
Tristan membereskan pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper. Mulai hari ini ia akan memutuskan untuk pindah ke rumah orang tuanya. Membayangkan kejadian di resto tadi membuat amarahnya meradang, mungkin memang semuanya hanya cukup sampai di sini, pikirnya.
Nada melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju apartemen miliknya.
Citt.. wanita itu memarkirkan mobilnya dengan sembarang. Ia segera berlari masuk lalu menuju lift, sepertinya takdir sedang berpihak padanya, tiba di sana pintu lift itu terbuka.
Nada masuk lalu memencet tombol enam di mana apartemen Tristan berada. Sampai di lantai enam Nada mempercepat langkahnya.
"Awww.."
Bruk.. ia terjatuh dan terkilir karena sepatu yang ia pakai terlepas hills nya, mungkin karena ia berjalan begitu cepat. Nada meringis merasakan kakinya begitu ngilu, ia melepas sepatunya lalu melemparkannya di tong sampah. Dengan sekuat tenaga ia kembali berdiri sambil menahan pergelangan kakinya yang sakit terlihat memerah.
Nada berjalan menyusuri lantai enam itu sambil berpegangan pada tembok, tanpa alas kaki. Dengan sedikit perjuangan akhirnya ia sampai di depan apartemen Tristan.
Nada memasukkan sandi apartemennya, tidak lama pintu itu terbuka otomatis. Ia menghela nafas lega.
"Tristan.."panggil Nada.
Tidak ada jawaban sama sekali. Ekor matanya bergerak mencari sosok pria itu di setiap dudut apartemen. Ia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Nada tersenyum tipis saat melihat Tristan ternyata berada di kamarnya.
"Tristan.."panggil Nada, dengan sedikit tertatih-tatih Nada berjalan mendekati Tristan.
Tristan bersikap acuh tak peduli, ia tetap berpura-pura tak mendengar panggilan Nada, ia dapat merasakan aura kebahagiaan di diri Nada. Ia menduga jika Nada pasti sangat bahagia dapat kembali bertemu Liam, lalu sebentar lagi keduanya akan kembali memadu kasih.
Tristan terus sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, tanpa menghiraukan Nada sama sekali.
Deg... Nada terpengarah saat melihat Tristan memasukkan semua pakaiannya ke dalam kopernya. Nada melirik ke arah lemari yang masih dalam kondisi terbuka, tak ada satupun pakaian Tristan yang tersisa.
"Tristan, kau mau kemana.."cecar Nada, ia memegang tangan Tristan. Namun Tristan menepisnya secara kasar, hingga Nada hampir terjatuh.
Membuat Nada tergelak, "Tristan.."lirih Nada tak percaya.
Tristan memalingkan mukanya, "Aku akan keluar dari apartemen ini, dan pulang ke tempat yang seharusnya aku berada.."
"Kenapa? apartemen ini milikmu Tristan.."seru Nada
"Bukan, apartemen ini fasilitas dari Papimu. Aku tidak berhak atas semua ini..."jawab Tristan dengan lantang.
"Tristan apa kau marah padaku. Aku akan jelaskan semuanya padamu..."ucap Nada
Tristan menggeleng, "Marah untuk apa ? memangnya aku mempunyai hak apa atas dirimu..."
Deg.. Nada menatap Tristan sendu.
"Aku hanyalah seorang suami di atas kertas bagimu bukan."sambung Tristan dengan tegas menatap Nada tajam.
Glek.. Nada menelan ludahnya kasar, kini ia merasa terjebak dengan perkataannya sendiri.
"Tristan aku tidak bermaksud..."
"Kau memberiku surat perjanjian itu, karena saat Liam kembali kau juga akan kembali lagi padanya kan. Dan sekarang dia sudah kembali, jadi suamimu yang di atas kertas ini sudah tidak berguna.."
Nada menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali mencoba meraih tangan Tristan, namun pria itu kembali menepisnya.
"Tristan aku akan jelaskan semuanya, beri aku..."
"Cukup... Aku sudah tak percaya lagi Nad. Aku sudah melihat semuanya, bagaimana kau menikmati berada dalam pelukan pria itu. Kau masih mencintainya Nad.."ucap Tristan
"Aku menyadari diriku Nad, aku hanya seonggok sampah bagimu yang tak berguna. Aku hanyalah seorang pria yatim piatu, yang tak mempunyai apa-apa. Berbeda dengan Liam, pria itu begitu sempurna bagimu. Bahkan ketika ia sudah menyakitimu, kau masih menerimanya dengan lapang dada."
Nada menggelengkan kepalanya, "Tidak Tristan.. kau salah."
"Benar.. aku benar Nad. Sikapmu padaku selama ini telah mencerminkan segalanya, bagaimana kau begitu membenciku, sehingga aku juga sangat susah untuk meraihmu. Harusnya sejak awal aku sadar diri Nad, siapa diriku juga siapa dirimu.."Tristan menghela nafasnya, tak ingin tangisnya luruh saat itu juga..
"Dan sekarang, kau tak perlu menunggu perjanjian itu berakhir. Aku akan keluar dari kehidupanmu, dan keluargamu. Aku tidak akan lagi menjadi benalu dalam keluargamu. Aku juga akan mengembalikan semua fasilitas dari kedua orang tuamu , aku juga akan keluar dari perusahaan. Aku tidak akan menganggu hubunganmu dengan Liam, kalian bebas melakukan apa saja.."
"Satu lagi, aku akan mengirimkan surat perceraian kita..."sambungnya, pria itu menutup koper miliknya, lalu menyeretnya.
Deg... Nada terkejut.
"Cerai..."lirihnya tak percaya, ia menggelengkan kepalanya.
Nada kembali mendongak menatap Tristan yang sudah berjalan sampai di ambang pintu.
"Tristan, Do You Love Me...?"ucap Nada dengan lantang,
Deg... pertanyaan Nada sukses membuat langkah Tristan terhenti namun masih dalam posisi memunggungi. Apapun caranya Nada harus mencegah Tristan pergi. Nada kembali berjalan dengan tertatih-tatih.
Bugh.. Nada memeluk Tristan dari belakang.
"Listen to me. Please do not go.."lirihnya dengan suara bergetar.
Tristan masih mematung terdiam tak berniat untuk menjawab atau membalas pelukan Nada.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komen
Hadiahnya
Tbc.