
Nada memandang langit yang mulai tampak menguning berganti menjadi senja, wanita itu berkali-kali mengelus perut buncitnya. Sesekali ia akan tersenyum tipis, membayangkan kehidupan masa depannya bersama kedua anaknya, juga suami yang teramat mencintainya. Kehidupan yang indah dan penuh warna rasanya sudah terancang begitu rapi dalam otaknya.
Segala perlengkapan si kembar juga sudah tersedia. Kini Nada dan Tristan tinggal bersama Vriska dan Alan kembali, itu atas permintaan Nada. Lantaran kehamilan Nada yang memang sudah besar, belum lagi nanti pas si kembar lahir ia pasti akan sangat membutuhkan bantuan maminya. Bisa saja sih dia memperkerjakan pengasuh, tapi Nada tidak ingin kedua anaknya nanti justru dekat dengan pengasuhnya. Ia ingin mengasuh dan merawat anaknya sendiri, meski mungkin di awal-awal nanti ia akan merepotkan maminya.
Vriska dan Alan tentu saja dengan senang hati menyetujui niatan putrinya itu.
Menghela nafasnya, Nada beranjak dari tempat duduknya, berdiri matanya tetap melihat senja yang perlahan mulai berganti menjadi gelap.
"Lamunin apa...?"sebuah bisikan halus, tak lupa kedua tangan kekar melingkar di pinggangnya membuat ia cukup terkejut.
"Gak apa-apa, baru pulang ya ? kok aku nggak dengar suara mobil kamu sih.."jawab Nada sambil mengelus lengan suaminya yang masih melingkar di pinggangnya.
Tristan memutar tubuhnya menghadap istrinya, lalu ia mengecup kening dan pipi istrinya dengan penuh cinta, hal yang sangat Nada sukai saat suaminya berangkat dan pulang kerja pasti akan mengecup keningnya, sungguh ia merasa sangat beruntung dan sangat di cintai oleh Tristan, perlakukannya begitu hangat dan manis padanya.
"Kamunya klamun gitu, mana bisa dengar sih.."ucapnya kini ia kembali menuntun istrinya untuk duduk di kursi yabg tersedia di balkon itu.
Nada membuang nafasnya, "aku takut.."lirihnya.
Tristan mengernyit heran, ia melonggarkan dasi yang masih melekat di lehernya, agar memudahkan ia untuk bernafas, lalu ia membungkukan tubuhnya di depan istrinya, "takut ? takut apa sayang, hem.."tanyanya lembut sembari menatap istrinya tak lupa mengelus pipi chubynya.
Nada memandang wajah suaminya yang tengah menyembunyikan guratan-guratan lelahnya, tapi di balik itu pria itu selalu berhasil menutupinya, ia tidak pernah mengeluh lelah padanya, "aku takut tidak mampu menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita..."ucapnya sendu.
Detik itu juga, Tristan menyadari hormon kehamilan istrinya kini tengah bekerja, perasaan istrinya mendadak sensitif, "kita sama-sama belajar sayang. Karena Tuhan telah menitipkan mereka pada kita, dia telah mempercayai kita, yakin kamu juga bisa..."ucapnya lembut.
"Tapi kan kamu tau, sampai detik ini saja, aku belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu. Aku tidak bisa melayanimu dengan baik, aku tidak bisa membuatkanmu makanan yang enak.."ucapnya sambil mengercutkan bibirnya ke depan, membuat Tristan gemas.
Cup.. Tristan mengecup bibir istrinya sekilas, lalu bangkit berdiri sedikit membungkuk dan mengelus lengan istrinya.
"Aku tuh, jadiin kamu istri lho bukan koki. Jadi kamu tidak bisa masak pun aku tidak masalah, aku masih sanggup kok bayar orang buat jadi pembantu. Lagian selama ini aku menikmati setiap masakan yang kamu buat, pasti aku makan, meskipun rasanya...."
"Tuhkan kamu aja ngejekin aku, mau bilang jika rasnya asin apa pahit. Emang aku tuh payah.."cetus Nada kesal bibirnya sudah mengerucut kedepan.
"Bukan, maksudku rasanya itu enak kok tapi pas-pas'an.. Hebat lho istriku bisa masak mie instan, masak air, masak telor ceplok bahkan sampai berwarna gelap, istri orang lain mana bisa.. ya gak sayang..."ia menaik turunkan alisnya menggoda Nada, maksudnya ia ingin mencairkan suasana.
"Tau ah, kamu ngeselin.."Nada berdecak kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan hati-hati, ia menghentakkan kedua kakinya. Sebenarnya Tristan itu niat menghibur apa menggoda sih, mana ada orang membanggakan istrinya masak telor berubah gelap.
