DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Hati yang tak menentu



Sesuai dengan perintah Nanda, jika malam ini Yuna akan lembur di apartemen atasannya itu.


"sebelum masak, tolong seduhin susu putih dulu untuk saya ya Yun.."pinta Nanda


"Ya Tuan.."sahut Yuna


Nanda segera berlalu ke kamarnya dan Yuna mulai berkutat di dapur apartemen atasannya, pertama menyeduhkan susu putih untuk Nanda juga dirinya. Setelahnya ia segera berlalu membuka kulkas mengeluarkan bahan-bahan yang hendak ia masak.


Nanda duduk di meja makan sambil meminum susu yang telah Yuna seduhkan, matanya menatap Yuna yang sedang memasak.


"Lho Tuan, saya pikir anda mandi..."ucap Yuna, karena saat ini ia melihat Nanda masih mengenakan pakaian yang tadi hanya tanpa jas saja.


"Saya sudah lapar Yun, nanti saja mandinya.."sahut Nanda.


Yuna mengangguk paham, tidak lama masakan yang ia masak pun matang. Lalu Yuna menghidangkannya di meja makan. Kemudian Nanda dan Yuna pun makan bersama.


"Yun, berkasnya ada di atasa meja ruang tamu, nanti kamu cek ya, saya mau mandi dulu.."perintah Nanda


Yuna mengangguk, "Ya Tuan.."


Waktu terus berlalu tiga puluh menit sudah Yuna berkutat dengan banyaknya berkas laporan keuangan. Nanda bilang jika ia curiga ada orang kantor yang sedang memanipulasi uang perusahaannya, jadi ia menyuruh Yuna untuk mengecek laporan keuangan itu satu persatu. Aneh, Yuna tidak menemukan keganjilan apapun dari semua laporan keungan itu, tapi masih ada beberapa berkas yang belum ia cek memang.


Yuna merasa lelah dan pegal, jadi ia berdiri dan berniat berkeliling apartemen atasannya itu.


Krekk...


Suara pintu terbuka dan keluarlah sosok tampan bak malaikat yang tak lain adalah bosnya, siapa lagi jika bukan Nanda.


"Sedang apa di sini..?"tanya Nanda sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih kecil di tangannya.


Yuna yang sedikit terhipnotis dengan penampilan Nanda dengan rambut basahnya, Yuna tau jika Nanda baru selesai mandi. Buru-buru Yuna menyadarkan diri dari lamunannya.


"Eh...?! Hem, saya ngantuk Tuan makanya jalan-jalan.."jawab Yuna dengan gelagapan.


Nanda melirik Yuna dengan curiga, "Ya udah sana balik kerja lagi.."perintahnya.


Yuna mengangguk lesu, berjalan ke arah sofa dengan loyo. Ia merebahkan dirinya di sofa, lalu melirik sekilas ke arah tumpukan berkas di atas meja.


Tak lama Yuna langsung terlelap begitu saja di atas sofa, berpapasan dengan Nanda yang baru keluar dari kamarnya.


Nanda memperhatikan wajah sekretarisnya yang sudah terlelap dengan rasa lelahnya.


"Maaf ya Yuna, saya juga tidak mengerti kenapa hati saya jadi tak menentu begini.."ucapnya sambil melangkahkan kakinya mendekati Yuna.


Nanda memperhatikan wajah polos Yuna, tak lama ia pun mengangkat bibirnya membentuk senyuman tipis.


"Cantik.."ucapnya.


Tak lama Nanda pun mengangkat tubuh Yuna dan membawanya ke kamar miliknya.


Ketika ia merebahkan tubuh Yuna di atas kasurnya, Nanda segera menyadarkan dirinya, entah mengapa saat ini hatinya seperti sedang berbunga-bunga.


plak...


Nanda menampar pipinya sendiri.


"Aww sakit, asem..."lirih Nanda pada diri sendiri sambil mengelus pipinya.


Nanda menghela nafasnya, hanya karena Yuna kenapa terkadang ia jadi terlihat bodoh kadang pula terlihat pintar.


Memperhatikan wajah Yuna lagi, Nanda menyibakkan rambut Yuna yang menutupi keningnya, lalu ia mencondongkan wajahnya.


Cup..


Nanda mengecup kecil dahi Yuna, lalu menutup tubuh sekretarisnya itu dengan selimut. Tak lupa Nanda juga mematikan lampu kamarnya setelah menyalakan lampu tidur di atas nakas.


Nanda memutuskan untuk tidur di kamar tamu saja, takut ia saja jika ia akan khilaf.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Berhubung ini hari libur Tristan berniat untuk joging sekitar komplek.


"Nad kau mau kemana.."tanya Tristan saat melihat istrinya memakai pakaian olahraga khusus ibu hamil.


"Ikut kamulah..."jawab sekenanya.


"Tapi Nad, aku tuh mau lari. Kamu kalau mau olahraga di rumah aja, oke..."tutur Tristan


"nggak, aku mau ngawasin kamu. Takut di jalan kamu lirik-lirik wanita lain, mentang-mentang tubuhku lagi jelek.."decak Nada


"Pikiranmu itu Nad, jelek banget. Mana pernah aku gitu..."ujar Tristan


"Ya aku gak pernah lihat kamu gitu emang, tapi siapa tau aja kamu beraksi pas aku gak ada.."


