
Yuna menatap bingung melihat banyaknya panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari atasannya itu.
'Yun, kamu di mana...?'
'Yun, mami menyuruhmu untuk apa ?'
'Kenapa tidak mengangkat telponku..?'
'Ayuna azalea, kamu mau mati ya, berani mengabaikan telponku'
'Share lock aku akan menyusulmu'
Begitulah rentetan pesan dari Nanda, saat Yuna hendak membalas pesannya, telponnya kembali berdering.
"Dimana...?"tanyanya Nanda to the point
"Cafe, depan apartemen anda Tuan."
Begitu Yuna menjawab pertanyaannya Nanda langsung mematikan ponselnya.
"Siapa Yun...?"tanya Nada
"Em itu..."
"Calon suamimu ya.."goda Nada, padahal ia tau yang tadi nelpon saudara kembarnya.
"Bukan..."sahut Yuna cepat.
Vriska dan Nada terkekeh, "iya juga gak papa Yun.."Nada semakin gencar menggoda Yuna. Namun Yuna hanya tersenyum tipis.
"Btw makasih ya Yun, udah bantu aku.."ucap Nada
"Iya Nona, semoga Tuan Tristan suka dengan kejutannya ya.."
Nada mengangguk, "Semoga ya.."lirih Nada
Brugh.. Yuna, Vriska, dan Nada terkejut saat sedang asyik makan tiba-tiba Nanda datang langsung mendudukan dirinya di sebelah Yuna.
"Ngapain kesini sih, bikin kesel aja.."celetuk Nada
"Sebenarnya apa sih yang kalian rencanain..."tanya Nanda sambil mengambil minuman di depannya lalu meminumnya hungga tandas.
Yuna mendelik, "Tuan kenapa di minum.."
"Saya haus.."
"Tapi itu minuman saya.. Dan juga udah saya minum.."
"Ya udah tinggal pesan lagi.."
"Nda, nanti malam kamu bagian jemput Tristan bawa dia kesini.."perintah kanjeng mami.
"Untuk apa, dia udah besar bisa datang sendiri.."
Akhirnya Vriska pun menjelaskan maksudnya, Nanda mengangguk paham.
"Bagaimana jika nanti Tristan justru marah Nad..?"tanya Nanda, karena ia sendiri sangat paham jika Tristan sangat membenci hari ulang tahunnya, saat mengingat hari itu ia justru akan teringat momen meninggalnya kedua orang tuanya..
"Aku hanya ingin merubah pandangan Tristan akan hari itu , aku ingin memberikan kesan membahagiakan untuknya. Bukankah tidak masalah jika aku mencoba.."ujar Nada
"Baiklah. Aku akan membantumu.."sahut Nanda
"Nda, gimana orang tua Sherly udah nanyain terus tuh, kamu mau ya ketemu supaya saling kenal, siapa tau cocok kan.."ucap Vriska tiba-tiba.
Nanda berdecak kesal, "Males.."jawabnya sembari bangkit dari tempat duduknya lalu meraih tangan Yuna, "Ayo Yun, ikut saya.."sambungnya
"Lho nda Yuna kok di bawa..."
"Tuan mau kemana.."
"Mami udah kan urusannya, sekarang aku juga memerlukan bantuannya. Jangan halangi aku oke..."ucap Nanda dengan serius, lalu membawanya keluar dari cafe.
"Bucin juga tuh orang lama-lama.."celetuk Nada
"Siapa tau ada urusan kerjaan yang belum beres Nad.."
"Tau ah,.."
🌹🌹🌹
"Tuan kenapa kita kesini, saya ingin pulang saja..."ucap Yuna saat Nanda memarkirkan mobilnya di sebuah butik ternama.
"Turun..."perintahnya
"Tapi..."
"Turun atau kau mau saya seret.."ancam Nanda tapi Yuna masih tak bergeming, "Oh saya tau, kamu ingin saya gendong ya.."godanya
Yuna langsung menggeleng cepat, "Jangan.. saya akan turun.."
"Bagus.."
Nanda membawa Yuna masuk ke dalam butik.
"Tuan, kita mau apa kesini..?"tanya Yuna
"Makan..."
"Makan kok di butik.."
"Udah tau butik masih nanya mau apa, ya mau beli baju lah.."
"Oh Tuan mau beli baju ya, biar saya pilihkan.."
"Gak perlu kamu pilih buat kamu aja.."
"Untuk apa ? pakaian saya masih banyak.."jawab Yuna
"Lusa temani saya ke pesta pernikahan teman saya"
"Kenapa harus saya.."
"Ya karena kamu sekretaris saya, saya tidak ingin di bantah. Jadi sekarang kamu pilih beberapa gaun yang kamu sukai, setelah itu baru saya antar kamu pulang.."
🌹🌹🌹
Nada sudah berdandan dengan secantik mungkin, ia juga bersama semua keluarganya sudah tiba di cafe tempat dimana ia akan memberikan kejutan untuk suaminya.