Sementara Nada sudah berlalu masuk ke kamar, Tristan masih melongo terdiam di tempat.
Salahku apa..?gumamnya.
•••
"Dek, beliin kakak ketoprak dong..?"pinta Nada pada adiknya yang bernama Calvin. Saat ini ia tengah tiduran di kamar adiknya itu.
"Males ah, aku lagi sibuk.."sahutnya, memang Calvin terlihat sibuk dengan laptop di tangannya, remaja itu terlihat sedang memindai-mindai hasil potretannya.
"Sok sibuk, bentar doang. Di ujung gang sana kan ada, kamu mau keponakanmu ileran, ayo lah kakak benar-benar ingin..."rengek Nada bak anak kecil, wanita hamil itu bangkit mengguncang-guncang tubuh adiknya yang masih duduk di kursi belajarnya.
"Alasan aja. Lagian, kan ada Kak Tristan suruh aja dia buat beliin, aku lagi lagi males keluar.."sarkasnya, tanpa melirik ke arah kakaknya, dalam hati udah kesal banget, semenjak Nada tinggal di rumah itu, kakaknya itu selalu nyusahin dirinya.
Calvin meremas rambutnya, konsentrasinya mendadak buyar, "ya ampun, kakak kau menyuruhku sementara suamimu kau biarkan enak-enakan tidur, itu namanya penindasan.."
"Aku kan sayang sama dia, kasihan dia lelah.. Buruan cepat berangkat, nanti keburu habis.."serunya.
Sambil mendengkus kesal Calvin dari tempat duduknya, lalu menengadahkan telapak tangannya, "bagi uang.."pintanya.
"Pakai duit kamu lah, kakak gak bawa uang Sepuluh ribu doang kok, uang saku kamu juga pasti sisa banyak.."ucapnya membuat Calvin tergelak. Namun, tak urung ia pun beranjak pergi setelah mengambil kunci motornya dan dompet miliknya.
"Dek..."panggilnya ketika Calvin sudah berdiri di ambang pintu.
"Apa lagi.."sahutnya,
"Jangan lupa mampir supermarket, beliin kakak ice cream rasa coklat lima ya, trus juga cemilan ringannya.."
Calvin berlalu pergi begitu saja tanpa menjawab ucapan kakaknya. Ini bukan yang pertama sikap kakaknya itu begitu, pernah juga Nada memintanya untuk mengajaknya berkeliling ke mall tanpa membeli apapun. Memalukan sekali rasanya, entah seperti apa kedua ponakannya yang lahir itu, jangan samlai sifat ngeselin kakaknya itu turun pada kedua anaknya.
Sembari menunggu Calvin pulang, Nada pun duduk di kursi tempat belajar adiknya. Wanita itu merasa penasaran, ia membuka-buka laptop milik adiknya. Terlihat banyak gambar pemandangan alam di sana, Calvin memang pintar dalam hal memotret, hasil gambarnya bahkan sangat bagus.
Lalu perlahan ia menggeser mencari file yang lain, hingga akhirnya ia merasa terkejut lantaran melihat seorang foto gadis cantik dan imut di laptop milik adiknya itu, dengan poni di depan yang menutupi dahinya, kedua pipinya yang berlesung pipit, kulitnya putih, dengan pakaian seragam sekolah.
Siapa gadis ini ? timbul pertanyaan itu di benak Nada.
"Kakak apa yang kau lakukan..."teriak Calvin masuk tergesa-sega, ia menghampiri Nada segera menutup laptop miliknya begitu saja, membuat Nada terkejut.
"Ini pesananmu, sekarang kakak keluarlah..."sambungnya, Calvin menyerahkan tiga kantong kresek pada Nada.
"Gadis itu siapa ? pacarmu ya.."tebak Nada.
"Bukan,.."jawabnya datar.
Nada mengerucutkan bibirnya kesal, di bandingkan dengan Nanda, Calvin jauh lebih susah untuk ia tebak, adiknya itu sedikit berbeda dari yang lain, sifatnya cenderung cuek dan dingin.
"Calvin, tiba-tiba kakak udah gak ingin makan ketopraknya, jadi kamu aja ya yang makan.."ucapnya tanpa dosa.
"Ih ngeselin banget sih.. Harus di makan lah, aku udah kenyang, mubadzir gak boleh buang makanan.."
"Kakak inginnya kamu yang makan, ayo lah keluar kakak ingin lihat kamu makan ketoprak ini.."rengeknya.
Pada akhirnya Calvin pun menuruti permintaan kakaknya itu untuk memakan ketoprak miliknya tadi, sementara dirinya tengah asik makan ice cream di depannya.
•••
Jangan lupa like, komentar, hadiahnya
Tbc