
Kini Nada dan Tristan sedang dalam perjalanan menuju rumah Alan. Tristan baru membaca pesan dari Alan setelah sampai apartemen miliknya , Alan menyuruh mereka untuk pulang makan malam sekalian menginap di rumah.
Ponsel Nada terus berdering sejak tadi, siapa lagi yang nelpon jika bukan maminya yang menanyakan keberadaannya.
"Ini semua karena kamu,.."
"Kok aku sih.."
"Coba aja kamu tadi langsung membuka ponsel dan membaca pesan dari Papi, kan kita gak perlu pulang dulu langsung saja ke sana.."
"Memangnya kamu tidak malu ke rumah Papi, dalam keadaan acak-acak.."jawab Tristan santai.
"Ya kamu sih gak tau tempat..."
"Kamu yang mulai kok.."
"Ya kamu pake acara ngambek segala.."jawab Nada tak kalah kesalnya.
"Ya kamu rayu-rayu tentu saja aku ..."
"Apa...?"Ucap Nada menyolot. Menggambarkan betapa kesalnya ia.
Tristan menghela nafasnya, "Ya deh aku yang salah maaf ya. Lain kali gak lagi.."
"Janji, gak akan lakukan hal itu lagi di kantor ya.."
"Iya.."seru Tristan membuat Nada tersenyum senang.
"Tapi kalau gak khilaf.."sambungnya, membuat Nada tergelak.
🌹🌹🌹
Suara dentuman sendok dan garpu saling beradu di meja makan. Keluarga besar Alan kini tengah berkumpul, ada pula Opa Brawijaya, Oma Merlyn, Opa Danu, dan Oma Lita.
"Kau kenapa Nad, dari tadi Opa perhatikan cemberut terus..."Tanya Opa Brawijaya
"Apa masakan Oma dan Mamimu tidak enak ya.."Sambung Oma Merlyn.
Nada menggeleng, "Gak Oma, Opa aku cuman merasa lelah saja.."jawab Nada membuat Alan geleng-geleng kepala menahan senyumnya. Ya, ia jadi teringat kejadian tadi di kantor saat ia hendak memberitahukan anak dan menantunya untuk makan malam di rumahnya, pintunya terkuci otomatis dari dalam, karena merasa lama menunggu Alan memutuskan untuk kembali ke ruangannya, namun tidak lama ia melihat Nada dan Tristan keluar dengan keeadaan acak-acakan, tanpa bertanya Alan pun tau apa yang keduanya lakukan.
"Kenapa senyum-senyum Pi..?"tanya Vriska
"Enggak apa-apa sayang.."jawab Alan..
"Tristan mainnya gak kenal waktu ya.."celetuk Nanda, sontak langsung mendapat tatapan tajam dari Nada.
uhuk.. uhuk... Tristan tersedak makanannya sendiri.
"Nanda , gak sopan ngomong begitu di meja makan.."tegur Opa Danu.
Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Nada langsung menjulurkan lidahnya pada saudara kembarnya itu.
"Tapi nda, ngomong kapan-kapan kamu mau ngenalin calon istrimu pada kami.."tanya Mama Lita.
Glek...
"Nanti lah Oma gampang..."jawab Nanda santai.
"Nda, kamu ingat teman kamu Sherly, dia cantik pintar mau gak Papi jodohin sama dia..."seru Alan.
"Apain sih jodoh-jodohin segala, udah kaya perjaka gak laku aja.."jawab Nanda
"Emang.."jawab Nada cepat.
"Diem lo, mentang-mentang sekarang udah punya gandengan.."cetus Nanda
"Kenapa gak mau di jodohin, biar kamu juga cepet nikah nda, terus ada yang ngurus kamu deh.."ujar Opa Brawijaya.
Nanda menggeleng, "Ada Yuna..", ehh kenapa malah kepikiran nama sekretarsinya itu.
"Suatu saat Yuna juga bakal nikah dan ninggalin kamu nda, gak mungkin lah dia bekerja terus sama kamu.."tutur Oma Lita.
"Gak boleh..."jawab Nanda membuat semuanya tergelak, menatap Nanda dengan penuh tanda tanya.
"Maksudku dia gak boleh risent , sebelum aku nikah.."sambungnya.
Nanda mencebik kesal, "Bukan selera aku banget.. Apaan sih Opa.."
"Hati-hati lho, makan omonganmu sendiri.."ucap Nada
"itu mah kau ya, bilangnya benci-benci taunya jatuh cinta beneran.."sahut Nanda
"Gak papa jatuh cinta ama suami sendiri ini, ya gak sayang.."seru Nada mengedipkan sebelah matanya pada Tristan, membuat Tristan tergelak tak percaya.
"Jangan begitu kan aku jadi pengen bawa kamu ke kamar.."bisik Tristan.
Awwww.. teriak Tristan saat Nada mencubit pahanya, "Mesum.."
🌹🌹🌹
Nada sedang berdiri di sekitar kolam renang menatap langit, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya mengejutkannya.
"Sedang apa..?"bisik Nada
"Lihat bintang.."
"Kenapa suka lihat bintang, memangnya gak cukup lihat suamimu yang tampan dan pintar ini.."ucap Tristan sembari mengecup pipi istrinya.
Nada tersenyum tipis, "Suka gak nyangka aja sih aku bisa nikah sama kamu.."
"Gak nyangka nikah dan jatuh cinta sama orang yang dulunya kamu benci gitu.."seru Tristan, kali ini ia berdiri di samping Nada sembari merangkul pundaknya.
"Heem.."
Tristan melirik ke arah Nada, matanya tertuju pada bibir ranum milik istrinya. Perlahan ia mencondongkan wajahnya, Nada yang tau jika suaminya hendak menciumnya pun memejamkan matanya, hingga jarak bibir keduanya tinggal beberapa centi.
"Minggir.. minggir.. apaan sih mau ciuman di sini. Dasar gak tau tempat..."Celetuk Nanda yang tiba-tiba datang lalu melepas rangkulan Nada Tristan.
Tristan menggeram kesal, "Dasar kakak ipar gak ada ahlak emang kau ya.."
"Bodo amat..."
"Sirik aja.."seru Nada
"Ya ampun Nad dulu aja benci gitu, sekarang aja bucin..."ejek Nanda sembari melangkah duduk ke kursi.
"Gak papa ya sayang.. "sahut Tristan, "Benci menjadi cinta itu hal biasa. Tapi bagaimana kalau gengsi menjadi cinta.."sambung Tristan tertawa terbahak-bahak.
"Maksudnya apa...?"
"Cari tau aja jawabannya sendiri, kita mau balik kamar, yuk sayang kita lanjut saja di kamar, di sini ada pengganggu...."Ucap Tristan menggandeng Nada masuk kedalam.
Nada melambaikan tangannya pada Nanda, "bye bye jomblo.. Truk aja gandengan masa iya kita enggak..."
"Damn'it sialan...."Nanda mengambil sandalnya hendak melemparnya ke mereka. Buru-buru Nada dan Tristan berlari masuk.
"Kakak..."panggil Calvin yang baru tiba.
"Apa..?"Sahut Nanda kesal.
"Dasar jomblo bisanya marah-marah.."ejek Calvin.
"Sialan kau anak kecil, beraninya ngejek kakakmu.. Gak aku kasih uang..."
"Yah jangan dong.. "
🌹🌹
Up Doble lho aku😊😊
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.