
Nanda memapah Yuna masuk ke dalam apartemen miliknya. Ia menyuruh Yuna untuk tiduran, namun Yuna menahan tangan Nanda.
"Duduk sini sebentar tampan, kau mau dengar ceritaku..."rancau Yuna dalam kondisi mabuk.
Nanda menghela nafasnya, "Apa yang mau kau katakan..", tanyanya sembari mendudukan dirinya di depan Yuna.
Yuna terkikik geli, sembari menyenderkan punggungnya di ranjang sesekali ia akan bergeliat dalam duduknya, membuat belahan dada Yuna sedikit terekpos.
"Sial.."umpat Nada, memalingkan mukanya sembari mengendurkan dasinya, mendadak hawa panas menyergap dalam tubuhnya.
"Pakailah selimut untuk menutupi tubuhmu.."lanjut Nanda ia menarik selimut di berikan ke Yuna , namun Yuna menepisnya.
Yuna menggeleng sembari terkikik, "Tidak mau, panas, aku bahkan ingin membuka baju saja.."ucapnya sembari menggerakan tangannya untuk menarik gaunnya.
"Jangannnn..."teriak Nanda menepis tangan Yuna.
"Damn'it, sial dia belum membuka baju saja aku sudah kepanasan, apa jadinya jika ia membuka aku bisa mati klojotan.."
"Bodoh, kendalikan dirimu Yuna..."ujar Nanda kesal, ia bangkit dari ranjang.
Grepp... Yuna bangkit memeluk Nanda dari belakang, membuat mata Nanda membulat sempurna.
"Yun.."
"Sebentar saja tuan.."lirih Yuna,
"Hiks.... hiks...hiks...."
"Kau menangis, ada apa..?"tanya Nanda ia memutar tubuhnya menghadap Yuna.
Yuna menggeleng, "Aku tidak menangis hanya saja mataku mengeluarkan air mata.."
Nanda tergelak, bukankah artinya sama saja. Yuna menepuk kedua pipi Nanda, "ish kenapa wajahmu ada banyak coba ku hitung dua empat enam sepuluh.." rancau Yuna sembari terkikik geli, tadi nangis sekarang ketawa emang begitu orang mabuk (kaya anakku aja ngitung sukanya lompat-lompat Yuna😂😂).
"Ayo tidurlah lagi Yun.."
"Tidak mau aku sedang ingin mengobrol.."
"Iya kita ngobrol di ranjang aja ya, "ujar Nanda, jujur saja dengan posisi sekarang membuat Nanda sama sekali tak nyaman.
"Tuan kau memang tampan tapi kata orang-orang kau itu playboy, aku jadi ilfil..."ucap Yuna
"Kenapa, apa kau juga menyukaiku.."tanya Nanda iseng-iseng.
"Hem. aku tidak tau, yang jelas setiap aku dekat denganmu aku merasa mau mati..."
"What.. di kata aku malaikat pencabut nyawa pa Yun.."decak Nanda kesal.
Yuna terkikik geli, "Kau lebih dari malaikat pencabut nyawa,.."
"Kenapa...?"Nanda sudah kesal tapi ia juga penasaran.
"Kau itu.. manusia paling ngeselin yang pernah ku temui di muka bumi ini.."Yuna mencondongkan tubuhnya ke Nanda.
"Kok bisa.."sahutnya sembari memalingkan mukanya, gerakan Yuna seperti itu membuat Nanda panas dingin, ia masih mencoba menggunakan akal sehatnya.
"Kau pria tapi kau crewet mirip perempuan yang sedang pms.."
Nanda tergelak, "Lalu apa lagi.."ia menahan rasa kesalnya, ingin tau apa saja penilaian Yuna padanya selama ini.
"Kau juga kejam, sering mengancamku akan memotong gajiku.."ucapnya dengan cemberut mendadak berubah menjadi sendu.
"Sorry.."entah kenapa Nanda berkata seperti itu, dia tau perkataan orang mabuk biasanya memang benar.
"Untuk.."
"Untuk biaya pengobatan bapakku cuci darah, dan biaya hidup keluargaku.."ucapnya Yuna, membicarakan hal itu membuat wajah Yuna menjadi sedih.
Jleb.. Nanda terdiam, rasa bersalah menyeruak dalam lingkup dadanya.
"Dokter mengatakan Bapak harus di operasi ginjalnya sudah parah, tapi uang dari mobilku tidak cukup karena kedua adikku juga masih sekolah di kampung,.."
"Lalu.."
"Entahlah aku bingung dengan cara apa aku harus mendapatkan uang, apa aku jual diri saja ya. Tuan mau tidak membeli saya.."ujar Yuna.
Nanda terkejut, "Jangan..."jawab Nanda cepat, enak saja meski dia playboy Nanda tidak merusak wanita, bisa di cincang habis dia sama Opa Danu.
"Kenapa?.."seru Yuna sambil terkikik geli, namun sedetik kemudian matanya berembun tampak berkaca-kaca, "aku tau Tuan kan tidak menyukaiku makanya tidak mau. Badanku tidak berisi.."sambungnya.
"Bukan Yuna, aku hanya bercanda saat itu. Sekarang kau tidurlah, masalah bapakmu kita bicarakan besok ya.."
Yuna menggeleng, "Aku tidak bisa tidur kepalaku pusing, apa aku akan mati.."
Nanda mebulatkan matanya, "Tidak, nanti akan hilang dengan sendirinya."
"Perutku mual.."ucap Yuna
Nanda mendekati Yuna, "Kenapa, apa kau akan muntah.."
Hoek.. hoek.. byur, Nanda memejamkan matanya saat Yuna justru memuntahkan isi perutnya di pakaian Nanda.
"Yunaaaa..."geram Nanda kesal, baru juga tadi bersimpati dengannya sekarang dia udah di buat kesal lagi.
Yuna terkikik lagi, "Aku ngantuk.."lirihnya ia membaringkan dirinya.
Secepat kilat Nanda berlari ke kamar mandi, bau anyir dari muntahan Yuna sangat menyengat.
🌹🌹
Usai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan celana pendek selutut dan kaos oblong berwarna putih Nanda hendak keluar, sebelumnya ia melirik ke arah Yuna yang terlelap, namun sedetik kemudian ia terkejut mendapati Yuna menggeliat sembari merentangkan tangannya kebetulan di atas nakas ada air putih segelas, jika nanti tersentuh Yuna lalu jatuh di pastikan Yuna akan langsung bangun dan merancau tidak jelas.
Nanda menggelengkan kepalanya, dengan gerakan cepat Nanda berlari mencegah tangan Yuna untuk bergerak ke samping, lalu ia mensedekapkannya di tubuh Yuna.
Nanda bangkit kembali dari ranjangnya, namun ia terkejut mendapati tangannya kembali di tarik Yuna.
Bugh... Nanda jatuh tepat di atas tubuh Yuna,. Ia meringis kala Yuna justru menjambak rambutnya sambil terkikik geli dengan mata yang terpejam. Nanda menatap wajah Yuna yang terpejam, lalu beralih ke bibir ranumnya.
"Sial.."umpatnya kala kembali teringat akan ciuman yang Yuna ributkan sewaktu di kantor.
Dengan gerakan perlahan Nanda menyingkir dari atas tubuh Yuna, lalu mengambil tangan Yuna dari atas kepalanya dan meletakknya di atas perut Yuna kembali.
Nanda berdiri menghela nafasnya lega, "Ya ampun dia benar-benar menguji keimananku. Bagaimana jika aku khilaf.."ucap Nanda, sebelum ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.