
Sementara itu di kediaman Alan yang lebih tepatnya di kamar Adam, sudah hampir satu jam Adam dan Rendi bermain game play station.
"Aahhhh..!!" Rendi berteriak kencang saat dirinya kalah telak dari Adam kakaknya.
"Nice..!" Adam memuji kemampuannya sendiri dalam bermain game.
"Kak ayo bermain sekali lagi hmm" Adam membujuk kakaknya karena tidak terima di kalahkan begitu saja.
"No! " Tolak Adam yang sedang mematikan alat-alat gamenya.
"Shhh.." Desis Rendi saat tidak berhasil membujuk kakaknya, Rendi merebahkan tubuhnya asal di atas kasur milik kakaknya.
"Ren kakak minta nomor ponsel Ayu yang baru." Adam mendudukkan tubuhnya di samping adiknya Rendi.
"Untuk apa?" Rendi langsung bangkit mendengar ucapan Adam.
"Sudah hampir dua minggu kakak pulang tapi kakak belum menghubunginya dan Ayu juga tidak menemui kakak, jadi kakak berinisiatif menghubungi Ayu duluan. Dua tahun yang lalu sebelum kakak pergi ke Sydney kakak sudah berjanji akan mengantarkan Ayu ke suatu tempat jika kakak sudah kembali ke Jakarta."
"Kemana? kenapa Ayu tidak meminta Rendi atau teman-teman yang lain untuk mengantarnya?" Rendi berbicara dengan nada sedikit ketus membuat Adam memicingkan matanya.
"Kamu cemburu? kamu menyukai Ayu?" Adam yang melihat reaksi aneh dari adiknya, membuat Adam menyimpulkan bahwa Rendi menyukai Ayu dan saat ini adiknya itu pasti sedang cemburu.
Pertanyaan yang Adam ajukan membuat Rendi membisu. "Apa sikapku terlalu kentara, hingga kak Adam menyadari perasaanku." Batin Rendi.
"Tidak! Aku hanya sedang penasaran saja." Rendi menyangkal setelah beberapa saat terdiam.
"Baguslah! lagipula kalian sudah berteman sejak kalian kecil, jadi mana mungkin kalian saling menyukai, yang ada kalian akan saling menyayangi seperti saudara." Adam terlihat menahan tawa setelah mengatakan itu, bagaimana tidak wajah Rendi terlihat sangat masam mendengar ucapannya.
"Aku mengantuk kak, Aku akan pergi ke kamar sekarang." Rendi bangkit dan berjalan keluar dari kamar Adam.
"Tunggu Ren! Mana nomor ponselnya?" Adam sedikit berteriak karena Rendi sudah keluar dari kamarnya.
"Ya sudahlah, aku akan menemuinya langsung besok!! pfftt..hahaha.." Adam langsung tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Haha.. Adikku ternyata sudah besar.. haha.." Adam berucap disela-sela tawanya yang menggema.
Adam masih sibuk tertawa sampai memegang perutnya sendiri. Sedangkan Rendi yang sudah berada di kamarnya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi tengkurap.
"Memangnya kenapa kalau dia temanku dari kecil!!" Rendi berteriak dengan suara yang tertahan.
Rendi dan Ayu memang sudah berteman sejak mereka kecil, tepatnya saat mereka masih berada di taman kanak-kanak. Ayu anak dari temannya Alan yang bernama Deni yang sama-sama berprofesi sebagai dokter, ibunya ayu meninggal dunia saat Ayu berumur satu tahun karena serangan jantung. Setelah ibunya meninggal Deni sendiri yang menjaga dan merawat Ayu, namun jika Deni sedang pergi bekerja Ayu akan di asuh oleh seorang baby sitter.
Saat Ayu akan memasuki taman kanak-kanak Deni meminta saran dari Alan dan Rina perihal TK yang baik untuk Ayu, karena Deni tidak terlalu mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Rina dan Alan tentu saja membantu Deni dan menyarankan agar Ayu didaftarkan di TK yang sama dengan Rendi. Selain agar Ayu bisa berteman dengan Rendi karena mereka seusia, Rina juga bisa ikut menjaga Ayu dan memperhatikannya.
......................
Keesokan paginya Alula yang terlambat bangun karena jam wekernya rusak, terlihat terburu-buru keluar dari kamarnya.