Tristan menghela nafasnya, lalu kembali mendudukan dirinya di sofa, "Ya udah aku gak jadi joging aja.."


"Kok gitu, kamu malu di ikuti sama aku. Mentang-mentang sekarang bentuk tubuhku kaya tahu bulat.."cecarnya, eh kok jadi sewot Nada.


Tristan mengusap wajahnya dengan kasar, "Bukan sayang, maksudku akukan mau lari, kalau sama kamu aku tidak akan jadi lari gimana dong.."ujar Tristan


"Ya udah tinggal jalan santai,.."Nada masih tetap kekeh dengan pendiriannya.


Tristan mengelus dadanya, sabar-sabar dalam hatinya.


Akhirnya pagi ini Tristan menemani sang istri berjalan santai keliling komplek, memang banyak wanita yang lirik-lirik ke Tristan namun ia sama sekali tak peduli, hanya saja Nada yang berkali-kali mengumapt dan berdecak kesal.


"Aku lelah.."ucap Nada saat sudah berjalan sampai di ujung komplek.


"Lalu...."


"Gendong..."Nada merentangkan kedua tangannya.


Ya ampun... mata Tristan membulat sempurna.


"Tapi.."


"Jangan mau enaknya aja, aku tuh lelah berjalan bawa dua bayi dalam perutku juga. Ayo aku gendong.."cecar Nada


Menarik nafasnya, "Baiklah ayo.."


Akhirnya Tristan menggendong Nada ala bridal style ke rumahnya, dalam perjanan banyak yang memperhatikan keduanya, tapi Nada tidak menghiraukannya, ia justru mengelus dan membalai wajah suaminya, ia seolah sedang memperlihatkan pada semua orang jika Tristan adalah miliknya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Tuan sudah bangun duluan.."tanya Yuna yang sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat, Nanda tengah duduk di sofa kamarnya dengan memperhatikan dirinya. Selama ini Yuna tau jika Nanda itu tipikal pria yang susah di bangunkan. Bahkan Yuna hampir setiap hari harus membangunkan Nanda.


"Kamu bisa lihat sendiri kan.."jawab Nanda


Yuna mengangguk paham, "Oh ya kok saya bisa tidur di kamar anda sih Tuan,"tanya Yuna dengan rasa tak enak.


"Kamu lupa jika tadi malam kamu ngigo..?"tanya Nanda dengan nada meyakinkan, padahal ia hanya berbohong, begitulah berbohong adalah salah satu keahlian Nanda.


"Masa sih.."tanya Yuna tak percaya.


"Kamu pikir saya berbohong gitu.."ucap Nanda kesal.


Yuna menggeleng, berusaha mempercayai bosnya itu, mungkin saja memang benar karena semalam Yuna memang merasa sangat lelah.


"Terus Tuan semalam tidur di mana.."tanya Yuna sedikit khawatir, karena saat ini Yuna tau ia tidur di kamar atasannya dengan selimut yang biasa Nanda gunakan.


"Tidur di kamar tamu, karena kamu tuh melukin saya terus gak mau di lepasin, saya bahkan sampai susah bergerak, jadi saya putuskan untuk pindah saja.."dustanya,


"Aduh, itu serius Tuan..."tanya Yuna khawatir


"Kamu pikir saya berbohong.."decak Nanda


"Saya minta maaf deh Tuan.."ucap Yuna merasa tak enak hati.


"Gimana ya..." Nanda tampak menimang-nimang jawabannya.


"Ada syaratnya sih, hari ini kamu temani saya makan malam di luar .."sambungnya


"Makan malam.. Ya udah deh saya bisa kok.."jawab Yuna


"Kalau gitu saya pulang dulu ya Tuan, saya masih ada urusan soalnya.."ucap Yuna


"urusan apa..?"


"Gak saya kasih tau, kan ini hari ini libur..."jawab Yuna.


Yuna beranjak keluar, di ikuti Nanda sampai depan pintu apartemennya.


"Naik apa kamu..."tanya Nanda


Yuna memperlihatkan aplikasi taksi onlina di ponselnya, "Taksi, tuh taksinya udah di depan.."


"Kamu khianatin saya Yuna.."ucap Nanda kesal.


"Lho kok..."


"Kenapa gak minta antar saya saja, kamu pikir saya tidak mampu mengantar kamu pulang.."decak Nanda


"Kan saya mau ke tempat rahasia, lagian ini hari libur Tuan istirahat saja.."tutur Yuna dengan meledek, membuat Nanda kesal.


"Dadah Tuan Nanda..."pamit Yuna,


Sialan, pagi-pagi ia sudah di buat kesal saja dengan sekretarisnya itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Kisah Nanda dan Yuna emang aku buat alurnya lambat, jadi aku berharap readera jangan bosan dulu ya..


Berikan komentarnya untuk part ini.


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Votenya juga boleh๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Tbc