DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Pasti di tolak



Ketika matahari mulai menyingsing di hari berikutnya, sesuai dengan janjinya sebelum kembali pulang ke kota, dia akan menemui calon istrinya lebih dulu.


"Jadi pulang...?"tanya Yuna begitu Nanda sudah mendaratkan pantatnya di sofa.


Pria itu tersenyum tipis sebelum menjawab, "Iya sayang..." hem manisnya, kan Yuna jadi blushing.


Mengenakan kemeja berwarna putih di sertai celana pendek berwarna cream kan jadi makin tampan. "Makan dulu yuk, kebetulan aku dah masak.."ajaknya.


Nanda mengangkat alisnya kepalanya melirik kesana kesini seperti mencari sesuatu, "Sebentar, Bapak sama ibumu kemana...?"tanyanya.


"Lagi di toko, sebentar doang. Bentar lagi juga pulang. Ayuk sarapan dulu.."serunya.


Nanda pun mengangguk bangkit dari tempat duduknya, di ikuti Yuna, "Bau asem, kamu belum mandi ya.."goda Nanda.


"Emang belum, baru mau mandi kamu udah datang lebih dulu.."serunya, ia menarik salah satu kursi lalu menyuruh Nanda duduk di sana, kemudian ia membuka tudung saji mengambil piring menyiapkan makanan untuk Nanda dengan lihai.


Nanda tersenyum tipis terharu, "Gak papa, gak mandi juga kamu tetap cantik kok.."eh sekarang udah berani terang-terangan, kalau kemarin masih gengsi alias menahan diri katanya.


"Gombal, ya udah buru makan..."serunya, usai mengambilkan makanan untuk Nanda, Yuna pun juga mengambil juga makanan untuk diri sendiri, lalu keduanya mulai makan bersama.


"Na, gak pengen nyuapin aku lagi..? biasanya kamu kan paling senang kalau di suruh nyuapi aku..."tanya Nanda dengan senyuman menggoda, nah kan kumat lagi jahil dan percaya dirinya. Dosa gak sih jitak kepala Nanda, pengen lakuin itu sekarang rasanya, seru Yuna dalam hati.


"Nggak, mau pensiun.."jawab Yuna membuat Nanda tergelak.


Lima belas menit kemudian keduanya sudah selesai makan, bersamaan dengan kedua orang tua Yuna yang pulang. Nanda pun langsung mengutarakan maksudnya jika lusa ia akan datang lagi bersama kedua orang tuanya untuk melamar Yuna.


"Nak Nanda yakin, Yuna itu hanyalah seorang anak dari seorang petani seperti kami, tidak mempunyai apa-apa, tidak sederajat dengan anda.."ujar Rojali raut wajahnya menunjukan kekhawatiran.


Nanda tersenyum yakin, "Yakin pak. Jangan begitu pak, derajat manusia di mata Tuhan itu sama. Saya juga tidak mempunyai apa-apa, semua harta yang saya punya itu milik orang tua saya. Saya mau menikahi Yuna karena memang saya yakin dan mencintainya.."ujarnya, kan Yuna jadi baper sekaligus tergelak tak percaya, padahal biasanya saat bersama Yuna, Nanda akan membanggakan dirinya betapa dia tampan, kaya dan mapan. Gak nyangka kan dia bisa bersikap dewasa begitu.


Rojali pun mengangguk, "Baiklah, kami tunggu kedatangan nak Nanda dan kedua orang tua nak Nanda lusa.."


Usai pembicaraan itu Nanda pun berpamitan pulang, "Sebentar, kami ada oleh-oleh untuk kedua orang tua kamu. Yuna buruan ambilin, tuh di dapur ada pete, jengkol, singkong, labu kuning, ubi, juga sayuran, kemarin kan bapak udah petik sengaja buat calon mantu.."


"Tapi pak..."


Nanda melongo namun juga senang saat bapaknya Yuna sudah mengatakan calon menantu.


Yuna kembali ke ruang tamu dengan membawa barang-barang yang di suruh oleh bapaknya.


"Bapak aneh-aneh, mereka mana mau sih pak makan pete dan jengkol kan bau, ih.."cerocos Yuna.


Nanda terhenyak, "kata siapa ? mau kok Na..."


"Makasih banyak ya pak bu, orang tua saya pasti senang ni di kasih oleh-oleh..."ucapnya sebelum ia berpamitan pergi. Nanda menatap Yuna, jika aja tidak ada kedua orang tua Yuna mungkin Nanda udah narik Yuna ke dalam pekukannya, tapi sekarang hanya bisa bersalaman saja. Sabar lah, tunggu halal nanti langsung di gaspoll, ehh.


•••


Seorang pria paruh baya dengan seragam hitam melihat mobil Nanda tiba, ia dengan segera bangkit lalu membuka gerbang. Mobil terus melaju ke depan rumah.


"Pak, tolong keluarin barang-barang saya yang di bagasi lalu di bawa masuk ya..."perintah Nanda pada salah satu pekerja di rumah orang tuanya.


"Baik den.."


Nanda segera masuk sambil bersiul, sepanjang jalan ia terus tersenyum senang, bak remaja yang baru mengalami kasmaran.


"Sinting..."umpat seseorang yang tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi juga membuka-buka majalah, Nanda menghentikan langkahnya mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya.


"Ck, ngapain di sini. Menuh-menuhin tempat aja si Nad, sirik aja jadi orang..."decak Nanda begitu menghampiri Nada.