"Bi Uti kenapa gak bangunin Alula?" Alula berucap dengan tangan yang sibuk memakai sepatunya.
"Bibi kira hari ini Nona tidak pergi ke sekolah, soalnya kan Non Alula biasanya bangun sendiri, Maaf ya Non.." Bi Uti merasa bersalah karena tidak mencoba membangunkan Alula tadi saat mengetahui Nonanya belum bangun.
"Iya, Hati-hati Non dan ini sarapannya Non Alula makan di sekolah saja." Bi Uti memberikan kotak bekal dan Alula langsung mengangguk dan mengambilnya.
"Makasih Bi." Alula bergegas berlari meninggalkan apartemennya dengan kotak bekal di tangannya.
"Huh.. huh.. tunggu pak!" Dengan deru nafas yang tersengal-sengal Alula berteriak saat melihat bus yang di tumpanginya telah pergi meninggalkannya.
Alula mencoba mencari taksi yang melintas di jalanan itu, tapi sepertinya setiap taksi yang melintas sudah membawa penumpang.
"Bagaimana ini.. dua puluh menit lagi gerbang sekolah akan di tutup." Alula melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sementara itu Brian yang ingin pergi ke kantor dengan mobilnya, tidak sengaja melihat seorang gadis yang dikenalnya tengah berdiri di halte bus. Brian segera menepikan mobilnya dan berhenti tepat di samping Alula yang terlihat sedang kebingungan. Brian menurunkan kaca mobilnya dan membunyikan klakson mobilnya membuat Alula langsung melihat ke arahnya.
"Alula kenapa kamu berdiri di situ? kenapa tidak sekolah?"
"Kak Brian! kebetulan sekali, kak boleh tidak Alula menumpang pergi ke sekolah? tadi Alula bangun sedikit kesiangan jadi ketinggalan Bus." Alula tersenyum saat melihat Brian berharap Brian mau memberinya tumpangan.
"Masuklah aku akan mengantarmu."
Alula tersenyum lega dan langsung masuk ke dalam mobil Brian. Melihat Alula yang sudah duduk di sebelahnya dan memakai seat belt Brian segera melajukan mobilnya, Brian juga menaikkan kecepatan mobilnya agar Alula tidak kesiangan.
"Untung saja ada kak Brian." Alula berucap saat Brian mulai melajukan mobilnya.
"Kenapa bisa kesiangan?" Brian bertanya dengan mata yang fokus pada jalanan di depannya.
"Jam weker Alula rusak kak, jadi Alula kebablasan deh hehe.."
Alula terkekeh geli membuat Brian yang mendengarnya ikut menarik sudut bibirnya. Brian melirik ke arah Alula sebentar dan melihat kotak bekal yang ada di tangan Alula.
"Kamu belum sarapan?" Brian bertanya dengan mata kembali fokus ke jalanan.
"Oh iya kak! Alula izin makan di dalam mobil kak Brian ya." Alula menarik pandangannya ke arah Brian, Brian hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapat persetujuan dari Brian Alula segera membuka kotak bekalnya dan mulai memakan roti sandwich yang telah di buatkan Bi Uti untuknya. Brian hanya tersenyum saat melihat wajah Alula yang sedang sibuk mengunyah makanannya.
Hingga beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Brian berhenti di depan sekolah Alula. Alula yang sudah menghabiskan satu setengah roti sandwich-nya menatap setengah roti yang masih ada di tangannya.
"Kak Brian makasih ya udah nganterin Alula."
"Iya sama-sama, sebaiknya kamu segera masuk dan belajar yang rajin." Brian tersenyum menatap Alula dan mengusap kepala Alula.
"Hmm.. kak buka mulut kakak?" Alula tiba-tiba menyuruh Brian membuka mulutnya.
"Hah?" Brian kebingungan, namun Alula langsung memasukkan setengah roti sandwich yang ada di tangannya ke dalam mulut Brian yang sedang terbuka.
"Bayaran untuk kak Brian." Alula segera melepas seat belt-nya dan berlalu meninggalkan Brian yang mematung di tempatnya.
"Bukannya ini sisa roti yang dimakan Alula tadi? berarti aku memakan roti yang sama dengan Alula." Pipi Brian seketika memerah menyadari dirinya memakan roti bekas gigitan Alula.
Brian mulai mengunyah roti yang ada di mulutnya dan kembali melajukan mobilnya dengan senyum manis di bibirnya.