"Tristan..."
"Ada apa..?"jawab Tristan santai
"Nada..."
"Ada apa dengan Nada, katakan.."raut wajah Tristan berubah panik
"Tenanglah, ikutlah denganku.."jawab Nanda
Keduanya pun masuk ke dalam mobil, lalu Nanda pun mulai menyalakan kemudinya. Berkali-kali Tristan menanyakan apa yang terjadi, tapi Nana hanya menjawab nanti kamu tau sendiri.
Tristan mengusap wajahnya frustasi, "Tambah lagi kecepatannya, kenapa kau begitu lelet.."teriak Tristan
"Diamlah jangan banyak bicara.."jawab Nanda
Tristan pun kembali duduk dengan gelisah, dalam pikirannya ia terus berfikir keadaan istrinya.
"Hei bodoh, kenapa kau tak mengantarku pulang.."teriaknya saat menyadari Nanda tak membawanya pulang melainkan melawan arah.
"Diam bodoh..."sentak Nanda
"Damn'it sial..."umpatnya
Cittt... mobil berhenti tepat di depan cafe.
"Turunlah Nada menunggumu di dalam.."seru Nanda
Mengikuti apa kata Nanda, Tristan pun turun entah kenapa mendadak perasaannya tidak enak, ia mulai merasa gelisah.
Begitu masuk Tristan di buat terkejut, mendapati ruangan cafe itu begitu gelap.
"Nad..."
"Dimana..?"
Tristan menengok kesana kesini mencari istrinya, hingga sebuah sinar lampu menerangi dirinya, Tristan menengadah tangannya di wajahnya karena silau, lalu ia kembali tersentak saat melihat seorang wanita begaun cantik membawa sebuah kue tart berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yang terpancar di wajahnya di iringi sebuah musik.
Deg..
Wajah Tristan langsung berubah pucat pasi, mendadak perasaannya tidak enak, ia menggelengkan kepalanya mengenyahkan segala pikiran buruknya.
"Nada.."ucap Tristan begitu Nada berdiri di sampingnya.
"Selamat ulang tahun.."
"Selamat ulang tahun..."
Nada berkali-kali menyanyikan lagu itu, sementara Tristan terkesiap ia menutup telinganya rapat-rapat, kepalanya terasa pusing, mendadak sekelabat wajah kedua orang tuanya kembali terlintas dalam otaknya. Perlahan matanya mulai berkaca.
"Tidak..."teriak Tristan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Sayang...."panggil Nada dengan lembut.
Tristan mendongak menatap Nada, "Jadi..."
"Ya hari ulang tahunmu, selamat ulang tahun.. Ayo tiu lilinnya..."ucap Nada
Tristan menatap Nada dengan tajam lalu ia mengambi kue itu dan membantingnya.
"Apa kau gila..."bentakan Tristan dengan keras dan melengking di telinga Nada.
Deg... Nada terkesiap mendengarnya, begitupun dengan semua keluarga yang semula bersembunyi. Nanda ingin maju melerai keduanya tapi Alan mencegahnya.
Nada menatap nanar kue yang di banting Tristan, "Tristan maksudku..."
"Kau membuatku khawatir hanya dengan hal konyol begini..."Sentak Tristan
"Kau bodoh, kau menyuruhku untuk merayakan hari kematian orang tuaku. Begitu Nad, di mana otakmu..."
Deg.. air mata Nada perlahan luruh jatuh saat itu juga, seumur-umur ia tidak pernah mendengar suaminya itu membentak dirinya.
"Bukan.. itu maksudku.."
"Kau nikmati saja pestamu, aku tidak membutuhkan ini semua...."tegas Tristan kembali, lalu membalikan badannya.
"Tristan dengar dulu penjelasanku.."Nada kembali meraih tangan Tristan.
Tristan menatap tajam istrinya, lalu menghentakan tangannya hingga membuat Nada limbung hampir terjatuh. Kemudian Tristan berlari keluar dengan cepat.
Nada berlari keluar menyusul suaminya, terlambat Tristan sudah masuk ke dalam taksi yang entah akan membawanya ke mana.
"Tristan..."teriak Nada histeris.
"Nad..."panggil Vriska
"Mami... Tristan marah mi. Aku bermaksud buat dia begini.."ucap Nada dengan sesegukan.
"Sayang, biarkan Tristan sendiri dulu.."jawab Vriska membawa Nada ke dalam pelukannya.
Baik para Opa dan Omanya pun juga berusaha menenangkan Nada.
"Kita pulang ya..."
"Tapi Tristan gimana Pi..."
"Biar aku yang mengurusnya, kalian pulanglah.."Seru Nanda ia berlalu ke mobilnya.
Sudah ku duga hal ini pasti akan terjadi, Nada benar-benar tak mendengar ucapanku..gumam Nanda
🌹🌹🌹
Hanya sebuah konflik kecil kok,
Jangan lupa
like
Komentar
Hadiahnya
Tbc