DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



Saat ini Brian sedang disibukkan dengan berkas-berkas yang harus ditandatangani, begitupun dengan Adam yang sama sibuknya dengan dirinya. Adam kembali masuk kedalam ruangan kerja Brian dengan setumpuk berkas ditangannya, Brian yang melihat Adam membawa banyak berkas hanya bisa menghela nafas panjang.


"Hari ini saya akan pulang lebih cepat, mungkin sebelum makan siang."


"Tuan Muda, bukannya hari ini kita akan lembur dan membereskan semuanya?" Adam meletakkan berkas yang tadi di bawanya di atas berkas-berkas yang ada di meja kerja Brian.


"Saya ada kencan!"


"Kencan? bukannya dia belum memberitahu Alula tentang perasaannya, bagaimana bisa dia mengajak Alula berkencan." Gumam Adam dalam hati.


"Baiklah Tuan Muda, kalau begitu saya permisi." Adam berlalu dari hadapan Brian dan kembali ke ruangannya.


Hari ini suasana di kantor tidak seramai biasanya, karena kebanyakan dari karyawan tidak bekerja hari ini dan hanya beberapa orang yang masuk kantor.


Brian kembali berkutat dengan bolpoin di tangannya dan berkas-berkas di hadapannya. Matanya fokus membaca setiap kata yang ada diberkas itu, sebelum dirinya membubuhkan tanda tangannya.


Sementara itu ditempat lain, Alula yang baru kembali dari berolahraga segera menemui Bi Uti yang sedang mencuci piring.


"Bi Uti nanti siang Alula mau belajar bareng sama temen di sini, boleh gak kalau Bi Uti buatin Alula camilan yang manis?" Alula duduk di kursi meja makan memperhatikan Bi Uti.


"Boleh dong Non, Nona mau Bibi buatin apa?" Bi Uti menghentikan kegiatannya sebentar dan fokus pada Nonanya.


"Alula mau manisan mangga Bi."


"Ya sudah setelah Bibi selesai mencuci piring Bibi akan membuatnya, Nona istirahat saja."


"Makasih ya Bi." Alula bangkit dari duduknya dan memeluk Bi Uti sesaat, sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya.


Satu jam kemudian sekitar pukul sebelas siang Bi Uti mengetuk pintu kamar Alula, Alula yang sedang berkutat di hadapan laptopnya segera bangkit dan membuka pintu kamarnya.


"Non Bibi pulang dulu ya, manisannya udah ada di lemari pendingin, makan siang sama makan malam juga udah Bibi siapin, nanti tinggal Non Alula panaskan ya."


"Iya.. makasih ya Bi, Bibi hati-hati di jalannya, kalau udah sampai di rumah kabarin Alula ya Bi." Alula mengantar Bi Uti ke depan pintu lift dan membantu menekan tombol untuk membuka pintu lift.


Setelah mengantarkan Bi Uti Alula segera kembali masuk ke apartemennya. Mengingat dirinya hari ini sudah ada janji dengan Brian untuk belajar, Alula segera masuk kembali ke kamarnya dan menyiapkan beberapa buku yang akan digunakannya nanti. Alula menunggu kedatangan brian di ruang tengah sembari dirinya mencoba memainkan beberapa kunci di gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.


Suara petikan gitar dan alunan suara yang keluar dari mulut Alula membuat ruangan yang sebelumnya sepi kini sedikit ramai. Kali ini Alula sudah bisa memetik gitarnya dengan baik, sehingga menciptakan sebuah musik yang indah.


"Can i call you baby.." Alula memetik gitarnya dan mencoba menyanyikan satu bait lagu yang terlintas di kepalanya saat itu.


"Mmm.. sepertinya bukan seperti ini suara gitar yang seharusnya keluar." Alula bergumam kecil dan kembali mencoba memainkan gitarnya, namun sepertinya suara yang tercipta dari gitarnya tetap tidak sesuai dengan suara gitar yang diinginkan Alula.


Tidak terasa sudah satu jam Alula bermain dengan gitarnya, dengan semua gumaman kecil yang keluar dari mulutnya saat Alula melatih cara bermainnya. Alula meletakkan gitarnya di atas single sofa yang ada di sebelah kanannya, kemudian bangkit dari duduknya menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman


"Mmm.. minuman bersoda sepertinya menyegarkan di tengah hari seperti ini." Alula mengambil salah satu minuman bersoda setelah berpikir beberapa saat.


Alula berniat kembali ke ruang tengah setelah meneguk beberapa kali minumannya, namun bel apartemennya berbunyi membuat Alula berjalan ke arah layar interkom apartemennya. Alula segera membuka pintu apartemennya setelah mengetahui siapa orang yang datang menemuinya.


