
Pukul delapan malam Yuna masih setia menemani putranya yang bernama Alley bermain robot-robotan miliknya, dengan di temani seorang baby sister miliknya.
"Al, tidur yuk. Mommy dah ngantuk, tuh Nanny juga kasihan kan udah ngantuk juga..."untuk kesekian kalinya ia kembali membujuk putranya.
Alley, merupakan putra pertama Yuna dan Nanda yang baru berusian sekitar dua tahun, namun anak itu memang tergolong lebih pintar juga cepat tanggap dalam hal apapun. Berbeda dengan Nada, saat Yuna mengandung Alley dulu kandungannya begitu lemah beberapa kali ia harus bedrest di rumah sakit, juga memerlukan suntikan penguat kandungan. Namun, semua itu terbayar dengan indah, saat melihat kelahiran putranya, apalagi saat ini ketika melihat perkembangan putranya yang cepat sekali tanggap dan pandai berbicara.
"No, Al mau tunggu Daddy.."ucapnya, terlihat mata anak itu memang masih begitu bening.
"Al, bagaimana jika Daddy-"
Yuna tak melanjutkan ucapannya, saat mendengar suara deru mobil terdengar di luar, lalu Alley sudah berlari dengan cepat menuju pintu. Ia membuka pintu dengan cepat.
"Nanny kau istirahatlah,.."perintah Yuna pada baby sister Alley.
"Baik Nyonya.."
"Daddy, i miss u..."serunya begitu membuka pintu ia melihat Daddynya ada di depannya.
Nanda berjongkok lalu menggendong Alley membawanya masuk ke dalam "miss u too.."serunya.
"Mas Arya gak di suruh mampir dulu mas.."tanya Yuna begitu melihat suaminya masuk sambil membawa Alley ke dalam gendongannya.
"enggak, udah di tunggu Lea di rumah katanya..."jawabnya ia mendudukan dirinya di sofa dengan Alley yang masih dalam gendongannya.
"Daddy, mana ice cleam...?"Alley memotong pembicaraan kedua orang tuanya.
"Alley, Daddy itu bekerja bukannya jalan-jalan jadi mana mungkin Daddy bawa ice cream..."tutur Yuna.
"Daddy tan janji...."serunya.
Yuna melotot menatap tajam suaminya, sudah berkali-kali Yuna katakan jangan menjanjikan apapun pada Alley, karena Alley pasti akan menagihnya.
"Mas, kamu tuh...."geram Yuna.
"Daddy lupa sayang, bagaimana kalau kita belinya di supermarket depan.."seru Nanda, beruntungnya Alley mengangguk.
"Al, sudah malam besok saja. Daddy kan juga baru pulang pasti lelah, malam-malam jangan makan ice cream.."tutur Yuna.
Wuaaa.. hiks... hiks... Detik itu juga Alley menangis dengan kencang.
"Udahlah biarin, cuman ice cream doang. Kamu tuh apa-apa di larang, namanya juga anak-anak. Uangku juga gak akan habis cuman buat beli ice cream doang, lagian aku kerja juga buat siapa kalau bukan buat keluarga.."seru Nanda sebelum berlalu keluar membawa Alley pergi ke supermarket.
Yuna mencebik kesal, benar apa yang suaminya katakan jika uangnya tidak akan mungkin habis hanya untuk membeli ice cream, dia kerja juga buat keluarga, itu semua benar. Hanya saja Yuna kurang menyukai dengan tindakan suaminya yang terlalu memanjakan Alley, hampir apapun yang Alley minta Nanda masih selalu memberikannya, sekalipun harus merogoh kantong yang banyak.
••
Indoapril
Nanda membawa Alley masuk ke dalam supermarket, ia menyuruh putranya untuk memilih ice cream yang ia inginkan.
"Daddy, Al mau pelmen ini..."tunjuk Alley pada sebuah sebuah barang yang berukulan kecil bertuliskan 'fiesta' yang terpajang di depan rak meja kasir.
Nanda melotot, "no, sayang. Itu bukan premen, dan itu juga tidak di jual.."tutur Nanda ia menahan rasa malunya, bagaimana bisa putranya itu meminta sebuah alat kontrasepsi.
"Daddy bohong..."teriak Alley dengan keras.
"Tidak, Daddy benar sayang, tanyakan saja sama kakaknya.."seru Nanda. Ck, ini siapa sih yang majang barang begituan di kasir, maksudnya apa ? kan bikin kesal aja.
"iya dek, itu gak di jual. Ini mending ice creamnya aja.."kasir itu berusaha memberikan pengertian pada Alley.
Bukannya mengerti, Alley justru teriak-teriak dan guling-guling di lantai, ia tetap kekeh ingin meminta itu, membuat semua pengunjung menatap ke arahnya.
Pada akhirnya Nanda pun membelinya, berharap sampai rumah putranya itu melupakannya.
"Mbak, lain kali barang begituan jangan di pasang di situ..."seru Nanda sambil keluar membawa Alley dari supermarket itu dengan raut wajah kesal
••
"Mas ini apa ? ya ampun kamu itu..."teriak Yuna begitu mendapati sebuah barang kontrasepsi yang di beli suaminya dari supermarket.
"Alley yang minta..."jawabnya enteng, Yuna melotot tak percaya.
"Mana mungkin ? kalaupun dia yang minta kamu juga harusnya bisa dong alihin apa gitu. Ini justru malah kamu belikan, ya ampun mas kamu itu benar-benar. Aku tau kamu sayang banget sama dia, tapi gak semua barang yang ia mau kamu penuhi lah, dan ini apalagi ini....."cecar Yuna kesal, ia melirik ke arah putranya yang tengah memakam ice cream dengan lahap.
Nanda mencebik saat ini badannya terasa lelah sepulang dari luar kota, dan istrinya malah berdebat tentang hal-hal gak guna.
"Aku udah nasehatin, mbak nya juga udah bilang jika itu tidak di jual, tapi anak kamu itu tidak percaya, ia justru klojotan, nangis, dan teriak-teriak di depan meja kasir. Kamu bayangin ajalah jika kamu di posisiku tadi..."cecar Nanda ia mendengkus kesal, Yuna tergelak ia memijat kepalanya mendengar perkataan suaminya.
"Tetap aja kamu tuh...."
"Salah mulu aku tuh bagi kamu, cumam perkara hal sepele aja. Aku tuh lelah pengen istirahat, toh Alley juga udah gak nanyain barang apa aja yang di beli tadi, ya kamu tinggal sembunyiin aja apa susahnya sih. Gak usah ngajakin aku debat.."seru Nanda kesal.
"Daddy, dan Mommy napa...?"tanya Alley, dengan wajah celemotan.
"Gak apa-apa sayang, lanjutkan makan ice creammu, setelah itu bersihkan wajahmu jangan lupa sikat gigi terus bobo ya. Daddy mau mandi dulu oke..."ujar Nanda,
"oke..."
Setelah itu Nanda berlalu meninggalkan Yuna begitu saja tanpa sepatah katapun. Yuna mendudukan dirinya di sofa, ia sadar suaminya itu tengah kesal dengannya.
"Mom, ayo Alley udah ngantuk.."ucap Alley yang menyadarkan lamunan Yuna.
"Ayo sayang, bersih-bersih dulu ya.."jawab Yuna.
••
Yah, begitulah rumah tangga. Kadang hanya karena masalah sepele kita jadi ribut kan.