Nada mengelus perutnya yang tampak membuncit, "Amit-amit, nak nanti kalau lahir jangan kaya om mu itu ya. Bunda ilfil liatnya..."ia seolah berbicara pada kedua anak kembarnya di dalam perutnya tanpa melihat ke arah Nanda.


"Mirip aku banget malah nanti..."ejek Nandan dalam hati juga mengaminkan ucapannya barusan.


Nada melotot ke arah saudara kembarnya, "ish.."desisnya.


"Pasti di tolak ya ama Yuna, aku sengaja lho kesini mau rayain hari patah hati kamu.."sambung Nada sambil tersenyum mengejek, Nanda tergelak bener-bener saudara gak ada ahlak ya Nada.


"Kata siapa...?"Nanda mendudukan dirinya di sebelah Nada, sambil tersenyum simpul, "Yuna itu cinta mati ma aku, mana mungkin dia bisa menolak pesona ku yang tampan ini.."lanjutnya.


Wuekk...Nada ingin muntah rasanya, ia terus mengelus perut buncitnya sembari mendumel tak jelas.


"Di mana Tristan, aku mau kasih kabar bahagia sama dia. Mau pamer sebentar lagi aku juga gak jomblo, bosen di pamerin kemesraan kalian terus.."ujar Nanda kesal.


Nanda memperhatikan Nada yang sedari tadi mulutnya tak berhenti mengunyah, tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya, "Makin bulat aja tubuh kamu Nad, kaya tahu bulat makan mulu sih..."ejeknya membuat kedua mata Nada melotot kesal.


"Biarin, kata Tristan aku makin seksi meski aku bulat.."jawabnya santai sambil terus makan,


Grepp.. Nanda bangkit langsung mengambil toples keripik kentang milik Nada,


"Nanda jangann...."


"Bagi, ini buat aku aja. Kamu udah bulat begitu jangan makan terus entar overweight lho.."


Nada geram dengan perilaku saudara kembaranya itu, "Mami..... Nanda nakal. Mami tolong aku.."teriak Nada di buat-buat sambil menangis.


Benar kan tak lama Vriska muncul sambil memperlihatkan kedua tanduknya, "Nandaaaa kamu tuh ya.."


Segera Nanda mengembalikan makanan Nada, "Dasar anak mami.."ejeknya


"Biarin..."


•••


Nanda berjalan menuruni tangga dengan pakaian kantor yang sudah rapi, "Mau kemana...?"tanya Vriska yang saat ini masih duduk dengan Nada.


"Kerja..."


"Lho kan baru pulang, gak capek.."


"Kerjaanku banyak mi,..."sahutnya, ia kembali menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arah Vriska, "Mi bilang papi ya, besok kita ke rumah Yuna. Aku mau papi sama mami lamarin dia untuk aku.."ucapnya, membuat Vriska dan Nada tergelak.


"Yakin, secepat itu...?" desak Vriska tak percaya, Nanda mengangguk.


"Aku udah bosen mi main-main. Memangnya mami gak mau dapat cucu dari aku.."eh kok jawabnya udah kesana-sana.


"Bilang aja takut Yuna di embat pria lain..."timpal Nada.


"Diam kau..."


"Udah kalian berdua itu kenapa sih ribut mulu, mami pusing dengernya. Ya udah Nda sana kamu berangkat, nanti mami bilangin sama papi, mami juga kan harus shopping, kamu sih dadakan. Masa iya kita kesana gak bawa-bawa apa-apa..?"ujar Vriska.


"kan udah bawa cinta aku buat Yuna mi, emang gak cukup..."jawabnya membuat Nada memutar bola matanya jengah, Vriska menggelengkan kepalanya.


"Kamu pulang kesini aja di bawain hasil kebunan mereka, masa kamu gak malu kesana bawa tangan kosong.."seru Vriska.


"ya udah terserah mami aja.. Aku berangkat dulu.."pamitnya.


Sepeninggal Nanda, kini tinggal Vriska dan Nada, "mi.."


"Hem.."


"Pengen semur jengkol..."ucapnya sambil meneguk ludahnya.


"Ya udah ntar biar Mami apa bibi masakin.."


"Gak mau..."


"Lalu.."


"Aku pengen Tristan yang masakin.."ucapnya sambil mengelus perutnya, Vriska tergelak, karena saat ini Tristan sedang berada di Surabaya.


"Nad, suamimu kan lagi gak di rumah. Lagi sama aja kok bikinan mami apa Tristan,."ucapnya lembut, tapi entah kenapa mata Nada sudah berkaca-kaca. Ya, karena memang sejak hamil Nada memang lebih menyukai masakan Tristan di bandingkan masakan orang lain, bagaimana rasa dan bentuknya asal itu masakan Tristan pasti ia akan makan dan tidak merasakan mual.


Vriska menghela nafasnya bingung, "Baiklah mami telpon Tristan, barangkali hari ini ia bisa pulang.."


Nada menganggukan kepalanya dengan senyum tipisnya.


•••


Ngebosenin gak sih ceritanya ? serius ni nanya, kalau menurut kalian gaje apa bosenin nanti aku buat end kalau Nanda udah nikah. Jujur aja nie aku nulis cerita ini gak dapat apa-apa kok karena levelnya emang rendah aku tetap lanjutin karena demi kalian, jadi kalau kalian dah bosen ya udah semangatku hilang, lebih baik di tamatin.


Yuk dukunh author dengan like, komentar, hadiah


Tbc.