Brian kembali dari kantornya sekitar setengah jam yang lalu, Brian membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menemui Alula. Dan sekarang Brian terlihat lebih segar dengan pakaian santai yang telah melekat di tubuhnya.


Brian duduk di atas sofa di ruang tengah setelah Alula mempersilahkannya, Alula segera mengambil beberapa camilan dan beberapa minuman kaleng bersoda, untuk menemani mereka berdua selama Alula belajar dari Brian.


"Kak Brian Alula langsung mulai belajar ya, kalau kak Brian mau minum atau ngemil langsung ngambil aja kak."


"Iya Alula." Brian tersenyum memperhatikan Alula yang sedang meletakkan beberapa camilan di atas meja di sebelah buku-bukunya.


Alula duduk di atas karpet berbulu berhadapan dengan Brian yang duduk di atas sofa, dengan meja yang menjadi pembatas di antara keduanya.


"Kalau muridnya duduk di bawah, harusnya gurunya juga duduk di bawah." Brian segera menurunkan tubuhnya dan duduk di bawah sofa.


"Ya sudah terserah kak Brian." Alula hanya tersenyum begitupun dengan Brian yang ikut tersenyum.


"Hari ini mau mulai belajar tentang materi apa?" Brian mulai bertanya perihal materi yang ingin di pelajari Alula hari ini.


"Statistika sepertinya akan lebih mudah dipelajari kak." Alula memutuskan setelah membuka buku catatan matematikanya di sekolah.


"Statistika? kamu belum mempelajarinya?" Brian sedikit tidak percaya kalau Alula tidak mengerti materi statistika, padahal menurut Brian statistika materi yang paling mudah untuk dimengerti.


"Aku sudah mempelajarinya kak di sekolah, tapi aku belum mengerti." Alula tersenyum kecil menutupi rasa malunya.


"Tidak usah malu, ya sudah untuk hari ini aku akan mulai menjelaskan tentang mean median dan modus dari data tunggal."


Brian mulai menjelaskan materinya, sedangkan Alula fokus mendengarkan dan memperhatikan apa yang Brian jelaskan. Alula sesekali menyela dan meminta Brian mengulangi kembali penjelasannya, Brian juga memperbolehkan Alula untuk bertanya jika sekiranya Alula tidak paham dengan apa yang Brian ucapkan.


Setelah satu jam menjelaskan dan mengulang kembali penjelasannya, Brian membuat beberapa soal latihan untuk Alula kerjakan. Karena sudah mulai paham dan mengerti setelah beberapa kali Brian menjelaskan, Alula dengan sangat antusias mengerjakan latihan soal yang diberikan Brian.


Kali ini Brian yang memperhatikan Alula selama Alula mengerjakan soal latihannya. Sesekali Brian meneguk minuman kaleng untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Brian kembali memperhatikan setiap sudut apartemen Alula dan sekarang matanya tertuju pada gitar yang ada di atas sofa single.


"Pasti gadis ku ini kelihatan keren banget pas lagi main gitar." Brian menarik sudut bibirnya membayangkan Alula memainkan sebuah gitar, pandangannya kembali tertuju pada wajah cantik Alula yang sedang sibuk mengerjakan soal.


Satu jam kemudian Alula telah selesai mengerjakan soal latihannya, Brian segera memeriksa satu persatu jawaban yang telah ditulis Alula.


"Pantas saja Kak Brian yang di idolakan Rendi, ternyata memang benar apa yang Rendi katakan. Bukan hanya pengusaha muda yang sangat tampan, tapi kak Brian juga genius matematika." Ucap Alula santai dengan tangan yang mulai menusuk manisan mangga dengan garpu kecil.


Perkataan santai Alula membuat Brian mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di hadapannya. Kini Brian menatap Alula yang sedang sibuk menyuapkan manisan ke dalam mulutnya, pujian yang didengarnya dari Alula membuat jantungnya berdetak kencang.


"Ehem.. Kamu mengakui kalau aku sangat tampan?" Brian mencoba terlihat santai saat mengucapkan kalimat itu.


"Mmm.. sejauh ini sih memang hanya kak Brian orang yang paling tampan yang pernah aku temui."


Brian menelan ludah mendengar jawaban yang diberikan Alula, hatinya benar-benar sangat bahagia dan wajahnya mulai terasa panas. Brian segera mengambil minumannya dan meneguknya untuk menetralkan rasa yang tiba-tiba bergejolak di dalam dirinya. Matanya mencoba kembali fokus pada latihan soal Alula yang sedang di periksanya.


"Jantung ku jadi sering tidak baik-baik saja karena Alula." Batin Brian.