
Sengaja pagi-pagi Davis menghampiri Nadilla di rumahnya, hari ini keduanya berencana untuk mencari cincin pernikahan. Setelah pertemuan keluarga itu, baik Davis maupun Nadilla memutuskan untuk menuju jenjang pernikahan.
Cinta..? jangan tanyakan hal itu. Rasa cinta itu belum ada di hati keduanya. Davis mau menikah demi memenuhi permintaan sang kakek. Lalu Nadilla sendiri ia berfikir mungkin dengan menikah ia bisa mengubur perasaan cinta pada Tristan.
"Aku tau kita menikah karena jodohkan, tapi bagiku pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang tak harus di nodai. Bisakah kita sama-sama belajar untuk saling mencintai.."ucap Davis sembari melajukan mobilnya ke toko perhiasan.
Nadilla melirik sekilas ke arah Davis, jika di lihat dari dekat pria itu memang terlihat tampan, rahangnya tegas, badannya tegap dan tinggi, selama Nadilla mengenalnya pria itu selalu berkata jujur dan apa adanya.
"ehem.."dehem Davis menyadarkan lamunan Nadilla.
"Iya, aku mengerti.."seru Nadilla.
Davis menganggukan, ia memberhentikan mobilnya ke sebuah toko perhiasan langganan Mommynya.
"Ayo.."seru Davis mengajak Nadilla turun.
Nadilla tersenyum tipis ia pun membuka pintu mobilnya.
"Aku tidak bisa bersikap romantis. Maaf, jujur aku belum pernah mempunyai kekasih, jadi kurang mengerti harus bagaimana bersikap. Tapi aku akan belajar..."seru Davis terus terang.
"Tidak masalah, jadilah dirimu sendiri..."sahut Nadilla
Davis dan Nadilla berjalan beriringan masuk menuju toko perhiasan.
"Pilihlah yang kau suka. Aku bukan orang yang pemilih, jadi aku akan menurut saja.."ucap Davis
"Baiklah.."sahut Nadilla, ekor matanya bergerak dua pasang cincin yang terlihat elegan dan sederhana. Nadilla menunjuk cincin itu, tak lama pelayan toko pun mengambilkannya, ia mengambil cincin itu lalu mencobanya, tepat cincin itu pas sekali di jari manisnya. Begitupun dengan Davis, pria itu pun melakukan hal yang sama seperti Nadilla.
"Kau yakin memilih yang itu.."tanya Davis, Nadila mengangguk.
"Apa kau tidak suka.."tanya balik Nadilla.
Davis terkekeh kecil, "Nothing.. Asal kau suka aku juga akan menyukainya.."
Glek.. Nadilla membulatkan matanya tak percaya pria seperti dirinya bisa sedikit merayunya. Davis pun mengeluar black card miliknya untuk membayar cincinnya.
🌹🌹🌹
Usai memeriksakan dirinya Nanda mengajak Rena untuk makan siang bersama. Rena mengatakan tidak ada yang di khawatirkan, lukanya juga sudah kering, dasar Nanda aja yang modus pengen deket Rena.
"Apa kabar kakakmu.."tanya Nanda basa-basi,
Nanda menganggukan kepalanya, "Baguslah, ku pikir ia akan melajang seumur hidup.."ucapnya, Rena tergelak.
"Kau sendiri kapan akan menikah.."sambung Nanda,
Rena terkekeh.."Aku.."
Nanda menganggukan kepalanya, "Nikah dengan siapa. Pacar aja gak punya.."
"Akulah.."sahut Nanda enteng, dasar pria raja gombal.
Rena mengerutkan keningnya, "Aku belum berfikir ke arah sana, aku masih ingin mengejar cita-citaku, meniti karierku. Kau tau aku juga berencana untuk melanjutkan pendidikanku.."jelas Rena.
Lemas deh Nanda, artinya belum apa-apa ia sudah di tolak. Rena ternyata wanita yang mempunyai ambisi tinggi.
Yuna, layaknya sekretaris sejati selalu menurut kemanapun Nanda pergi. Wanita itu tidak pernah mengeluh, meski terkadang ia menyadari atasannya itu kerap sekali sengaja mengerjai dirinya.
Di sebuah cafe tidak jauh dari rumah sakit Yuna memilih duduk sendiri tidak jauh dari Nanda dan Rena berada. Hampir tiga gelas ia menghabiskan minumnya namun atasannya itu juga belum bangkit dari tempatnya, entah apa yang keduanya bicarakan, mungkin jika di bawa sembari mengerjakan beberapa berkas di kantor sudah selesai. Yuna merasakan perutnya kembung karena terlalu banyak minum.
"Yuna.."
Yuna yang merasa namanya di panggil pun mendongak,
"Ardan.." pekik Yuna, wanita itu tersenyum tipis.
"Apa kabarmu.."seru Ardan, tanpa di persilahkan duduk pria itu duduk di sebrang Yuna.
Ardan merupakan teman Yuna semasa kuliah dulu. Keduanya kembali bertukar kabar, saling berbagi informasi dan cerita. Adanya Ardan mampu mengusir rasa bosen Yuna dalam menunggu Nanda dan Rena.
🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komen
Hadiahnya ya
Tbc