tak lupa menghapus jejak air mataku terlebih dahulu.
"Kenapa enggak ditabrak aja sih. Gue pengen mati, gue udah capek sama scenario ini," lirihnya lalu mengangkat wajahnya dan apa ini?
Fauzan?
Apakah ini mimpi? laki-laki yang kini ada dihadapan ku Fauzan tapi bukannya Fauzan sudah meninggal bahkan aku melihat dengan langsung jenazahnya dimasukkan kedalam liang kubur. Ini benar-benar Fauzan karena kakinya menapak diatas aspal bahkan bajunya pun terlihat seperti emmm... Maaf seperti orang yang luntang-lantung.
Brukkkk......
"Fauzan?"
____***____
Aku menatap wajah om Hermawan yang tampak lelah dan juga adiknya Fauzan, Fatia wajah gadis sangat terlihat kacau.
"Om Hermawan bisa jelasin, semuanya?"
Terlihat om Hermawan sangat gusar lalu dengan pelan pria paruh baya itu menghela nafasnya. "Pertama juga saya tidak menyangka namun saat sedang dimandikan tangan Fauzan kembali bergerak dan Fatia memberikan ide bahwa merahasiakan ini semua. Yang dikuburkan itu bukan Fauzan tapi orang lain, awalnya kami kira jika Fauzan berjauh sembentar dari Tiara dia akan pokus kepada penyakitnya namun kami salah, kesehatan Fauzan malah semakin memburuk,"
Disini aku cukup paham namun apa mereka tidak sadar jika mereka semakin menpercepat kematian Fauzan. Harusnya Fauzan menjalani Trimen dan menjalankan pola hidup yang sehat atau Fauzan melakukan kemoterapi walau akan sulit untuk karena melihat tumor itu sudah stadium ahkir.
***
Aku menatap Fauzan dengan kesal karena pria ini masih sempat-sempatnya bercanda padahal dia sedang berada dititik terendah.
"Jujur saya juga lagi ada masalah tap—"
"Masalah apa?" potongnya membuatku mendengus kesal.
"Ranti hamil anaknya mas Radit,"
"Bwahahahhahahah....." dia tertawa keras sembari memengangi perutnya. Dasar gila, aku lagi ingin curhat dia malah tertawa.
"Fauzan serius ihhhh.. Saya benar-benar lagi frustasi,"
"Hfftt... Gini ya. Radit itu bukan tipikal orang yang mudah melakukan itu sama perempuan lain apalagi dia itu OCD akut jadi dia akan pilih-pilih terlebih lagi Ranti itu punya penyakit HIV jadi mana mungkin Radit kaya gitu," ujar Fauzan saat tawanya sudah reda.
Apa katanya OCD akut? Mana mungkin, selama ini mas Radit tidak terlihat seperti itu.
"OCD? masa sih aku baru tau,"
"Hmmm, dulu pernah ada salah satu sekertaris baru yang diperusahaan Radit dia itu enggak tau kalau Radit OCD akut. Sekertaris itu enggak sengaja nyentuh tangan Radit dan Radit langsung cuci tangan sampai tangannya merah bahkan dia juga elap tangannya pake tissu basah, mungkin kurang bersih menurutnya," jelas Fauzan membuatku mengeleng tak percaya.
"Tapi kenapa kalau mas Radit ke aku biasa aja. Enggak nunjukin kalau di OCD akut?" tanyaku.
"Mungkin kamu wanita yang istimewa menurut Radit,"
Aku menghela nafasku. "Tapi foto itu yang ditunjukkin bahwa itu bener-bener Mas Radit Fauzan..."
"Kamu ingat kalau postur tubuh Bayu dan Radit itu sama? Dan itu pasti bukan Radit karena saya sendiri yang lihat kalau selama ini Radit enggak pernah berduaan dengan Ranti,"
Iyah, juga. Postur tubuh Mas Radit sama dengan Bayu jadi mungkin itu bukan mas Radit.
Mungkin aku harus meminta bantuan Fauzan untuk menyelesaikan ini tapi melihat kondisi Fauzan aku tidak ingin membuat kondisi dia semakin memburuk karena mekirkan urusan rumah tangganya dan Mas Radit.
"Tenang, saya bantuin,"
**B E R S A M B U N G** . . . . .
Naysilla Handoko:
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah sejenis gangguan mental. Orang dengan OCD memiliki pikiran dan dorongan yang tidak dapat dikendalikan dan berulang (obsesi), serta perilaku (paksaan) kompulsif. Contoh perilaku kompulsif adalah mencuci tangan 7 kali setelah menyentuh sesuatu yang mungkin kotor. Pikiran dan tindakan tersebut berada di luar kendali pengidap. Meski pengidap mungkin tidak ingin memikirkan atau melakukan hal tersebut, ia tidak berdaya untuk menghentikannya. Dengan kata lain, OCD dapat memengaruhi secara signifikan kehidupan pengidapnya.